Kaya Masjid dengan Arsitektur Kuno

1642

grfs-masjidCIREBON memiliki banyak masjid kuno peninggalan sejarah ratusan tahun silam. Hal ini menandakan Cirebon menjadi daerah penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Dari sekian banyak masjid, tahukan mana masjid pertama kali yang dibangun di padukuhan Cirebon?

Sejarawan, Mustaqim Asteja menyebutkan, arsitektur bangunan masjid di Cirebon sudah banyak berubah, dan hanya beberapa saja yang masih terjaga orisinalitasnya. Hanya ada beberapa masjid yang masih bisa dibilang kuno yaitu Masjid Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Dalam Naskah Tajug Pejlagrahan disebut sebagai tempat ibadah pertama yang dibangun oleh Pangeran Walangsungsang, setelah membuka padukuhan Cirebon. “Hanya memang sulit merekonstruksi keaslian bangunan masjid pejlagrahan seperti bagaimana? Karena sudah banyak direnovasi,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (14/1).

Ada beberapa fakta unik masjid kuno yang berdiri di Cirebon. Pada umumnya, nama masjid tidak menggunakan bahasa arab. Para ulama zaman dulu, lebih memilih dengan nama-nama sesuai dengan kearifan lokal. Menurut Mustaqim, itu karena prinsip dakwah Islam yang dibawa oleh Sunan Gunung Djati yang disampaikan dengan bijak bersinergis dengan budaya setempat.

Filologi Naskah Cirebon, Muh Muktar Zaidin menjelaskan, penggunaan istilah tajug lebih tua daripada mesigit. Menurutnya, penggunaan nama masjid yang tidak berbahasa arab, karena memang saat itu para wali lebih mengutamakan dakwah secara substansi. Sehingga dakwahnya bisa mengena kepada masyarakat. Kata tajug sendiri, secara leksikal berarti pemikiran. Sementara secara maknawi, tajug memiliki arti ditata dan dijugjug. Itu karena di tempat itu masyarakat ditata hatinya, akidahnya dan juga pemikirannya.

Apabila dirunut sejarahnya, Masjid Pejlagrahan yang diperkirakan dibangun setelah babad Cirebon tahun 1445, menjadi tempat ibadah pertama yang didirikan di Cirebon. Kemudian sejak itu, Cirebon menjadi salah satu tempat yang menarik banyak orang untuk berkunjung. Kemudian datang rombongan dari Arab Panjunan yang mendirikan Tajug Abang yang sekarang dikenal Masjid Merah Panjunan.

Karena makin berkembangnya padukuhan Cirebon, kemudian menjadi Pekuwon, Katumenggungan hingga akhirnya menjadi kerajaan. Maka dari sana dipandang perlu untuk membangun masjid yang lebih luas. Dari sanalah kemudian berdiri Masjid Sang Cipta Rasa. Ada lagi Masjid Pesambangan di Pekalangan, yang juga salah satu masjid kuno. Hanya, lagi-lagi sulit merekonstruksi keaslian dari bangunan tersebut. “Yang masih bisa dibilang asli bangunannya, dan masih bisa kita lihat saat ini, hanya Masjid Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan,” ungkap Mustaqim menambahkan.

Dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari mencatat Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun oleh orang Cirebon dan Demak secara gotong royong sebanyak 500 orang, dipimpin Wali Sanga. Pengerjaannya diawasi oleh Sunan Kalijaga dan arsitek dari Demak bernama Raden Sepat. Sementara itu, menurut Filologi Naskah Cirebon, Muh Muktar Zaidin menjelaskan, dalam inkripsi tertulis bahwa nama Masjid Sang Cipta Rasa itu disebut juga Masjid Agung Pakungwati.

Menurut Sejarawan Mustaqim Asteja, ada ciri-ciri masjid tradisional di Indonesia yaitu denahnya berbentuk segi empat, berdiri di atas fondasi pejal (massive) yang letaknya agak tinggi, memiliki atap tumpang yang terdiri dari dua sampai lima tingkat yang semakin mengecil ke atas. Kemudian di sisi sebelah barat atau barat laut terdapat bangunan yang menonjol yang disebut mihrab. Sementara di bagian depan dan kadang-kadang di kedua sisinya ada serambi yang terbuka atau tertutup. Selain itu, halaman sekitar masjid dikelilingi oleh tembok dengan satu atau dua pintu gerbang. (jml)

BAGIKAN