Mampukah Masagi Hidup Bari Maraknya Tawuran Pelajar di Cirebon?

tawuranILUSTRASI TAWURAN PELAJAR

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meluncurkan program Jabar Masagi di Gedung Negara, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Rabu (5/12/2018) malam.

Jabar Masagi adalah program pendidikan karakter bagi pelajar untuk membekali masyarakat Jawa Barat dengan nilai-nilai baik yang selaras dengan cita-cita Jabar Juara Lahir Batin.

Baca: Jabar Masagi, Benteng Generasi Muda

Masagi adalah filosofi Sunda yang singkat dan padat tetapi memiliki makna yang mendalam. Dalam bahasa Sunda, “Jelema Masagi” artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi.

“Grand desain Jabar Masagi menekankan pada nilai pendidikan karakter dan mengembalikan pendidikan budi pekerti yang bisa berdampak pada akhlak sosial yang mengandung keluhuran nilai-nilai kearifan lokal,” kata Ridwan Kamil saat ditemui usai kegiatan.

Ia mengatakan, pendidikan karakter itu tentunya yang sesuai kebutuhan dan konteks budaya dari masing-masing wilayah di Jawa Barat.

Ironisnya, implementasi sebuah model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal ini tercoreng tawuran antarpelajar di Kota maupun Kabupaten Cirebon, bukanlah yang pertama kali. Tanggal 6 Desember 2018, usai launching cetak biru “Manusia Unggul Jawa Barat” kembali terjadi tawuran antarpelajar di Jalan Perjuangan.

Kasus ini menambah daftar tawuran antarpelajar di Cirebon. Baru minggu kedua bulan Desember 2018, telah terjadi tiga kali tawuran antarpelajar di wilayah Cirebon.

Dihadapan polisi, mereka mengatakan munculnya kubu-kubu yang bertentangan antar sekolah sudah terbentuk sejak masa para alumni mereka. Oleh karena itu, ketika sekarang mereka bertemu dengan siswa lain berbeda kubu, meski tidak ada masalah bisa langsung terjadi tawuran.

Baca: Fenomena Tawuran Siswa di Cirebon

Kepada radarcirebon.com mantan pelaku tawuran antarpelajar era 90an di Cirebon, sebut saja otoy mengungkapkan tawuran itu hal biasa. “Kita biasa menyebut dengan istilah olah raga,” ujar Otoy, Kamis (6/12) di ruang kerja radarcirebon.com.

Menurutnya, istilah “olah raga’ muncul dari spontanitas antarpelajar. Bagi Otoy, saat itu ketiadaan ruang publik dan pelajar membutuhkan eksistensi diri. “Biasanya diawali dengan permintaan sumbangan dengan membawa topi yang telah berisikan uang receh. Yang takut, akan memberikan uang dengan sukarela. Tapi, bagi yang melawan disitulah awal tawuran,” kenang Otoy.

Terpisah, Psikolog Kasandra Putranto menyoroti tawuran yang dilakukan generasi milenial atau generasi Z lebih ganas ketimbang yang dilakukan generasi 30 tahun yang lalu. Perkelahian dilakukan tanpa senjata atau tangan kosong, sehingga paling parah luka di kepala. Sementara kini yang dipakai untuk menyerang lawan adalah senjata tajam, sehingga risikonya meningkat tajam jadi kematian.

Tawuran yang dilakoni anak-anak usia sekolah menengah pertama atau atas di Indonesia dilingkupi sejumlah anomali. Misalnya, meski taruhannya nyawa, tapi tetap dijadikan tradisi. Contoh lain, adalah waktu pelaksanaannya yang justru kian marak di bulan suci Ramadan atau masa di mana warga muslim Indonesia sedang fokus beribadah.

Dalam konteks psikologi, Kasandra bahkan secara blak-blakan menyebutkan bahwa generasi milenial punya kecerdasan sosial-emosional yang lebih rendah ketimbang generasi-generasi sebelumnya.

Nuri Aprilia dan Herdina dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga pernah meneliti topik ini untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku tawuran yang dilakoni 44 remaja laki-laki berusia 15-18 tahun yang bersekolah di SMK ‘B’, Jakarta.

Hasilnya, sebagaimana dipublikasikan di Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan (April 2014), menunjukkan terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan perilaku tawuran. Artinya, semakin tinggi kecerdasan emosi seorang remaja, maka akan semakin rendah perilaku tawurannya.

