Lampu Rongsok Jadi Nyala di Tangan Andri Rahman

Kabupaten Cirebon
ANDRI-RAHMANINSPIRATIF: Andri menyervis lampu di ruangannya. FOTO: CECEP NACEPI/RADAR CIREBON

Mimik wajah Andri Rahman (19) begitu serius. Duduk di kursi roda, tangannya dengan cekatan mengutak-atik lampu yang ada di depannya. Ya, pemuda asal Desa Panguragan Kulon ini dijuluki dokter lampu di daerahnya. Di tangan Andri, lampu-lampu bekas bisa kembali digunakan.

Cecep Nacepi, Cirebon

LUMPUH  selama hidupnya tidak menyurutkan semangat Andri untuk tetap produktif. Tidak pernah bersekolah bukan berarti Andri tidak bisa apa-apa.

Buktinya, di tangan Andri lampu yang putus bisa kembali nyala dan digunakan kembali. Dari keahlian inilah, Andri meraup pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Sejak lahir, anak pertama pasangan Ali Rahman (45) dengan Dunisa (42) memang ‘spesial’. Ia mengalami keterbatasan fisik dimana kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Untuk menopang aktivitas sehari-hari, Andri harus menggunakan kursi roda.

Meski ruang geraknya terbatas, Andri tidak ingin bermalas-malasan. Dia ingin produktif dan membantu ekonomi keluarganya. Servis lampu ini sudah digelutinya selama 4 tahun. Semua keahliannya ia dapat secara otodidak.

Awalnya dia melihat tetangganya yang memilah rongsok lampu bekas. Karena sering melihat aktivitas itu, Andri mengamati cara memperbaiki lampu bekas itu.

Andri akhirnya tertarik dan mencoba memperbaiki lampu yang tidak begitu rusak. Setelah berhasil, ia terus mencoba berbagai masalah lampu. Akhirnya, lampu-lampu rusak yang ditemukan bisa kembali berfungsi.

Melihat hal tersebut sebagai peluang, Andri memilih berkeliling desa untuk menjajakan lampu yang sudah diperbaikinya. Jika sedang ramai, dalam sehari ia bisa menjual 10 hingga 15 lampu.

Namun jika sepi, bisa jadi tidak ada satupun lampu yang laku. Meski begitu, Andri tidak patah semangat. Ia menambah usahanya dengan berjualan pulsa.

“Sudah 4 tahun seperti ini. Bahannya kita adalah lampu bekas, kita ambil, diperbaiki atau dirakit lagi. Alhamdulillah masyarakat sini sudah pada tahu. Kadang banyak yang pesan dan kadang sepi pembeli. Saat dijual harganya bervariasi, ada yang Rp 10.000 dan ada yang harganya Rp 70.000 tergantung lampunya,” ujarnya.

Andri berharap ada bantuan pemerintah untuk membantunya mengembangkan usahanya. Selama ini, modal menjadi kendala Andri untuk mengembangkan usahanya.

“Kalau banyak pesanan, ya modal saya utang dulu ke bos rongsok. Belum pernah menerima bantuan dari pemda. Mudah-mudahan pemerintah bisa memberikan saya modal agar tidak lagi utang kalau ada pesanan,” ujarnya. (cep)