Kisah Nenek Penunggu Jembatan Bambu Penghubung Dua Kecamatan

Terima Iuran Seikhlasnya dari Pengendara yang Melintas

MENUNGGU: Julekha (60), nenek penunggu Jembatan Bambu penghubung dua kecamatan itu, duduk dan menjaga warga yang melintas. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
MENUNGGU: Julekha (60), nenek penunggu Jembatan Bambu penghubung dua kecamatan itu, duduk dan menjaga warga yang melintas. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Di usianya yang sudah tidak muda, Julekha (60) bekerja sebagai penunggu jembatan bambu, demi mengharapkan imbalan dari pengendara yang melintas. Jembatan tersebut, merupakan akses jalan alternatif penghubung Desa Setu Wetan Kecamatan Weru, dengan Desa Astapada Kecamatan Tengahtani.

 Julekha setiap harinya berjaga di jembatan dengan lebar sekitar 1,5 meter tersebut. Kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu, selalu berada di dekatnya dan ia sodorkan kepada setiap pengendara yang melintas.

Pagi-pagi pukul 09.00 hingga 17.00, nenek asal Desa Setu Wetan itu, selalu berada di persinggahan, tidak jauh dari bibir jembatan. Dalam satu hari, Julekha memperoleh uang Rp30 ribu hingga 40 ribu saja.

Uang dari hasil yang didapatnya, selalu ia kumpulkan. Hasilnya, dipergunakan untuk memperbaiki jembatan yang dalam kurun waktu setahun sekali, dirinya perbaiki.

“Udah 5 tahun jaga di sini (jembatan, red). Setiap tahun diperbaiki, bambunya diganti. Uangnya ya dari hasil warga yang ngasih. Seikhlasnya. Kalau nggak ngasih ya sudah, mau gimana?” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Dikatakan Julekha, biaya memperbaiki jembatan dengan panjang sekitar 15 meter itu, sebesar Rp5 juta. Orang berpakaian dinas, seringkali ia temukan dengan aktivitas foto-foto jembatan dengan “embel-embel” memperbaiki. Namun, realisasinya tidak kunjung terlaksana. Dan lagi-lagi, ia renovasi dengan dana pribadi dari iuran warga.

Bambu yang lapuk termakan usia, membuat jembatan tersebut bergetar setiap ada pengendara yang melintas. Jembatan itu berusia mendekati setahun dan sudah saatnya diperbaiki. “Masih sering dilewati motor sama becak. Sudah beberapakali ganti kepala desa, tapi tetap aja seperti itu,” katanya.

Dirinya berharap kepada pemangku kebijakan, untuk segera mengubah struktur jembatan menjadi permanen dan kokoh, ketika dilintasi kendaraan. “Syukur-syukur dibeton,” imbuhnya.

Warga lainnnya, Turini mengatakan, setiap harinya jembatan yang tidak jauh dari rumahnya itu kerap dilalui kendaraan. Senada dengan Julekha, Turini berharap agar jembatan tersebut dapat diperbaiki menjadi lebih layak untuk dilintasi. “Semoga cepat diperbaiki aja. Biar lebih aman dan yang lewat juga nyaman,” jelasnya. (ade)

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya