Mata Rantai Tengkulak Sulit Diputus, Stok Gabah Menipis

Kabupaten Cirebon
Ilustrasi gabah. (dok radarcirebon.com)

Pabrik penggilingan padi di Kabupaten Cirebon dalam dua bulan terakhir, kesulitan mendapatkan stok gabah dari petani. Sejumlah pabrik bahkan ada yang tidak beraktivitas. Kalaupun ada stok, mereka harus mencarinya dari luar daerah, terutama dari Karawang dan Jawa Tengah. Stok gabah yang sulit ini, membuat harganya melambung. Harga normal gabah kering giling saat ini mencapai Rp7.700/kg.

====================

STOK gabah yang menipis ini, lantaran adanya gagal panen di Kabupaten Cirebon. Selain itu, ada hama yang menyerang lahan petani, sehingga membuat produktivitasnya menurun. Di Kabupaten Cirebon, ada sekitar 395 ha lahan yang mengalami gagal panen pada tahun 2017.

“Di Kabupaten Cirebon itu, ada 395 ha gagal panen. Produksinya juga menurun satu ha lahan hanya mampu menghasilkan 2-3 ton gabah. Sehingga, target penyerapan kami (bulog, red) sebanyak 150.500 ton, hanya mampu terpenuhi 87 persen,” beber Kasi Analisa Harga dan Pasar Kantor Sub Drive Bulog Cirebon, Trilia Asmaraati kepada Radar Cirebon, Kamis (11/1).

Harga gabah yang melambung, ikut membuat harga beras juga tinggi. Harga beras di pasaran dijual Rp11-12 ribu untuk beras medium dan Rp13 ribu untuk beras premium. Harga ini sudah melebihi Harga Ekonomi Tertinggi yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Perdagangan. Trilia menyebutkan, harga Gabah Kering Petani saat ini sudah mencapai Rp5.300-5.700/kg. Lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah Rp3.700. “Kalau harga itu tidak bisa menyerap, sebab kalau harga tinggi berarti petani untung. Jadi, kita gak melakukan penyerapan lagi,” sebutnya.

Selain itu, Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Cirebon, Sandi Wiranata mengatakan, penyebab harga gabah tinggi ini, dirasakan oleh pabrik penggilingan di seluruh Cirebon.  Dalam satu hari, pabrik penggilingan padi biasanya memproduksi 20 ton beras, sekarang berubah. “Sekarang gak mampu. Dapatnya juga 2-3 ton, kadang giling kadang gak giling. Karena gabah sudah habis. Kita harus cari di Karawang dan daerah Jateng, karena itu juga biaya tranport menjadi tinggi,” katanya.

Padahal, kalau membeli gabah di petani lokal, pihaknya bisa menghemat biaya produksi. Apalagi dengan adanya tengkulak, keberadaan tengkulak memang membuat dilematis. Di satu sisi, adanya tengkulak dapat membantu dirinya untuk mudah mencari barang. Di sisi lain, harga distribusi juga semakin tinggi. Sebab satu orang tengkulak, bisa mendapatkan upah Rp10 ribu/kwintal. “Kalau kita itu biasanya satu kali angkut satu truk itu 10 ton,  ya kalau tengkulak dapat 10 ribu per kwintal. Berarti jasa upahnya untuk satu truk itu Rp10 juta,” ujarnya.

Dia sendiri merasa kasihan kepada masyarakat dengan kondisi harga beras yang mahal. Akan tetapi dengan kondisi ini, dia mau tidak mau mengambil risiko. Sebab kalau harganya lebih murah, tentu dirinya akan mengalami kerugian. Jasa tengkulak ada, saat pabrik membeli gabah dari petani. Kemudian, saat menjual barang ke pasar juga biasanya melalui tengkulak.

“Kalau kita cari gabah gak tahu lokasi rugi kalau gak pake tengkulak. Apalagi, kami nyari bisa sampai 10 ton satu kali angkut. Kalau gak ada tengkulak, bisa berhari-hari kita nyari barangnya,” tukas Awi, salah seorang pengusaha beras di Kecamatan Gegesik.

Maka dari itu, pihaknya berharap kepada pemerintah daerah maupun pusat, agar bisa menemukan pola dan tata niaga untuk distribusi beras. Sebab sejauh ini, peran Bulog untuk pengadaan bahan baku juga masih belum dirasakan oleh masyarakat. “Ya perlu dicarikan polanya seperti apa. Sebab kita belum, maka untung juga tengkulak sudah untung duluan. Sekarang calo itu 10 ribu/kwintal, dulu masih tiga ribu/kwintal,” sebutnya. (jml)