Kaprabonan Pelal Lebih Awal, Pj Walikota Ingin Agenda Budaya Cirebon Mampu Tarik Wisatawan

Sultan Kaprabonan, Pangeran Hempi Raja Kaprabonan saat prosesi panjang jimat, Selasa malam (20/11). FOTO:JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBONSultan Kaprabonan, Pangeran Hempi Raja Kaprabonan saat prosesi panjang jimat, Selasa malam (20/11).FOTO:JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

CIREBON-Kasultanan Kaprabonan menggelar prosesi tradisi malam pelal atau panjang jimat, Selasa (20/11) malam. Acara itu dihadiri pula oleh Pj Walikota Cirebon Dr H Dedi Taufik MSi dan sejumlah undangan. Prosesi pelal dimulai dengan mengarak Keris Ki Jagasatru dan diikuti oleh benda pusaka serta nasi jimat dan buah buahan.

Sultan Kaprabonan Dr Ir Pangeran Hempi Raja Kaprabonan MP mengatakan, peringatan malam pelal di Kaprabonan berbeda dengan keraton lain. Karena digelar lebih dulu, ini sudah terjadi persis tahun 2012. “Kami tidak berdasarkan tanggal Aboge. Tapi malam tanggal 12 Rabiul Awal tahun hijriah. Kami berdasar kalender nasional,” ucap Hempi kepada Radar Cirebon.

Menurut Hempi, dalam peringatan Maulid Nabi, selama bulan Rabiul Awal sah-sah saja diselenggarakan peringatan maulid. Bahkan ada acara di situs trusmi menggelar peringatan maulid di tanggal 19 Rabiul Awal. Jadi itulah peringatan maulid bisa dilakukan tanggal berapa saja.

Dijelaskan Hempi, Kaprabonan saat ini sudah bertahta sampai sepuluh generasi keturunan. Yang diawali dari anak pertama dari Kasultanan Kanoman. Namun dalam perjalanan setelah ayahanda meninggal tidak tahu menahu diganti dengan adiknya. Begitu pulang dari perantauan. Pada tahun 1966 akhirnya dengan legowo hijrah ke arah timur di keprabonan.

“Beliau sebagai pandito agama islam. Para sultan yang ada di Cirebon berguru pada kakaknya yang tertua mempelajari agama Islam. karena beliau bercita cita ingin melanjutkan amanah leluhurnya Sunan Gunung Jati,” jelasnya.

Dijelaskan Hempi, perjalanan peringatan hari maulid dilakukan sejak dahulu. Tradisi kertaon di cirebon dengan diiringi acara sakral panjang jimat. “Di sini sangat sederhana. Tapi lebih penting mamaknai lahirnya dan wafat rasul,” ungkapnya.

Acara ini mengingat kepada rasul dalam mengikuti tauladan nabi sampai bisa menjadi manusia terbaik. “Dalam malam pelal ini kami menyiapkan pasukan kirab mengarak nasi jimat nasi kuning dan uduk dan buah buahan yang menjadi hidangan masyarakat. kita doakan dengan marhabanan supaya berharap menjadi manusia terbaik,” ulasnya.

Pj Walikota Cirebon Dr H Dedi Taufik MSi mengapresiasi tradisi pelal atau panjang jimat sebagai bagian khasanah budaya masyarakat cirebon. Dia berharap keberadaan keraton cirebon harus mendunia dengan syiar agama.

“Kalimat sunan gunung djati ingsun tutip tajug lan pakir miskin. kita menjalankan amanah dan syiar. Tajug syiar dan fakir miskin mengingat sesama manusia. Ini momen penting syarat makna yang harus diketahui generasi muda,” tandasnya.

Dikatakan Dedi, saat ini generasi muda sudah kehilangan nilai budaya. Maka dari itu, ini momentum penting dalam melakikan ekspansi perubahan di jaman digitalisasi genrasi muda paham nilai luhur. “Kita sudah selayaknya pesan dan makna panjang jimat ini. Tentu ini acara mendukung program kota cirebin sebagai wisata religi. Sejalan program jabar juara lahir batin,” ucapnya. (jml)