Lama Terpisah, UPT PPKS Pertemukan Lansia dengan Keluarganya

Beri Pelayanan meskipun Tak Ada Dana

Kabupaten Cirebon
Meskipun anggaran sudah habis, UPT PPKS tetap memberi pelayanan. Termasuk ketika lembaga di bawah Dinsos itu merawat penyandang masalah sosial asal Indramayu. FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBONMeskipun anggaran sudah habis, UPT PPKS tetap memberi pelayanan. Termasuk ketika lembaga di bawah Dinsos itu merawat penyandang masalah sosial asal Indramayu.FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

CIREBON-UPT Pengembangan Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (PPKS) Dinas Sosial Kabupaten Cirebon berhasil mempertemukan penyandang masalah sosial asal Indramayu dengan keluarganya setelah lama terpisah.

Kepala UPT PPKS Lemahabang H Uun Kurniasih kepada Radar Cirebon menuturkan, awalnya pihaknya menerima kiriman lansia yang terlantar dan tidak terusur dari Pemdes Lemahabang. “Pemdes Lemahabang mengirimkan lansia terlantar, kita juga awalnya bingung karena agak sulit diajak berkomunikasi, tapi selanjutnya kita lakukan pendampingan dan kita lakukan assessment sampai akhirnya diketahui identitasnya,” ujarnya.

Menurutnya, pria yang sulit berjalan tersebut diketahui bernama Suhud dan berusia sekitar 60 tahun. Pihak UPT PPKS berhasil menemukan keluarga Suhud setelah berkoordinasi dengan TKSK dari Indramayu dan menginformasikan kepihak keluarga yang berada disana.

“Akhirnya dipastikan ada keluarganya, kita hubungi dan akhirnya benar. Kita komunikasi lebih dalam dan coba gali keterangan ternyata klien kita ini sudah menikah lagi sebelumnya dan pergi dariIndramayu ke Cirebon, keluarga yang dari Indramayu ini tahunya klien ini baik-baik saja dan ada dirumah isteri keduanya di Cirebon,” imbuhnya.

Setelah melakukan komunikasi, lanjutnya, disepakati jika Suhud diantarkan pulang ke rumah anaknya di Indramayu ketimbang dipulangkan kerumah istrinya di Cirebon. Sang anak, menurut Uun, bersedia menjaga dan merawat Suhud dengan baik dan layak. “Sebelum kita pulangkan ke Indramayu, kita pastikan dulu kondisinya baik dan sehat, selama seminggu tinggal di rumah singgah, makan dan kebutuhan klien begitu kita perhatikan. Kita ingin klien pulang dalam kondisi yang baik,” jelasnya.

Menurut Uun, anggaran untuk UPT yang ia pimpin tersebut sudah habis. Seharusnya ia sudah tidak bisa menerima lagi klien. Namun, pihaknya tidak bisa menolak ketika ada klien yang dikirim atau diantarkan oleh warga ke tempat kerjanya tersebut. “Kalau berbicara anggaran, jelas sudah tidak ada anggaran, semuanya sudah terserap. Tapi kita tidak bisa menolak ketika ad aklien datang, kita tidak bisa bisa bilang tidak, semuanya harus ketika terima, karena kalau bukan kita lalu siapa lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Aktivis Cirebon Timur Rian Jaelani kepada Radar Cirebon menuturkan, apa yang saat ini dilakukan oleh Dinsos juga harus dilakukan oleh dinas lain. Terutama kondisi semua dinas diakhir tahun nyaris sama yakni hampir seluruh anggaran sudah terserap habis. “Jangan karena anggaran habis kemudian pelayanan menjadi terganggu, harus ada terobosan dan diskresi, ini semua demi kemanusiaan dan harus dilakukan oleh seluruh dinas,” pungkasnya. (dri)