Kapan Ciko Jadi Kota Berbudaya

Antrean kendaraan mengular sampai Jl Tuparev perbatasan Kota/Kabupaten Cirebon. Diperkirakan kepadatan akan mencapai puncaknya menjelang pergantian tahun. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Antrean kendaraan mengular sampai Jl Tuparev perbatasan Kota/Kabupaten Cirebon. Diperkirakan kepadatan akan mencapai puncaknya menjelang pergantian tahun. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Cirebon Kota bisa dibilang masih kekurangan segala hal yang penting bagi kegiatan budaya. Entah itu galeri seni, museum, toko buku, taman, atau gedung pertunjukan, pembangunan di Cirebon Kota baru hanya sebatas pembangunan infrastrukturnya saja untuk kota Metropolitan Cirebon Raya seperti Cirebon Kota kurangnya museum, gedung pertunjukan dan area budaya masih menunjukan jalan panjang menuju Cirebon sebagai kota budaya.

Apa yang membuat sebuah kota menjadi kota budaya? Menurut World Cities Culture Report yang dirilis oleh lembaga kebudayaan dunia World Cities Culture Forum, sebuah kota layak disebut sebagai kota budaya jika fasilitas kebudayaan dianggap sama penting dengan fasilitas keuangan atau perdagangan.

“Kebudayaan dalam segala bentuknya adalah kunci yang membuat sebuah kota menjadi menarik bagi orang-orang terdidik, dan karenanya kebudayaan itu menjadi bisnis yang membuka lapangan kerja,” tulis laporan itu.

Ada banyak elemen yang membentuk kota budaya. “Baik itu toko rekaman, tempat konser musik skala besar atau kecil, perpustakaan dan toko buku, museum dan galeri seni, taman dan ruang terbuka hijau, lapangan sepak bola, jumlah pelajar, atau bahkan jumlah kafe dan bar,” lanjut laporan itu. Ada beberapa kota di dunia yang layak dijadikan sebagai kota budaya.

Paris yang berpopulasi 2,4 juta orang ini mempunyai 320 gedung bioskop, terbanyak di seluruh dunia. Kota ini juga punya 1.046 galeri seni, juga terbanyak di dunia. Paris juga memiliki 830 perpustakaan umum, lagi-lagi terbanyak di dunia. Ibukota Perancis ini juga menjadi kota yang memiliki 1.025 toko, terbanyak kedua di dunia. Paris juga punya 137 museum.

Sedangkan London di Inggris yang punya penduduk sekitar 8,5 juta orang, unggul dalam jumlah museum, yakni 173. Selain itu, ibu kota Inggris ini punya 857 galeri seni, 383 perpustakaan umum, 108 gedung bioskop, 802 toko buku, dan 566 lokasi layar tancap.

New York di Amerika Serikat unggul dalam jumlah gedung pertunjukan. Kota berjuluk Big Apple ini punya 420 gedung teater. Setiap tahunnya, pertunjukan teater di kota ini berhasil mengumpulkan penghasilan USD 28 juta dari penjualan tiket saja. Selain gedung pertunjukan, kota dengan 8,4 juta penduduk ini punya 721 galeri seni, 220 perpustakaan umum, dan 131 museum.

Di Asia, Tokyo dianggap sebagai kota paling “berbudaya”. Kota berpopulasi 13,3 juta orang ini punya 688 galeri seni, 377 perpustakaan umum, 230 gedung pertunjukan teater. Ibukota Jepang ini dinobatkan sebagai kota dengan toko buku terbanyak di dunia dengan jumlah gerai sebanyak 1.675.

“Kebudayaan adalah salah satu faktor penentu kesuksesan sosial dan ekonomi di berbagai kota dunia, yang sayangnya kerap kurang diteliti dan seringkali diremehkan,” ujar Paul Owens, dari BOP Consulting, konsultan kebudayaan dan ekonomi kreatif, seperti dikutip The Guardian.

Bagaimana dengan Cirebon Kota? 

Keragaman budaya dan etnis di pasar ini tidak lepas dari sejarah panjang yang mempertemukan beragam suku dan bangsa di tanah Cirebon sejak dulu kala.

 

Seperti yang sudah diketahui bahwa hubungan keraton-keraton Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terjalin lama, menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa berada di wilayah Cirebon sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri.

Cirebon Kota memang sedang menggeliat dan berbenah. Namun, lagi-lagi yang dibangun adalah infrastruktur fisik, kebanyakan untuk transportasi. Sedangkan infrastruktur kebudayaan, mengutip Paul Owens, lagi-lagi diremehkan.

Siapa duga gaya arsitektur art deco pun pernah dimiliki masyarakat Cirebon pada sekitar tahun 1880-an. Ini berarti gaya arsitektur tersebut melampaui selera orang-orang Eropa dan Amerika yang baru mengembangkannya pada sekira tahun 1920-an. Kini, bangunan gaya 1920-an di Kota Cirebon telah hilang.

Selain itu, Cirebon Kota juga masih kekurangan museum. Sampai detik ini belum memiliki museum representatif. Hal ini menjadi kendala untuk melestarikan dan merawat benda-benda pusaka peninggalan sejarah. Ketua Kompepar Keraton Kasepuhan yang juga Kepala Pemandu, Iman Sugiman mengatakan, keberadaan museum cukup penting untuk melindungi benda-benda pusaka.

Selama ini, keraton memiliki museum dengan perawatan yang seadanya. Biaya untuk perawatan benda pusaka didanai secara swadaya. “Museum itu tidak hanya untuk menyimpan benda pusaka, tapi secara luas bisa menjadi tempat untuk memperkenalkan sejarah dan budaya yang ada di Kota Cirebon,” ujar Iman.

Belum lagi, sejauhmana nasib Museum Diorama Cirebon Kota?

Jalan Cirebon Kota untuk menjadi kota berbudaya memang masih panjang, bahkan bisa dikatakan tertutup kabut. Hingga sekarang, pemerintah memang masih lebih mengutamakan infrastruktur untuk transportasi. Jelas masih akan lama pula kita membaca Cirebon Kota sebagai kota berbudaya versi World Cities Culture Forum. (*)

 

 

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya