Larang Syukuran dengan Pagelaran Wayang

JATIWANGI – Desa Sukaraja Wetan dan Kulon di Kecamatan Jatiwangi ini masih lekat dengan kepercayaan nenek moyang zaman dahulu. Karena menghormati pitutur nenek moyangnya itu, masyarakat setempat pun enggan melakukan yang terlarang. Misalnya, pada acara syukuran tidak boleh mengadaka pagelaran wayang kulit maupun wayang golek.

Warga Dusun Ciburuy Desa Sukaraja Wetan Memen Sulaeman (45) mengungkapkan, tradisi tersebut hingga era milenum saat ini masih dipertahankan masyarakat desanya. Selain penyelenggaraan hiburan wayang, acara lain yang tidak diperbolehkan masyarakat setempat yakni kehadiran pedangdut maupun sinden yang tampil bernyanyi menghibur warga setempat di atas panggung.

“Kalau di desa ini yang laku pada acara hiburan adalah bencong mas. Kalau perempuan atau artis semacam sinden malah tidak diperbolehkan. Ini sudah adat dari zaman nenek moyang dahulunya,” ungkapnya.

Kepala Dusun Ciburuy Surahmat membenarkan jika di daerahnya tidak diperbolehkan menggelar acara syukuran tersebut. Meski hanya sebatas mitos, jika salah seorang warga yang memaksakan mengadakan acara ini atau dilanggar, artis maupun sinden yang tengah menghibur masyarakat tersebut bisa secara tiba-tiba tidak sadarkan diri.

Sedikit tahu, diceritakan Surahmat, berdasarkan cerita rakyat turun temurun pada zaman dahulu di desa tersebut ada salah satu makam Mbah Depok yang semasa hidupnya memiliki istri seorang sinden. Konon, mitos yang masih melekat dan dipertahankan masyarakat di desa ujung selatan Kecamatan Jatiwangi tersebut sang suami (Mbah Depok) itu tidak mendapatkan perhatian oleh sang istri lantaran istri selalu sibuk akibat jadwal panggungnya yang padat.

“Katanya, saking kesalnya si istrinya yang pada saat itu sedang nyinden dilabrak oleh suaminya sambil marah-marah. Akhirnya sesepuh di desa ini sampai sekarang tidak memperbolehkan menyelenggarakan acara tersebut. Saya juga tidak begitu tahu persis yang pasti sampai sekarang masyarakat di sini masih mempertahankan tradisi itu,” jelasnya.

Surahmat juga mengakui suatu hari beberapa tahun yang lalu ada salah seorang yang menggelar syukuran hajatan mengadakan wayang. Namun, secara tidak langsung di tengah-tengah kegiatan tersebut berlangsung tiba-tiba turun hujan. Padahal, kata dia, saat itu memasuki musim ketiga (kemarau, red).

“Tradisi ini terus dipertahankan masyarakat di desa kami, khususnya Dusun Ciburuy ini. Bahkan mesti salah seorang keturunan dari desa ini yang berada di daerah manapun tetap masih menjaga mitos tersebut,” pungkasnya. (ono)