Kasandra menambahkan ada faktor genetis yang turut berpengaruh. Teori ini jarang diungkap di media massa, namun ia membekali argumen dengan penelitian bidang neuropsikologi tentang mengapa seseorang lekat dengan gaya hidup penuh kekerasan.

“Mereka (pelaku tawuran) cenderung melakukan kekerasan karena komposisi amigdala otaknya lebih besar, sebab selama proses pertumbuhannya diwarnai kekerasan. Jadi ini juga berhubungan dengan faktor genetis,” katanya.

Soal mengapa tawuran kekinian makin berdarah-darah, Kasandra menitikberatkan pada dorongan agresivitas dari sistem limbik dan lemahnya kemampuan pengambilan keputusan yang berpusat di prefrontal korteks. Hal ini, katanya, mendorong gagah-gagahan saat tawuran, lalu kebablasan sampai ke aksi pembunuhan.

Minimnya kontrol emosi juga yang menyebabkan tawuran kerap timbul hanya karena perkara sepele, seperti kasus di Ciracas bulan Februari kemarin. Singgih Kurniawan da A. Mutho M. Rois dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung pernah meneliti ini pada tahun 2012 silam. Tujuannya adalah untuk menguji, apakah tawuran bisa lahir dari prasangka?

Baca: TAWURAN, PRASANGKA TERHADAP KELOMPOK SISWA SEKOLAH LAIN

Jawabannya, sesuai hasil riset yang keduanya jajaki di kalangan pelajar Kota Semarang, adalah bisa. Ada perbedaan yang sangat signifikan terkait prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak. Siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran.

Kasandra tak lupa menegaskan bahwa persoalan perilaku tawuran itu berangkat dari bagaimana sang pelaku dididik di rumah—komunitas terkecil tempat pelaku membentuk kepribadian diri. Hal ini berlaku di keluarga yang utuh maupun yang mengalami “broken home”.

Pada 2012 silam Andi Maulida Rahmania dan Dewi Retno Suminar dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya mempublikasikan risetnya di Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan tentang hubungan antara kontrol orangtua dengan kecenderungan perilaku delinkuensi pada remaja yang pernah terlibat tawuran.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi terhadap kontrol orangtua, maka semakin rendah kecenderungan perilaku delinkuensi anak. Artinya, peran pengawasan orangtua adalah komponen penting untuk memahami perilaku anti-sosial yang dilakukan anak remajanya.

Secara keseluruhan, hubungan keluarga yang kuat dapat mengurangi kecenderungan si anak untuk menjalin hubungan negatif dengan teman sebayanya. Saat hubungan negatif dijauhi, potensi untuknya melakukan tawuran juga mengecil.

Hubungan yang kuat dimulai dengan komunikasi yang memadai. Mengutip riset R. Rachmy Diana dari Program Studi Psikologi UIN Sunan Kalijaga dan Sofia Retnowati dari Fakultas Psikologi UGM (diunggah di Jurnal Psikologi edisi Desember 2009), semakin tinggi komunikasi orangtua dan anak, semakin rendah tingkat agresivitas si anak (remaja). Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

Tawuran juga tak lepas dari proses pewarisan prasangka hingga teknik bertempur di jalanan dari senior ke junior, yang akhirnya menyebabkan tawuran menjadi sebuah tradisi. Riska Amalia dan kawan-kawan pernah meneliti topik ini dan mereka publikasikan di Jurnal Interaksi Online edisi April 2013.

Mereka menemukan bahwa proses pewarisan rasa permusuhan antar-sekolah itu ternyata berlangsung dalam nuansa yang cukup intimidatif.

“Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior,” tulis Riska dkk.

Para senior juga memakai dua teknik: “pay off idea” dan “fear arousing”. “Pay off idea” dilakukan dengan memberikan harapan pada para junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian dari kelompok jika mau ikut tawuran.

Sedangkan “Fear arousing” didasarkan pada ketakutan para junior pada konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi perintah senior. Konsekuensinya merentang dari sekedar bentakan hingga kekerasan fisik. Maka para junior sebenarnya mengawali petualangan berbahayanya dari keterpaksaan dan rasa takut.

Meski demikian fase takut dan terpaksa hanya berlangsung di awal-awal saja. Remaja adalah manusia yang sedang berada dalam fase pembentukan karakter. Segala tindakan yang mereka lakukan atas nama mencari pengalaman, terlepas dari baik maupun buruk menurut hukum atau kacamata moral, akan mengeras di dalam sanubari, dan membentuk pondasi sosial-emosionalnya.

“Lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok (tawuran) dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.

 

Bari: Bersama (*)