oleh

Kapolri Sangkal 250 Batang Dinamit Dicuri Teroris

JAKARTA – Kasus pencurian 250 batang dinamit milik PT Multi Nitrotama Kimia Kamis (27/6) lalu hingga kemarin belum menunjukkan titik terang. Pencarian menggunakan metode razia masih terus dilakukan. Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan bakal mengevaluasi pengamanan pengiriman barang sejenis.

Hal itu disampaikan Timur usai apel kenaikan pangkat berkala personel Polri di Rupatama Mabes Polri kemarin. Dari laporan yang diterimanya, pengamanan terhadap distribusi bahan peledak itu memang sangat minim. “Ada beberapa kendaraan cuma diamankan dua orang. Jadi kurang, dan akan ada evaluasi,” ujarnya.

Timur meminta perusahaan tidak ragu untuk meminta pengawalan dalam jumlah yang cukup. Sebab, barang yang dikirim termasuk kategori berbahaya dan sangat rawan disalahgunakan. Jika sampai ke tangan yang salah, dinamit bisa membahayakan keamanan.

Meski begitu, Timur tidak mau berspekulasi mengenai siapa pelaku pencurian dinamit itu. Terlebih, setelah beberapa pihak mengait-ngaitkan pencurian tersebut dengan aksi teror. “Kami tidak bicara prediksi. Kasih kesempatan tim untuk bekerja, nanti hasil nya akan kami laporkan kepada masyarakat,” lanjut alumnus Akpol 1978 itu.

Wakapolri Komjen Nanan Soekarna mengatakan, tim yang ditugaskan memburu keberadaan dinamit tersebut juga sedang menganalisis motif pecurian. Sebab, belum tentu pencurian tersebut direncanakan dengan sasaran utama dinamit.

“Bisa saja itu pelakunya bajing loncat biasa yang tidak tahu kalau yang dicurinya adalah dinamit,” ucapnya. Jika itu yang terjadi, dia berharap para pelaku tidak akan menggunakan dinamit tersebut untuk tujuan lain.

Saat ini, tim dari Polda Metro Jaya, Polda Jawa Barat, Bareskrim Polri, dan Densus 88 masih bersiaga di lapangan. Mereka mengupayakan agar minimal dinamit itu tidak sampai keluar dari Jawa Barat. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar menyatakan, penelusuran dilakukan juga pada rute distribusi dinamit tersebut.

Selain itu, pihaknya juga memeriksa kantong-kantong bajing loncat di Jawa Barat. Hingga saat ini, 12 orang saksi diperiksa terkait pencurian tersebut Dari keterangan awal, diperoleh informasi jika truk-truk tersebut sejak berangkat hingga diketahui kecurian berhenti lima kali.

Para pencuri beraksi dengan menyobek terpal dengan lebar sobekan lebih dari satu meter. Mereka menganbil dua buah dus masing-masing berisi 25 kilogram dinamit. Boy membantah adanya informasi jika selain dinamit, pencuri juga menggasak detonator. “Laporan yang masuk ke kami tidak ada detonator yang hilang,” lanjutnya.

Detonator dinamit tersebut dikemas terpisah, dan tidak masuk dalam daftar barang yang hilang. Menurut Boy, tidak menutup kemungkinan pencurinya terekait pelaku teror. Namun, hingga kini penelusuran pihaknya belum menghasilkan kecurigaan ke arah sana. Pihaknya juga menelusuri kemungkinan keterlibatan orang dalam PT MNK dalam kasus tersbeut.

Di lain pihak, masyarakat diminta untuk ikut membantu polisi mengungkap keberadaan dinamit yang hilang itu. Jika sampai jatuh ke tangan yang salah, dinamit itu bisa sangat berbahaya. Professional security adviser Artha Ganesha Security Wira Buana mengungkapkan, efek ledakan dinamit tidak bisa dikategorikan low explosive. Meskipun, level dinamit tergolong paling rendah di antara bahan peledak sejenis.

Dinamit umumnya berukuran panjang sekitar 20 sentimeter dengan diameter tabung 2,5 inci. “Satu dinamit itu bisa bikin pipa besi pecah. Apalagi 250 batang, jembatan bisa roboh,” terangnya. Karenanya, sangat berbahaya jika sampai jatuh ke tangan teroris.

Selain itu, dinamit juga tidak harus menggunakan detonator agar bisa meledak. Selama ini, di area pertambangan, dinamit bisa diledakkan dengan detonator maupun denmgan sumbu. Bahkan, sumbunya pun bisa tetap menyala meski berada di dalam air.

Wira juga menilai standar keamanan yang diterapkan dalam pengiriman dinamit itu sangat buruk. Sebagai bahan peledak, dinamit memiliki standar tersendiri dalam pengangkutan dan distribusi. “Biasanya ditaruh di peti khusus yang memliki sirkulasi udara yang baik,” lanjutnya.

Peti itu juga didesain untuk tidak bisa dipindahkan dengan mudah untuk menghindari goncangan berlebih. Jika ditaruh di kardus, sudah jelas tidak aman. “Apalagi diletakkan di truk yang hanya ditutup terpal,” ucapnya.

Sebagai perbandingan, tambahnya, distribusi pupuk urea saja dilakukan dengan sangat ketat karena bila dicampur dengan bahan kimia tertentu bisa menghasilkan bom. Maka, jika distribusi dinamit yang sudah jelas merupakan bahan peledak dilakukan dengan asal-asalan, tentu ada yang salah dengan perusahaan pengirimnya.

Kasus hilangnya dinamit tak lepas dari perhatian parlemen. Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mengatakan, penanganan kasus tersebut harus menjadi prioritas oleh kepolisian. “Dengan berita ini saja sudah menggelisahkan masyarakat. Ini harus diusut tuntas siapa yang bertanggung jawab,” kata Tjahjo.

Menurutnya, hilangnya dinamit dalam rangkaian perjalanan tersebut merupakan persoalan yang serius. Apalagi jika truk yang membawa dinamit tersebut disertai dengan pengawalan yang sesuai protap namun bisa kehilangan oleh aksi seperti bajing loncat yang merampas di atas truk yang berjalan.

Sekjen PDI Perjuangan itu mengatakan, bisa ada gelagat hilangnya dinamit tersebut karena sebuah sabotase yang terencana. “Kalau sampai ada kelalaian cermat dari pengawalan yang memadai ini bisa masuk kategori kesengajaan untuk hilang dan ada agenda strategis yang terencana,” kata Tjahjo.

Senada, Ketua Komisi III Gede Pasek Suardika juga mendukung gerak cepat yang dilakukan kepolisian. Pasalnya, bahan peledak itu bisa membahayakan jika jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggug jawab. “Ini akan sangat rawan penyalahgunaan,” kata Pasek.

Menurut politikus Partai Demokrati itu, tidak menutup kemungkinan dinamit-dinamit tersebut digunakan untuk aksi-aksi yang destruktif, seperti tindakan terorisme. Gerak cepat dari aparat kepolisian untuk mengusut, kata Pasek, juga untuk memberikan jaminan dan tidak menimbulkan rasa tidak aman masyarakat. “Harus dilacak dan diperjelas ke mana dinamit tersebut, sebab hanya pihak-pihak tertentu saja yang memerlukan dinamit,” katanya. (byu/fal)

News Feed