Kendala Pemasaran, Dorong BUMDes untuk Kembangkan Olahan Bebek

telor asin

TELUR  asin Brebes mungkin sudah dikenal banyak orang. Tapi siapa sangka, telur bebek sebagai bahan baku telur asin, sebagian berasal dari Desa Karanganyar.

“Kalau warga sini, pemasarannya (telur asin) masih lokal ke pasar-pasar. Memang belum berkembang.  Berbeda dengan Brebes mereka kan ada di jalur Pantura jadi lebih terkenal. Tapi
sebagian ada yang dari kita pasokan telur bebeknya,” ungkap Kuwu Desa Karanganyar, Moh Yakub.

PENETASAN: Mesin tradisional penetas telur beber yang dikembangkan warga Karanganyar mampu membuat populasi bebek semakin bertambah. Foto: Jamal Suteja/Radar Cirebon

Namun untuk bebek pedaging pemasaran bisa sampai luar Jawa. Kini, dengan adanya usaha warga yang berkembang turun temurun itu, pemerintah desa setempat ingin mengembangkan home industri olahan bebek.

Rencanananya, pihaknya yang telah membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sekar Mandiri akan bergerak dalam usaha olahan bebek. Seperti penjualan telur asin, sate bebek, bebek kecek, dan pedesan.

“Kita akan kembangkan pemasarannya, juga pengemasannya. Terutama telur asin, ini bisa jadi oleh-oleh khas Cirebon,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Yakub, warga masih terkendala banyak hal dalam mengembangkan pemasaran. Selain itu ada juga kendala wilayah.  Desa Karanganyar berada di Kecamatan Panguragan, yang jauh dari jalan raya.

Apabila dilihat, dari sektor penjualan telur asin saja. Omzetya cukup besar. Seperti halnya, Duki. Dalam sehari dia bisa membuat telur asin sebanyak seribu telur.

Untuk memenuhi pesanan di Pasar Arjawinagun. Harga satu butir telur bebek yang masih mentah Rp2.100, sementara untuk telur asin dia jual ke pasar Rp 2.700/butir. “Ya kalau sehari bersih bisa dapat 300 ribu,” tuturnya.

Belum lagi dari usaha penjualan anak bebek dan juga mesin tradisional lemari penetas telur bebek. Karena saat ini banyak yang meniru mesin tersebut. Sehingga pihak desa mulai mencoba mematenkan hasil inovasi teknologinya tersebut. (jml)

 

Berita Terkait