Kebanjiran, Pelajar SD Ikut UAS tanpa Alas Kaki

Pelajar di SDN 1 dan 2 Eretan Wetan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) di atas genangan rob. FOTO:KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU– Ratusan pelajar SDN 1 dan 2 Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) dengan keadaan dikepung banjir pasang air laut atau rob, Rabu (6/12). Seluruh sudut sekolah, termasuk seluruh ruang kelas yang digunakan untuk pelaksanaan ujian, hampir merata tenggelam oleh banjir rob dengan ketinggian 10-30 sentimeter. Ruang guru, tata usaha, toilet, sampai halaman sekolah, juga tidak terhindar dari terjangan banjir rob.

Sampai-sampai, para siswa yang masuk ke ruang kelas hendak mengikuti ujian terpaksa tidak menggunakan alas kaki alias nyeker. “Sepatunya dicopot semua. Kalau dalam keadaan basah masih dipakai terus, kasihan anak-anaknya, khawatir pada kena sakit gatal-gatal,” ujar Rahmat, salah seorang guru SDN 2 Eretan Wetan.

Sepengetahuannya, banjir rob sudah mulai terjadi Senin (4/12) atau bersamaan dengan hari pertama pelaksanaan UAS. Mula-mula, genangan air tidak sampai masuk ke dalam ruang kelas. Tapi hari berikutnya, banjir pasang air laut semakin tinggi. Kondisinya akan lebih parah saat turun hujan. “Hari pertama dan kedua memang belum ada kendala. Sekarang, karena sudah mulai parah, yang kita takutkan lembar jawaban maupun soal jatuh ke lantai. Jadinya basah. Konsentrasi anak-anak ikut terganggu,” terang dia.

Untuk menyiasatinya, waktu pelaksanaan UAS akhirnya dipercepat dengan menyatukan dua mata pelajaran yang diujikan. Jika seharusnya mulai pukul 07.30 sampai 11.30, dengan diselingi istirahat, kini anak-anak bisa segera pulang pada pukul 09.30. “Bukan apa-apa, kalau ada waktu istirahatnya, nanti anak-anak malah main air. Jadi bukannya konsentrasi ke ujian. Namanya juga anak-anak,” tutur Rahmat.

Kuwu Desa Eretan Wetan, H Edi Suhedi mengaku, imbas rob, kondisi dua SD bertetangga itu sangat memprihatinkan. Selain sekolahan dikepung naiknya air rob, rumah-rumah para siswa juga mengalami hal yang sama. Hingga terpaksa seluruh siswa belajar di rumah dengan kondisi terendam air. “Genangan air rob terjadi akibat kondisi lingkungan sekolahnya yang rendah dari permukaan jalan maupun rumah-rumah penduduk. Sehingga, ketika terjadi rob, air mudah masuk tapi sulit keluar. Solusi satu-satunya ya ditinggikan. Halaman sekolah sama bangunannya,” saran dia. (kho)