Korban Tsunami Palu: Saya Kuat karena Ingat Anak Istri dan Keluarga di Cierbon

WARGA-CIREBON-KORBAN-TSUNAMI-PALU-INDRAPULANG CIREBON: Indra, warga Mundu, Kabupaten Cirebon, merupakan satu di antara tujuh korban tsunami Palu, Sulteng, yang pulang ke Cirebon tadi malam. FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

IPAH Kholifah dilanda kecemasan. Tak lama setelah gempa, datanglah tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Sang suami, Indra, saat itu sedang keliling jualan. Ipah sendiri selamat dari gempa. Dia dan anak mereka berada di luar kontrakan ketika tiba-tiba bencana itu datang.

Lalu, ke mana suaminya? “Suami lagi jualan cobek. Saya dan anak kebetulan lagi jajan di luar dan jauh dari pantai. Nah suami yang saat itu keliling jualan cobek, jaraknya berdekatan dengan pantai,” kata Ipah kepada sejumlah media saat tiba di Pendopo Bupati Jl Kartini, Kota Cirebon, tadi malam.

Ipah baru bertemu dengan suaminya setelah tiga hari gempa dan tsunami berlangsung. “Saya tiga hari cemas. Tidak ada kejelasan, tidak ada sinyal. Almadulillah saya dapat kabar suami selamat saat sudah ada di rumah sakit,” ungkapnya.

Bagaimana cerita Indra? Meski tadi malam masih di atas bangsal perawatan karena mengalami patah kaki, Indra masih mau menceritakan kejadian itu. Hantaman ombak besar membuat ia terombang-ambing. Ia terbawa hingga terkena reruntuhan bangunan.

Namun, keajaiban datang padanya. Tiga hari di bawah reruntutan bangunan, ia akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat. Selama tiga hari di bawah reruntuhan bangunan, menahan lapar dan dahaga.

“Antara sadar dan tidak sadar. Saya kuat karena ingat anak istri dan keluarga di Cirebon. Alhamdulillah saya diberi kekuatan dan keselamatan,” ucapnya.

Tiga hari setelah gempa dan tsunami itu, Indra baru bisa dievakusi. Saat itu ia langsung dilarikan ke RS Madani. “Saya lalu mengabari paman saya yang ada di Cirebon bahwa saya selamat. Setelah itu baru memberi tahu istri,” ujar Indra.

Sebetulnya, kata Indra, dirinya baru berada di Kota Palu 10 hari sebelum gempa dan tsunami. Sebelumnya Indra mudik Lebaran Idul Adha ke kampng halamannya di Setupatok, Mundu.

“Saya sudah delapan tahun merantau. Tapi waktu Idul Adha pulang dulu ke Cirebon. Baru di Palu 10 hari, kejadian tsunami. Saya bersyukur, berterima kasih karena pemda membantu kami,” pungkasnya.

Warga Setupatok sendiri diketahui sejak dulu merantau ke Palu untuk berjualan cobek. Seperti dikemukakan Eli, kakak kandung Indra.

“Kalau Indra itu berangkat terakhir ke Palu sekitar 10 hari sebelum bencana. Kemarin dia tiga bulan di sini. Kebetulan saya ada hajatan. Pulang sekitar setahun sekali. Dia sama istri dan satu anaknya. Kakak saya dan istri serta dua anaknya juga merantau di sana. Alhamdulillah meskipun sempat khawatir tapi semuanya selamat,” terangnya.

Rupanya tidak hanya keluarga Indra saja yang berada di Palu. Dari Kecamatan Mundu, setidaknya yang sampai saat ini diketahui ada sekitar 25 warga merantau dan bermukim di Palu.

Dari 25 orang tersebut, dua orang di antaranya merupakan warga Sinarancang yang merantau sudah lebih dari dua tahun. Selain berjualan cobek, ada juga yang berjualan mainan anak di Palu. Beberapa di antaranya sudah pulang sejak Sabtu (13/10). (via/dri)