Kualitas Garam Cirebon Potensi Saingi Australia

Kabupaten Cirebon
GARAM-CIREBONPANEN PERDANA TUF: Sejumlah pengurus HPN dan para petani petambak garam melakukan panen perdana garam TUF di Desa Gebang Ilir, Kabupaten Cirebon, Minggu (19/8). FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON – Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, punya potensi menjadi salah satu negara penghasil garam terbesar di dunia. Sayangnya, Indonesia masih bergantung kepada impor garam untuk memenuhi kuota garam nasional. Pada tahun 2018 saja,  pemerintah menerbitkan izin impor garam industri sebesar 3,016 juta ton.

“Potensi inilah yang akan kita garap dan akan kita kembangkan. Minimal, kalaupun belum bisa mengekspor, kita seharusnya mampu memenuhi kebutuhan garam dalam negeri tanpa harus melakukan impor,” ujar Sekjen Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Cirebon, Ade Faizal Alami saat ditemui Radar di sela-sela panen perdana garam dengan aplikasi teknologi ulir filter (TUF) di Desa Gebang Ilir, kemarin.

Menurut Ade, selama ini ada kelemahan dari garam-garam yang diproduksi di Cirebon. Hal inilah yang kemudian membuat garam dari Cirebon sangat sulit untuk masuk dan digunakan ke dalam dunia industri. Terlebih, untuk industri makanan.

“Sistem pembuatan garam saat ini masih konvensional. Dari dulu sampai sekarang belum berubah. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas garam, kita akan coba terapkan TUF pada lahan garam di Gebang Ilir. Kami yakin kadar garamnya mampu menyamai, bahkan melebihi kualitas garam impor Australia, dengan kadar kandungan NaCl di atas 97%,” imbuhnya.

Dalam pilot project ini, HPN mendampingi petambak untuk memproduksi garam di lahan seluas 6.000 meter persegi di Desa Gebang Ilir. Dari luasan tersebut, dibuat skema 38 buah meja produksi yang masing-masing berukuran 4×20 meter. Kemudian sisanya adalah kolam ulir dan kolam penampungan air tua sebagai prasyarat teknik TUF.

“Selain produk garam, nantinya juga akan ada produk turunan garam yang akan diproduksi. Ini yang justru memiliki nilai ekonomis tinggi. Bahkan jauh melebihi harga garam itu sendiri. Contohnya, air bitten,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Biro Pengembangan Usaha Maritim dan Sumberdaya Kelautan HPN Cirebon, H Sanusi menuturkan, jika program yang diadakan HPN Cirebon ini merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan garam nasional.

Pasalnya, berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, kebutuhan garam di tahun 2018 diperkirakan sebanyak 4,5 juta ton. Rinciannya, kebutuhan industri sebesar 3,7 juta ton dan kebutuhan garam konsumsi sekitar 800.000 ton. “Garam itu komoditas yang tidak bisa tergantikan. Kebutuhannya banyak, bukan hanya buat bumbu masakan,” tegasnya.

Bagi manusia, garam digunakan untuk konsumsi, sedangkan industri guna menunjang proses produksinya. Seperti industri kimia, aneka pangan dan minuman, farmasi dan kosmetika, hingga pengeboran minyak.

Merujuk data Kementerian Perindustrian, bahan baku garam yang didistribusikan kepada industri farmasi dan kosmetik sebesar 6.846 ton serta industri aneka pangan 535.000 ton. Sisanya, kebutuhan bahan baku garam sebanyak 740.000 ton untuk sejumlah industri.

Seperti industri pengasinan ikan, industri penyamakan kulit, industri pakan ternak, industri tekstil dan resin, industri pengeboran minyak, serta industri sabun dan detergen. Sayangnya, dari angka tersebut, garam produksi dalam negeri hanya mampu memasok ke industri hanya 1,6 juta ton. (dri)