Keraton Kasepuhan Gelar Tradisi Saji Maleman

Sultan Sepuh XIIV PRA Arief Natadiningrat saat menyerahkan tombak dalam pembuakaan acara di Keraton Kasepuhan. Foto: Dede/pojokjabar.com

CIREBON – Menyambut malam Lailatul Qodar, Keraton Kasepuhan melakukan tradisi saji maleman di Komplek Makam Sunan Gunung Jati. Tradisi saji maleman membakar delapak yang terdiri dari wangi-wangian setiap malam ganjil hingga menjelang malam Idul Fitri.

Tradisi diawali dengan pembuatan ukup atau wewangian ruangan yang terbuat dari kayu dan akar kayu wangi yang disanggrai dengan gula merah. Ukup kemudian disatukan dengan lilin, kapas dan minyak kelapa untuk dinyalakan setiap malam ganjil.

“Lilin dinyalakan setiap malam tanggal ganjil. Di makam Sunan Gunung Jati sampai dengan Sultan Sepuh XIII. Sedangkan delapak yang terdiri dari kapas dan minyak kelapa juga dinyalakan tapi di cungkup (bagian atap tinggi-red) dari Makam Sunan Gunung Jati hingga Sultan Sepuh XIII,” ungkap Sultan Sepuh Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat, Selasa (5/6).

“Untuk menyambut malam yg mulia tentu kita harus siap. Selain itu harus bersih, wangi, melek dan terang diisi dengan dzikir dan doa,” tandasnya. (dkw/pojokjabar)