oleh

Lestarikan Tradisi, Warga Dukuhmaja Gelar Hajat Bumi Nyuguh

KUNINGAN-Masyarakat Desa Dukuhmaja, Kecamatan Luragung, mempertahankan tradisi leluhur dengan menggelar Hajat Bumi Nyuguh, Jumat (24/11) lalu. Ratusan warga setempat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tradisi turun temurun yang selalu digelar setiap Jumat pertama di bulan Mulud tersebut.

Tradisi nyuguh ini diawali dengan mengarak dongdang berisi nasi tumpeng dan 40 pincuk sesaji yang dibuat khusus berisi bubur nasi serta lauk telur asin bulat serta rokok, menuju kompleks pemakaman Buyut Ratu Pakuan yang mempunyai nama asli Diah Pitaloka merupakan salah satu putri Prabu Siliwangi.

Dengan kawalan para pemuda yang didandani ala prajurit kerajaan, arak-arakan yang dipimpin langsung Kades Dukuhmaja Rohaman yang mengenakan pakaian kebesaran ala raja zaman dahulu, berjalan dari Alun-alun Desa Dukuhmaja menuju makam keramat Buyut Ratu Pakuan yang berjarak hampir 2 kilometer.

Setibanya di makam keramat, Kades Rohaman bersama tokoh masyarakat serta pejabat Muspika Luragung melakukan ritual tabur bunga dilanjut menaruh 40 pincuk sesaji tadi di atas makam keramat sekaligus memanjatkan doa.

Acara dilanjut pembacaan asal usul tradisi nyuguh oleh Ketua Panitia Dadang Bardan, dilanjut pembacaan Wasiat Pajaran oleh Kasi Kesra Kecamatan Luragung Nana Suyana. Kemudian, diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Kades Dukuhmaja diserahkan kepada perwakilan prajurit pengiring acara tradisi nyuguh dan doa bersama.

Kades Dukuhmaja Rohaman mengatakan, kegiatan tradisi Nyuguh ini merupakan ritual rutin tahunan warga Desa Dukuhmaja dalam rangka meneladani perjuangan dan jasa para leluhur pendiri wilayah Luragung. Dikatakan, banyak pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan tradisi tersebut terutama bagi para generasi muda salah satunya tentang hidup gotong royong, tolong menolong dan saling membantu.

“Kami ingin mengajak para generasi muda untuk melestarikan budaya yang sudah ada sejak zaman dulu, agar jangan sampai tergerus oleh budaya asing. Banyak nilai positif yang dapat diambil dari kegiatan ini dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya tentang gotong royong,” kata Rohaman.

Ditambahkan Kaur Kesra Desa Dukuhmaja Rasidin, tradisi Nyuguh ini awalnya merupakan agenda tahunan masyarakat Luragung yang digelar setiap Jumat pertama di bulan Mulud. Namun karena sejak empat tahun terakhir pemerintah Desa Luragung Landeuh tidak menyelenggarakan, maka dilanjutkan oleh masyarakat Desa Dukuhdalem sebagai daerah tempat makam keramat tersebut berada.

“Desa Dukuhdalem adalah hasil pemekaran Desa Luragung Landeuh, sehingga ketika tradisi nyuguh ini sudah tidak digelar lagi oleh masyarakat Luragung Landeuh kemudian dilanjutkan oleh kami tempat makam Buyut Ratu Pakuan berada,” kata Rasidin.

Rasidin mengungkapkan, tradisi nyuguh merupakan salah satu wasiat dari Eyang Suramanggala selaku pengawal putri Prabu Siliwangi, Diah Pitaloka. Adapun sesaji yang berjumlah 40 pincuk, kata Rasidin, dipersembahkan untuk para prajurit utusan Kerajaan Pajajaran yang pada zaman dahulu diperintahkan oleh Prabu Siliwangi untuk menjemput Eyang Suramanggala namun gagal dan memutuskan menetap di Luragung.

“Sebenarnya ada 42 prajurit yang diperintahkan menjemput Eyang Suramanggala kembali ke Kerajaan Pajajaran. Namun karena Eyang Suramanggala menolak, akhirnya 40 prajurit di antaranya memutuskan tetap tinggal dan akhirnya meninggal dunia di Luragung. Hanya dua prajurit yang kembali ke kerajaan,” katanya. (fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed