Kuncen Petilasan Sunan Kalijaga Menanti Keseriusan Urus Cagar Budaya

Suasana di Situs Petilasan Sunan KalijagaSuasana di Situs Petilasan Sunan Kalijaga

CIREBON– Situs Petilasan Sunan Kalijaga menjadi potret muram peninggalan sejarah di kota Cirebon. Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya, justru tidak menjamin kondisinya terawat.

Pantauan Radar Cirebon, kerusakan terjadi banyak titik. Baik atap, pelataran maupun fisik bangunan lainnya. Juru Kunci Petilasan Raden Edi menuturkan, kerusakan ini banyak penyebabnya. Bukan hanya usia bangunan yang sudah ratusan tahun, tetapi juga karena ulah monyet yang monyetp kali melemparkan genteng dari atap. “Ya sering iseng. Genteng dilempar. Jadi di bawahnya kan berantakan. Kalau ada pengunjung mungkin dikiranya tidak diurus,” ujar Edi.

Menurutnya, pemugaran dan perawatan situs seluruhnya dibiayai oleh para pengurus dan sumbangan pengunjung. Selain itu untuk pakan ratusan monyet, juga hanya mengandalkan pemberian dari pengunjung.

Makanan seadanya ini memang tidak baik untuk kesehatan monyet. Karena jenis makanan yang belum tentu cocok. Dikhawatirkan pula ini akan berdampak pada populasinya. Yang selain terdesak oleh permukiman, juga karena perkembangbiakannya terganggu.

Kemudian, uang pakan monyet yang dijanjikan pemerintah juga tidak pernah sampai. Meski ia sempat mendengar anggaran itu dialokasikan setiap bulan. “Di sini kan pohon tinggal sedikit. Nggak banyak yang berbuah. Jadi ya seadanya makan dari pengunjung,” katanya.

Jumlah makanan untuk ratusan monyet ini juga tidak banyak. Pada hari biasa pengunjung tidak sampai 50 orang. Namun di peringatan Maulid Nabi Muhammad seperti saat ini, pengunjung situs melonjak sampai 500 orang per hari. Tetapi sayangnya, kondisi situs tidak mampu menampung jumlah pengunjung yang demikian banyaknya. Tidak ada tempat khusus untuk beristirahat. Atau sekedar duduk-duduk.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Edi Tohidi mengaku kesulitan untuk proses pembenahan situs tersebut. Status cagar budaya justru jadi penghalang untuk pemeliharaan. “Situs monyet Kalijaga kan sudah jadi cagar budaya. Jadi kita tidak mudah merubah bangunan,” ucapnya.

Soal biaya pakan, Edi membantah tidak menganggarkan. Apalagi tidak sampai ke pengurus situs. Meski tidak menyebutkan nominalnya, tapi anggaran ini disediakan setiap bulannya. (awr-mg)