Medsos Goda Si “Cantik” nan “Seksi”

Wacana & Catatan

Sampai hari ini, koran lokal masih memiliki daya tarik yang luar biasa! Sebuah riset di Amerika Serikat mengibaratkan koran lokal itu seperti gadis cantik dan seksi. Namun demikian, di alam nyata hari ini juga, digitalisasi, terutama media sosial (medsos), menjadi “penggoda” si koran lokal tersebut.

===========================

NIELSEN pada tanggal 6 Desember lalu memaparkan resume hasil risetnya. Paparan yang diberi judul “The Moment of Truth for Print Media in Order to Grow” di antaranya memaparkan kondisi terkini dari media cetak di Indonesia.

Menurut hasil riset Nielaen, media cetak dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah itu, 83 persen membaca koran. Alasan utama memilih koran karena nilai beritanya yang dapat dipercaya. Elemen kepercayaan terhadap konten juga sangat berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya.

Keberadaan koran sebagai media terpercaya sangat penting bagi produk yang mengutamakan trust. Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), karyawan (32 %), dan mayoritas pembaca berasal dari menengah ke atas (54%).

Pembaca media cetak berasal dari para pengambil keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36 persen). Membaca buku adalah salah satu hobi konsumen media cetak.  Selain membaca, mereka juga menyukai traveling.

Tiga dari empat pembaca tidak keberatan saat melihat iklan di media cetak. Alasannya iklan adalah salah satu cara  mengetahui produk baru. Namun demikian sebagian pembaca koran juga menggunakan internet. Artinya pembaca media cetak selalu mengikuti perkembangan teknologi. Angkanya 86% pengguna internet dari pembaca media cetak. Sedangkan rata-rata pengguna internet hanya 61 persen.

Dari jumlah itu 65 persen pembaca media cetak mengakses internet melalui smartphone. Selama 3 jam rata-rata menggunakan telepon pintar setiap harinya. Tentang konten yang masih menarik adalah muatan lokal. Baik itu dari media cetak maupun digital. Dari sisi pendapatan iklan koran masih tinggi. Yakni Rp21 triliun setahun.

Ini artinya tahun depan masih ada pontensi besar iklan untuk koran. Jika melihat kondisi seperti ini, koran masih mempunyai kekuatan yang luar biasa. Tapi tentu ada kriteria-kriteria untuk bisa lebih berkembang lagi.

Di antaranya adalah hanya koran yang sangat lokal dan terbesarlah yang akan tetap hidup. Bahkan masih bisa berkembang. Bisa diibaratkan, koran lokal yang leader itu seperti wanita cantik nan seksi di tengah belantara digitalisasi, terutama sosial media.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh koran agar tetap “cantik” nan “seksi”? Mengutip hasil riset Tow Center for Digital Journalism, Colombia University, menarik dijadikan referensi. Judul naskah white paper tersebut adalah Local News in a Digital World: Small-Market Newspaper in the Digital Age.

Kesimpulan dari laporan tersebut adalah koran-koran lokal di Amerika masih tetap eksis dan tetap berani menyongsong masa depan mereka. Walau koran-koran tersebut beredar di wilayah yang sangat sempit dan bahkan oplahnya tidak terlalu luar biasa besar.

Pelajaran yang bisa diambil dari riset tersebut adalah koran sangat lokallah yang dibututuhkan pembaca. Koran-koran nasional, yang tidak jelas “bumi” yang dipijak, tentu itu yang pertama-tama terlibas arus digitalisasi. Maka pantas saja kalau koran-koran nasional di Amerika, sekarang menyediakan sesi khusus halaman lokal.

Koran-koran tersebut akan tetap bertahan di ranah cetak. Mereka lebih merasa  eksis di zona konvensional. Bahkan menghindar dari bujuk-rayu Facebook atau media sosial lainnya.

Bagaimana cara menghidupkan mesin uang koran lokal? Kunci dari bisnis koran adalah produk, oplah, iklan dan sumberdaya manusia (SDM). Semuanya harus tetap terus mendapat variasi sentuhan.  Supaya tidak begitu-begitu saja. Supaya ada terobosan -terobosan baru.

SDM juga begitu. Harus selalu ada regenerasi. Semangat lama yang tahan banting harus tetap dipertahan. Dikombinasikan dengan kerja cerdas generasi sekarang. Supaya jangan “lo lagi, lo lagi”. Mungkin istilah “selalu ada yang baru” itu lebih tepat.

Dengan kombinasi empat pilar tadi, bisa menggarap sesuatu yang khusus dan ultralocal. Baik itu koran, iklan, maupun berita. Mewartakan berita berita yang sangat khusus dan lokal, menjadi kekuatan utamanya. Yang itu sulit dilakukan oleh koran-koran nasional.

Dari sisi marketing, terus membina kedekatan fisik dengan pelanggan loyal. Diversifikasi revenue via program massa lokal, crowdsource dan partnership dengan stakeholder lain. Itu harus dilakukan di level hyper-super-duper-local.

Nah, hal-hal tersebut di atas yang akan menjadi pijakan Radar Cirebon di tahun 2018. Walau sesungguhnya Radar Cirebon sudah lama melakukannya. Sudah lama Koran Juara ini memiliki semangat spesial kelokalan. Bagi warga Kota Cirebon, ada Metropolis. Bagi warga kabupaten Cirebon ada rubrik Kabupaten Cirebon. Untuk Wong Dermayu ada Radar Indramayu. Di Kuningan ada Radar Kuningan. Bagi masyarakat Kota Angin ada Radar Majalengka.

Dari sisi tematikal juga banyak yang lokal. Ada halaman-halaman khusus. Dari kriminial, gaya hidup, olahraga hingga ekonomi dan keuangan.

Apakah Radar Cirebon tidak tertarik ke digitalisasi media: portal online dan media sosial? Nah, ini godaan yang amat menggiurkan. Karena, secara sadar media sudah ada di genggaman kita.

Tentu ini daya tarik tersendiri. Mungkin menyiapkan diri dan belajar ke ranah digitalisasi juga ada baiknya. Tapi tentu tetap konsentrasi penuh di koran. Karena dari data yang diuraikan Nielsen di atas, potensinya masih sangat luar biasa. (*)