Kartini-Kartini Cirebon yang Menginspirasi (3)

Tak Pedulikan Cirbiran, 7 Tahun Didik Anak Jalanan di Rumah Singgah

555
Mirah (52) bersama anak jalanan di rumah singgah. Foto: Mike/Radar Cirebon

KARTINI masa kini yang menginspirasi adalah Mirah (52), wanita tangguh pendidik anak-anak jalanan di Rumah Singgah RW 3 Dukuh Semar, Kelurahan Kecapi, Kota Cirebon.

Di balik kesederhanaan, ada niat mulia yang terbesit tutur dan ucapnya. “Bukan buat Mamah, semua untuk anak-anak. Supaya mereka bisa hidup lebih baik,” ujar Mirah, atau yang akrab disapa Mamah Iyah, Kamis (20/4).

Mirah, seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan diri mengurus anak-anak jalanan di Rumah Singgah Dukuh Semar binaan Dinas Sosial dan Yayasan Cirebon Peduli Anak Bangsa (CPAB). Hampir 7 tahun Mirah menjalani kegiatan itu. Berawal saat dirinya ditemui sejumlah mahasiswa yang mendidik anak-anak jalanan di kawasan terminal Harjamukti.

“Suami meninggal, untuk bantu kehidupan sehari-hari, anak saya cari uang dengan mencari rongsokan, nah ketemu anak-anak jalanan lainnya. Mereka belajar di terminal sama mahasiswa yang sukarela mengajar. Karena semakin banyak dibawa kesini dan Alhamdulillah ada dari dinas sosial juga yang bantu,” katanya.

Mirah ingat, saat itu ada sekitar 25 orang anak yang dibina di Rumah Singgah binaan Dinas Sosial Kota Cirebon. Belajar pun masih dengan fasilitas yang seadanya. “Masih pakai alas dari barang bekas,” ceritanya.

Lambat laun, para donatur pun silih berganti memberikan bantuan. Baik berupa uang maupun kebutuhan sekolah lainnya seperti beasiswa untuk melanjutkan pendidikan.

Saat ini, ada sekitar 106 anak yang tergabung dalam binaan Rumah Singgah Dukuh Semar. Rata-rata usia sekolah mulai SD sampai SMA. Mereka berasal dari berbagai kalangan.

Mulai anak jalanan, anak yatim, piatu, anak rentan, anak putus sekolah, hingga anak-anak yang pernah terlibat obat-obatan terlarang. Beragam karakter dan sikap dari anak-anak tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Mirah.

Ia juga sempat jatuh sakit. “Saya pernah sakit lambung dan pembengkakan hati, karena capek mendidik anak-anak seperti ini tidak mudah. Harus tahan emosi, tapi juga harus tegas,” ungkap wanita yang sehari-hari bekerja serabutan itu.

Selama mengelola dan mendidik anak-anak di Rumah Singgah itu Mirah kerap kali mendapat omongan dari orang.

“Awalnya memang dikira LSM, modus, uangnya dimakan sendiri lah, omongan-omongan begitu memang sering dan masih ada. Tapi saya percaya apapun demi kebaikan pasti ada jalan,” ungkapnya.

Selama mendidik anak-anak jalanan itu, Mirah tidak sendiri. Ia dibantu dengan relawan yang kebanyakan dari rekan-rekan mahasiswa dan Dinas Sosial.

Setiap minggu, mereka biasanya rutin kumpul untuk mendapatkan materi belajar dari para relawan. Bukan hanya belajar saja, beragam keahlian dan keterampilan pun diberikan. “Saya ingin anak-anak maju, punya prestasi dan jangan merasakan hidup susah,” tuturnya.

Namun sayang, kegiatan satu minggu sekali itu terpaksa terhenti karena Rumah Singgah yang kini ditempati rusak diterjang banjir beberapa waktu yang lalu.

Kini, Mirah dan ketiga anak kandungnya tinggal di kontrakan kecil tak jauh dari Rumah Singgah. “Karena banyaknya warga sini, ada sebagian yang pulang ke rumahnya. Belum ada kegiatan lagi karena rumah singgah masih rusak,” katanya.

Mirah berharap, rumah singgah yang dijadikan tempat belajar para anak-anak jalanan itu bisa kembali berfungsi.

“Supaya anak-anak bisa belajar lagi. Mereka masih mempunyai harapan untuk kehidupan selanjutnya. Saya berharap pemerintah peduli akan masa depan mereka,” harapnya. (mik)