Laporan WHO: Tahun Ini Sudah Ada 364.808 Kasus Campak, Naik Tiga Kali Lipat

imunisasi campak dan rubela2
Imunisasi campak.Foto: Dok. radarcirebon.com

JENEWA – Organisasi kesehatan PBB World Health Organization (WHO) memperingatkan, pada tujuh bulan pertama tahun ini kasus campak di dunia naik tiga kali lipat. Jumlah tersebut dibandingkan periode yang sama pada 2018.

Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan, penyakit menular ini bisa sepenuhnya dicegah dengan dua dosis vaksin. Tapi beberapa bulan terakhir para pakar membunyikan alarm peringatan menurunnya pelaksanaan vaksin campak.

Data terbaru WHO menunjukan, sepanjang 2019 sudah ada 364.808 kasus yang dilaporkan. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan tujuh bulan pertama 2018 sebanyak 129.239 kasus.

“Angka ini tercatat menjadi yang tertinggi sejak 2006,” kata Christian, seperti dilansir dari Aljazirah, Rabu (14/8).

Menurut Christian, pertumbuhan angka yang cepat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, kasus campak di seluruh terus meningkat, terutama di wilayah Afrika di mana ada kenaikan sekitar 900 persen. Sementara di barat Pasifik ada kenaikan sebesar 230 persen.

Republik Demokrasi Kongo, Madagaskar, dan Ukraina tercatat menjadi negara dengan kenaikan tertinggi. Sementara wabah campak juga merebak di Angola, Kamerun, Chad, Kazakhstan, Nigeria, Filipina, Sudan, Sudan Selatan, dan Thailand.

Tahun ini tercatat ada 1.164 kasus di Amerika Serikat. Jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang pada tahun 2018 lalu yang hanya 372 kasus. Menjadi angka tertinggi dalam seperempat abad terakhir.

Tercatat hampir ada 90 ribu kasus di Eropa. Sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun lalu di periode yang sama sebanyak 84.462 kasus.

Sementara itu pada pertengahan pertama tahun ini tercatat ada 127.500 kasus di Madagaskar. Beberapa bulan terakhir angkanya sedikit menurun sejak WHO menggelar kampanye vaksinasi darurat nasional.

Campak yang menyebabkan flu, batuk dan gatal-gatal dapat mematikan. Sebagian besar negara berhasil mengeyahkan penyakit yang ditularkan lewat udara ini dengan sistem kesehatan yang canggih.

Tapi gerakan anti-vaksin yang menilai vaksin dapat menyebabkan autisme menarik banyak pendukung. Gerakan ini anti vaksin campak, gondongan dan rubella.

WHO mengatakan di setiap masyarakat dan negara alasan orang tua tidak mau anaknya divaksin sangat beragam. Mulai dari buruknya akses kesehatan sampai kualitas perawatan atau layanan vaksin itu sendiri.

“Sementara yang lainnya diberi informasi yang salah tentang vaksin atau rendahnya pemahaman tentang pentingnya vaksin,” ujar Christian. (der/rts/fin)

Berita Terkait