oleh

Melihat Komunitas Masyarakat Batak Kuningan

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pepatah lama ini sangat dihayati oleh warga Batak, Sumatera Utara, yang tinggal di Kabupaten Kuningan. Mereka berbaur dengan warga setempat dan ikut dalam berbagai tradisi yang sering dilangsungkan. Misalnya ambil bagian saat karnaval budaya bertema Spirit Saunggalah dalam Kebhinekaan menyambut Hari Jadi ke-521 Kuningan.

Agus panther, Kuningan

PARTISIPASI komunitas masyarakat Batak Kuningan pada karnaval budaya, mungkin membuat sejumlah orang penasaran. Sebab pada karnaval ini, komunitas Batak Kuningan mampu mengikuti karnaval dengan usaha mereka sendiri. Bukan hanya itu, masyarakat Batak Kuningan juga berencana membuat wadah atau paguyuban agar jalinan silaturahmi antar warga semakin kuat. Rencananya, paguyuban tersebut akan segera dibentuk dalam waktu dekat ini.

“Mungkin ada yang penasaran, kita bisa ikut serta karnaval ini. Ya kami bersama-sama gotong-royong dari komunitas masyarakat batak Kuningan, sehingga bisa berjalan lancar,” kata ketua panitia karnaval komunitas masyarakat Batak Kuningan, Ungkap Sihombing.

Warga Batak Kuningan sendiri, kata Ungkap, beragam profesi. Ada yang menjadi PNS, polisi, jaksa, bekerja di pengadilan, pedagang, pengacara serta profesi lainnya. Meski beda profesi, namun mereka sangat guyub serta peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tak heran jika kemudian mereka dekat masyarakat di tempat tinggalnya.

“Kami mempunyai prinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, kami ikut membaur dan juga menghormati tradisi yang ada di sekitar kami tinggal. Selama ini, kami juga sering ikut dalam berbagai kegiatan sosial,” terang dia.

Ungkap juga menuturkan bahwa kehadiran warga Batak di Kuningan sudah terhitung cukup lama, Dia memperkirakan, masyarakat Batak di Kabupaten Kuningan sudah ada sejak tahun 1980.

“Sehingga diperkirakan sudah banyak yang terlahir juga di Kuningan. Sampai saat ini, sudah diperkirakan masyarakat komunitas Batak di Kuningan mencapai 350 KK, itu yang baru terdata belum pemuda-pemudi yang merantau ke Kuningan,” sebutnya.

Untuk jumlahnya, Ungkap mengatakan, semua orang Batak di Kuningan jika dihitung dapat mencapai sekitar 900 orang. Jumlah ini tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan.

“Kami berencana untuk membentuk paguyuban warga Batak Kuningan. Tujuannya untuk lebih dekat dan saling mengenal. Persiapan untuk membentuk paguyuban sedang dilakukan. Dalam beberapa waktu ke depan, kami yakin paguyuban yang dirancang akan segera terbentuk,” papar dia kepada Radar.

Sementara anggota Komunitas Batak Kuningan, Rokom Rajaguguk ditemani Sari Lungguk Nababan dan Rahmat Hutagalung menilai, dengan jumlah yang begitu besar sudah sepantasnya komunitas orang Batak Kuningan disatukan dalam bentuk panguyuban.

“Di mana rencana tersebut sudah mulai dirumuskan untuk membentuk panguyuban tersebut. Sehingga dengan adanya panguyuban itu, diharapkan komunitas masyarakat Batak Kuningan dapat terdata yang merantau ke Kuningan,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyampaikan, jika ada kegiatan kebudayaan atau berkaitan dengan komunitas adat seperti dari Batak Kuningan, dapat melayangkan surat resmi ke sekretariat sementara di Perum Korpri Cigintung Kabupaten Kuningan.

“Jadi kalau misalnya ada undangan dan pemerhati ingin menghadirkan kebudayaan atau yang berkaitan dengan komunitas kami, dapat mengundang secara resmi ke tempat yang ditunjuk sementara di Perum Korpri Cigintung,” pungkasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed