oleh

Melihat Riwayat Cirebon Bersama Foto-Foto Lawas

MELIHAT foto-foto tempo dulu seperti berpetualang dengan mesin waktu dan mempelajari bagaimana keseharian orang-orangnya. Banyak hal menarik yang kita temukan dari tempo dulu yang ternyata amat berbeda dengan sekarang.

Tengok saja dari koleksi perpustakaan Universitas Leiden yang menghimpun foto-foto Cirebon tempo dulu. Menarik, tahun 1905 tersimpan foto wanita berpakaian Eropa mendatangi Toko Hornung dan mobil sport tahun 1927 di Cirebon. Tampak juga foto Hotel Canton yang juga dikenal Rumah Karang Anom, antara tahun 1930-1940

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perpustakaan yang berusia lebih 429 ini punya banyak koleksi tentang Indonesia dan termasuk didalamnya Cirebon. Koleksi manuskrip kunonya bahkan lebih banyak ketimbang yang dimiliki Perpustakan Nasional Republik Indonesia.

Saat ini perpustakaan Leiden punya 5,2 juta buku, 44,000 jurnal elektronik dan lebih dari sejuta buku elektronik. Setidaknya begitulah menurut laporan libraries.leiden.edu. Selain itu terdapat 60 ribu manuskrip kuno, 500 ribu surat, 100 ribu peta, 12 ribu gambar, dan 300 ribu foto.

Perpustakaan yang mulai dibuka sejak 31 oktober 1587 ini, artinya hari ini genap berusia 429 tahun, menyimpan banyak koleksi tentang Indonesia. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Sri Sulasih, 26 ribu manuskrip kuno tentang Indonesia ada di Universitas Leiden. Sementara Perpustakaan Nasional sendiri hanya mengoleksi 10,3 ribu manuskrip kuno. Tak sampai separuh dari yang dimiliki Perpustakaan Leiden.

Perpustakaan Leiden punya bagian yang menyimpan koleksi khusus tentang Asia Tenggara. Selain koleksi tentang Asia Tenggara, sebagai perpustakaan kampus juga memiliki perpustakaan yang mengoleksi tentang ilmu-ilmu sains, hukum, dan sosial. Semuanya di kota Leiden. Sementara Library Learning Centre-nya berdiri di Den Haag. Di Jakarta sendiri terdapat wakil Perpustakaan Leiden, yakni Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) Jakarta di Jalan Rasuna Said, yang juga menjadi alamat dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.

Sebut saja namanya Galih. Pemuda asal pedalaman Jawa ini pernah diharuskan ke Belanda untuk menyelesaikan tugas akhirnya mengenai tokoh Islam di Indonesia era kolonial Belanda. Dengan susah payah, Galih akhirnya berangkat juga.

Leiden adalah tempat yang dia tuju untuk mencari data yang dibutuhkan guna menyelesaikan tugas akhir magisternya. Selama sebulan penuh, Galih mengikuti jejak sejarawan berpengaruh Sartono Kartodirjo yang meneliti Pemberontakan Petani Banten 1888. Sartono juga mencari bahan sampai ke Leiden. Bedanya Sartono membuat disertasi.

Tentu saja Galih bukan satu-satunya. Para sejarawan yang meniliti zaman kolonial Hindia Belanda wajib hukumnya ke Leiden jika mencari referensi. Begitu juga orang-orang yang ingin mendalami bahasa daerah di Indonesia. Terdapat 26 ribu manuskrip kuno asal Indonesia yang terhimpun di sana. Selain manuskrip-manuskrip di Leiden, arsip-arsip di Arsip Nasional Belanda di Amsterdam juga jadi tempat yang yang harus dikunjungi.

Tak hanya belajar sejarah dan bahasa, orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Leiden diantara adalah ahli hukum berpengaruh seperti Koesoemah Atmadja, Soenario Sastrowardoyo, Achmad Soebardjo, Christian Soumokil dan Alexander Maramis. Semuanya bergelar Meester in Rechten (Mr).

Soal siapa yang lebih dulu belajar dan menikmati fasilitas perpustakaan Leiden, nama Husein Djajadiningrat harus disebut. Seabad sebelum Galih, Husein Djajadiningrat asal Banten, berhasil merampung disertasinya, Tinjauan Kritis Sejarah Banten tahun 1913. Sponsor Husein semasa kuliah dan merampungkan tugas akhirnya adalah Christian Snouck Horgronje, nama besar dalam studi tentang negeri-negeri timur jauh di masa kolonial. Snouck juga lulusan Universitas Leiden.

Snouck mendalami Islam juga di Leiden. Karena perpustakaan Leiden pula, Snouck bisa hafal Al Quran. Ia merampungkan disertasi tentang ibadah haji yang berjudul Perayaan Mekkah pada 1880. Ketika itu dia belum pernah sama sekali ke Mekkah.

Setelah itu, Snouck pernah menjadi dosen bagi para calon pegawai kolonial asal Belanda yang akan dikirim ke Hindia Belanda. Leiden punya jurusan Indologi di zaman kolonial. Para calon pegawai kolonial itu idealnya harus paham soal daerah koloni yang kini bernama Indonesia itu. Bahkan calon Raja Jawa yang ketika itu diberi nama Dorodjatun pernah dikirim belajar di jurusan Indologi di Leiden. Namun, karena ayah Dorodjatun meninggal, mau tidak mau Dorodjatun meninggalkan kuliahnya dan harus menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Menurut Fances Gouda, dalam Dutch Culture Overseas (2007), mereka harus merasakan, “Pendidikan modern, yang menyerap kurikulum akademis yang kaya dan beragam, yang memadukan mata kuliah seperti geografi, sejarah dan agama-agama di Indonesia, hukum Islam dan hukum adat, prinsip-prinsip bahasa… baik bahasa Melayu atau Jawa maupun bahasa pribumi lainnya.”

Untuk semua itu, Leiden memberikan banyak bahan untuk menunjang pengenalan pegawai kolonial Belanda yang akan dikirim dan menjadi birokrat di Hindia Belanda. Tak sia-sia Willem van Orange membangun kampus dan dan juga perpustakaan di Leiden tersebut.

Saat ini koleksi Perpustakaan Leiden itu tak hanya buku-buku dan manuskrip-manuskrip kuno Indonesia saja. Buku-buku mutakhir beberapa tahun terakhir soal sejarah, sastra, politik, sosial dan tema-tema lain juga jadi koleksi perpustakaan Indonesia. Dari penulis atau peneliti terkemuka sampai yang kurang dikenal juga diboyong perpustakaan ini untuk pergi ke Belanda dalam berbagai urusan, dari riset sampai ceramah.

Indonesia, bagi Leiden dan juga kampus-kampus yang punya pusat studi kawasan Asia Tenggara atau Indonesia, masih menarik. Sekalipun status Indonesia sudah mantan (koloni). (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed