Kenapa Rusdi Kirana Jengkel Kepada Boeing

Lion Air 737 MAX 8 1A210 Flyaway - August 13, 2018

Pendiri dan Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana belum mengubah keputusannya terkait pembatalan pemesanan pesawat Boeing 737 Max.

“Aku merasa dicurangi. Dokumen-dokumen pencabutan sedang dipersiapkan, semuanya masih dalam pertimbangan,” sebut Rusdi kepada BloombergKamis (6/12/2018).

Lion merupakan salah satu pemesan terbesar dari tipe baru Boeing, yaitu 737 Max. Model awal pesawat tipe itu dikirim pada Mei 2017. Lion adalah pembeli terbesar ketiga setelah Southwest Airlines dan Flydubai.

Boeing 737 Max pesanan Lion akan dikirim bertahap, tujuh pesawat pada tahun depan, 24 pesawat pada 2020 dan 35 sisanya akan dikirim pada tahun berikutnya, demikian menurut Head of Valuations untuk Flight Ascend Consultacy.

“Lion Air adalah pelanggan yang berharga dan kami mendukung mereka selama masa yang sulit ini,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan. “Kami turut berdukacita atas orang-orang yang jadi korban kecelakaan ini. Keselamatan tetap jadi prioritas kami. Kami mengambil setiap langkah untuk memahami segala penyebab kecelakaan bersama dengan tim investigasi dan pihak berwenang yang terlibat.”


Kecelakaan JT-610 yang menggunakan pesawat tipe 737 Max 8 cukup membebani saham pabrik yang berkantor di Chicago ini. Saham Boeing telah menurun 4,7 persen sejak kecelakaan pada 29 Oktober 2018 yang menewaskan 189 orang.

Serikat pilot Amerika Serikat (AS) mempertanyakan mengapa kru pesawat tidak dilatih soal fitur anti-stall, sistem darurat otomatis yang membuat pesawat punya daya angkat dan tidak menukik tajam, fitur yang jadi keunggulan 737 Max 8.

Serikat pilot juga mengkritik Boeing yang tak menyertakan soal anti-stall di buku manual atau saat pelatihan penerbangan Max.

Varian 737 MAX menjadi produk primadona Boeing sebagai pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah perseroan. Secara akumulasi, produk ini dipesan hampir 4.700 unit oleh lebih dari 100 maskapai di seluruh dunia.

Laporan di situs perusahaan menyebutkan, ada 4.654 backlog atau jaminan pemesanan untuk tipe 737. Catatan Boeing menyebutkan Lion Air memesan 201 unit armada jenis 737 MAX sejak order pertama yang dilakukan pada 22 Februari 2012.

Hingga saat ini, yang telah dikirimkan Boeing kepada Lion Air sebanyak 13 unit pesawat yang dikirim sejak 16 Mei 2017. Seri MAX merupakan jenis yang paling banyak dipesan oleh PT Lion Mentari Airlines, pengelola bisnis Lion Air kepada Boeing.

Sebagaimana diwartakan The Strait Times, ancaman untuk mengagalkan pesanan 190 pesawat yang belum datang itu bisa jadi untuk menekan Boeing. Pembatalan tentu butuh proses negosiasi yang panjang. Banyak maskapai yang berniat untuk membatalkan pesanan, namun para ahli menyebut pembatalan sepihak agak mustahil dalam dunia penerbangan.

Lion bukan maskapai pertama yang bermasalah dengan produsen pesawat setelah terjadi kecelakaan. Air Asia Group berseteru dengan Airbus setelah anak perusahaannya di Indonesia kehilangan A320 pada 2014. Pengiriman pesawat tetap dilanjutkan meski hubungan kedua perusahaan tak bisa pulih sepenuhnya.

Rusdi menilai Boeing mencoba mengalihkan perhatian publik dengan menyalahkan Lion Air atas kecelakaan akhir Oktober 2018 yang lalu.

Ia juga menganggap komentar Boeing sangat tidak etis. Seharusnya, kata dia, seluruh pihak tidak boleh berkomentar terhadap laporan pendahuluan (preliminary report) dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Meski tidak secara spesifik menyebutkan penyebab jatuhnya pesawat, KNKT mengungkap adanya kendala pada pilot dalam mengatur sensor posisi (angle of attack/AOA) pada pesawat.

Awalnya, KNKT sempat menyebut pesawat PK-LQP itu sudah tidak laik terbang sejak penerbangan Denpasar-Cengkareng. Dalam kondisi darurat, menurut KNKT pilot sebaiknya tidak menerbangkan pesawat atau pilihan lainnya adalah melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat, bukan meneruskan penerbangan.

Namun, pernyataan itu diralat satu hari setelah pengumuman laporan awal. KNKT kemudian menyebut pesawat PK-LQP masih laik terbang, hanya saja bukan berarti pesawat tidak bisa lepas dari masalah ketika mengudara.

“Kami adalah salah satu pelanggan terbesar mereka. Saat ini, kami sedang dalam situasi yang sulit. Sebagai mitra, mereka seharusnya membantu, bukan malah memberikan kesan negatif kepada kami,” tutur Rusdi.

Rencana Rusdi membatalkan pembelian pesawat ini tampaknya tidak bisa dilakukan sepihak. Ini karena pembatalan juga harus dinegosiasisikan dengan Boeing, terlebih jumlah pesawat Boeing 737 Max 8 yang dipesan Lion mencapai 188 unit. Meski begitu, Rusdi agaknya keukeuh membatalkan seluruh pesanannya itu.

“Kami siap menangani konsekuensi yang akan datang nantinya, apa pun itu,” tegas Rusdi.

 

Boeing Company merespons laporan itu dengan mengungkap bagaimana pilot dan teknisi PK-LQP melakukan perbaikan sistem AOA pada penerbangan Denpasar-Cengkareng, satu hari sebelum penerbangan nahas tujuan Cengkareng-Pangkalpinang, 29 Oktober 2018.

Dalam rilisnya, Boeing mengetahui adanya informasi penggantian sensor AOA dalam penerbangan tersebut. Namun, Boeing sekilas mempertanyakan laporan KNKT dengan menanyakan apakah sensor diganti dengan alat yang baru atau bukan.

Sebab, sensor yang telah diganti itu nyatanya tetap memberikan masalah pada penerbangan selanjutnya.

Boeing kemudian menyasar bagaimana pilot mengatasi persoalan sensor posisi dengan mematikan sistem stabilisator trim otomatis untuk selanjutnya diatur dalam posisi manual. Menurut mereka, langkah ini sudah sesuai dengan panduan operasional yang dibagikan kepada semua kru pesawat yang menerbangan 737 Max.

Dalam garis besarnya, Boeing seolah mengarahkan kesalahannya pada kemampuan pilot dalam menerbangkan pesawat. Apalagi, Boeing tetap bersikeras bahwa sistem penerbangannya dibuat dengan pertimbangan keamanan yang sangat matang.

Rilis Boeing ini yang disinyalir membuat Rusdi mengamuk. “Secara etis, seharusnya tidak ada seorang pun yang memberikan opini mereka tentang laporan awal,” sebutnya, masih kepada Bloomberg.

“Aku adalah salah satu pelanggan terbesar mereka. Kami saat ini sedang dalam posisi sulit. Sebagai mitra, mereka seharusnya membantu kami, bukan memberi kesan negatif kepada kami,” tegasnya.

Lion Air adalah pemesan pertama terbanyak model terbaru Boeing ini. November 2011, Rusdi mengajukan pemesanan 230 pesawat Boeing dengan nilai total mencapai $21,7 miliar AS atau setara Rp195,3 triliun (asumsi nilai Dolar AS ketika itu pada posisi Rp9.000).

Rusdi memiliki target untuk memesan hingga 403 pesawat Boeing. Target itu membuat Lion Air masuk dalam deretan ketiga pemesan model 737 Max terbanyak setelah Southwest Airlines dan Flydubai.

Boeing kemudian memberikan Lion Air pelayanan terbaiknya. Model 737 Max 8 pertama kali diberikan kepada Lion Air pada Mei 2017. Lion Air juga tercatat sebagai maskapai pertama di dunia yang menerbangkan pesawat tersebut.

Untuk memenuhi pesanan itu, Boeing masih harus mengirimkan sekitar 190 pesawat 737 Max 8 lagi kepada Lion Air. George Dimitroff, Kepala Valuasi Flight Ascend Consultancy menyebut Boeing bakal mengirim tujuh pesawat pada tahun depan, diikuti dengan 24 pesawat lainnya pada 2020, dan 35 pada 2021.

Lalu, apa yang akan terjadi jika Rusdi benar melakukan pembatalan pesanan pesawat?

Boeing belum mengeluarkan pernyataannya terkait rencana pembatalan Lion Air ini. Boeing hanya menyatakan saat ini pihaknya tengah fokus kepada proses penyelidikan menyeluruh pada kecelakaan JT610.

“Lion Air adalah pelanggan berharga kami dan kami akan mendukung mereka melalui masa sulit ini,” ucap Boeing.

Terkait masalah serupa, Direktur Utama Lion Air Edward Sirait juga telah menghadap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam pengakuannya, Edward justru tidak mengetahui persis terkait rencana pembatalan ini.

“Saya belum ketemu Pak Rusdi, saya konfirmasi dulu. Kalau mengenai bisnis apapun bisa terjadi. Tapi, saya tidak mengatakan ya atau tidak [batal beli pesawat Boeing], dari situasi ini kan kita akan mempelajari semua informasi dan data-data yang memang berkembang terkait dengan kejadian ini,” tukas Edward, dikutip dari CNBC Indonesia.