Mempersoalkan Konsep City of Thousand Pilgrimage ala Kota Cirebon

ilustrasi

City of Pilgrimage muncul dalam Road Map Pariwisata Kota Cirebon. Meskipun signing ini baru sebatas draf. Namun telah menghadirkan pro kontra di masyarakat. Apalagi ketika tagline ini mengggunakan bahasa Inggris. Yang istilahnya juga perlu dikaji. Agar tidak membuat turis nantinya salah paham.

Baca: City of Thousand Pilgrimage Sudah Cocok? Turis Mancanegara Bisa Salah Paham

Sebenarnya apa yang bagus dan buruk dari konsep City of Pilgrimage sebagai kota kreatif?

“Ada hantu berkeliaran di Eropa sejak ekonom Amerika Serikat (AS) Richard Florida meramalkan bahwa masa depan dimiliki kota-kota yang pekerja kreatifnya merasa betah.”

Kalimat nyentrik itu ditegaskan dalam Manifesto Not in Our Name (NiON), sebuah jaringan pekerja kreatif yang berbasis di Hamburg, Jerman. Ia mencoba meniru kalimat pembuka Manifesto Partai Komunis(1848), yang disusun Karl Marx dan Friedrich Engels, berbunyi “Ada hantu berkeliaran di Eropa – hantu Komunisme”.

Jika dulu Marx dan Engels menyerukan manifesto kepada para kaum pekerja di seluruh dunia untuk bangkit melawan kaum borjuis, NiON mengeluarkan manifesto sebagai serangan kepada para pemimpin kota yang semakin berorientasi pertumbuhan dan pendekatan gentrifikasi terhadap pembangunan perkotaan dan penerapan kebijakan “kota kreatif” yang digagas Richard Florida dan Charles Landry.

Pada 2002, Richard Florida meluncurkan sebuah buku berjudul The Rise of Creative Class. Gagasan mengenai peran pekerja dan ekonomi kreatif pun terus dikemukakannya melalui buku-buku berikutnya, seperti Cities and the Creative Class (2004) dan The Flight of the Creative Class (2006).

Menurut Florida, pertumbuhan ekonomi dan inovasi amat didorong pekerja kreatif yang terdiri dari dua komponen utama.

Komponen pertama adalah kelompok “inti super-kreatif”. Kelompok ini meliputi profesi yang fungsi ekonominya menciptakan gagasan baru, teknologi baru, dan konten kreatif dalam ranah sains, rekayasa, pemrograman komputer, pendidikan, dan penelitian. Kelompok inti tersebut juga terdiri dari para bohemian: individu artistik yang bekerja dalam bidang seni, media, dan hiburan. Contoh dari profesi ini misalnya penulis dan sutradara film.

Sementara itu, komponen kedua adalah mereka yang bekerja pada tempat yang berbasis pengetahuan, seperti bisnis keuangan, hukum dan perawatan kesehatan.

Buku ini kemudian menjadi rujukan para pemangku dan periset kebijakan ekonomi kreatif, atau spesifiknya kota kreatif, hampir di seluruh dunia. Guna memberi perhatian khusus terhadap sektor ini, pada 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Kementerian Ekonomi Kreatif dan Pariwisata. Kemudian, sejak Jokowi menjadi presiden pada 2014, urusan ekonomi kreatif ditangani oleh lembaga non-kementerian bernama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Melalui situswebnya, Bekraf pernah melansir 10 kabupaten/kota kreatif di Indonesia: Padang, Malang, Surabaya, Bali, Banyuwangi, Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Bandung, dan Pekalongan. Sementara itu, Creative Cities Networks yang dibentuk UNESCO mengakui Bandung sebagai City of Design dan Pekalongan sebagai City of Crafts & Folk Art.

Mendapat label “kota kreatif” belakangan menjadi dambaan. Ia pun merasuk dalam perbincangan para politikus. Misalnya, saat pemilihan kepala daerah para pasangan calon kerap menjanjikan kotanya sebagai kota kreatif.

Sayangnya, tidak banyak diskusi tentang konsep pekerja kreatif ala Florida. Apakah konsep itu dapat diterapkan begitu saja di setiap kota/tempat?

Pada 2012, melalui The New Geography of Jobs, Enrico Moretti mengkritik argumen utama Florida. Ia mempersoalkan argumentasi Florida yang menyatakan bahwa menjadikan kota sebagai tempat tinggal yang menarik – sehingga para pekerja kreatif betah tinggal di sana – dapat menjadi motor perkembangan ekonomi.

Dia mencontohkan kota Seattle di AS. Kota itu mulanya sedang bertahan dari perekonomian yang buruk dan turunnya populasi penduduk. Namun ketika Microsoft pindah dari New Mexico ke kota tersebut pada 1980-an, Seattle berubah menjadi pusat perangkat lunak dengan banyak perusahaan inovatif.

Hal tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi akibat perpindahan Microsoft ke Seattle yang pada akhirnya menghasilkan tempat tinggal yang menarik para pekerja kreatif bidang teknologi dan pemrograman komputer, dan bukan sebaliknya.

Selain Seattle, Morreti juga mencontohkan kota Berlin yang kerap disebut sebagai “salah satu kota terkeren di dunia” dan “magnet bagi orang-orang kreatif di seluruh penjuru Eropa”.

“Kota (Berlin) ini mendapat manfaat dari masa lalunya sebagai kota yang terbelah: ada dua kebun binatang, tiga rumah opera besar, tujuh orkestra simfoni, dan sejumlah museum merupakan warisan dari kompetisi Perang Dingin selama empat puluh tahun,” ujar Morreti.

Namun, di balik label kreatif yang melekat pada Berlin, ibukota Jerman itu sesungguhnya memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Jerman selama 10 tahun terakhir hingga 2012. Angka itu hampir dua kali lipat dari rata-rata tingkat pengangguran nasional. Berlin juga memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita terendah kedua di Jerman. Bahkan jumlah pekerja kreatif menganggur di kota ini mencengangkan. Ada 30% ilmuwan sosial, dan 40% seniman menganggur.

Masih pada tahun yang sama, pada Mei 2012, Florida menjawab kritik Morreti tersebut. Menurutnya Berlin adalah kasus khusus. Terbelahnya Berlin setelah Perang Dunia II menjadi dua wilayah, Timur yang menganut komunisme dan Barat yang memuja kapitalisme, membuat sebagian besar saintis, insinyur, pekerja seni, dan inovator kebudayaan pergi ke Berlin Barat. Sejumlah bank seperti Deutsche Bank, Commerz Bank, Dresdner Bank, perusahaan asuransi Allianz, dan industri elektronik seperti AEG dan Siemens pun melakukan tindakan serupa.

Florida juga menjelaskan Berlin yang kini menjadi hub atau pusat perlintasan teknologi di Eropa. Sejumlah perusahaan seperti SoundCloud dan DeliveryHero memilih Berlin sebagai markas pusat kinerja teritorial mereka di Eropa. Pendiri perusahaan rintisan (start-up)BuddyGuard yang berbasis d Berlin, Wouter Verhoog, pada pertengahan 2016 menyatakan satu perusahaan rintisan didirikan setiap 20 menit sekali di Berlin.

Dalam artikelnya “What Critics Get Wrong About Creative Cities”, Florida menyitir pernyataan ahli geografi Malenie Fasche yang tinggal di Berlin dan melakukan banyak studi mengenai persinggungan kreativitas seni dan perkembangan teknologi di sana.

“Berlin sebenarnya adalah contoh yang sangat bagus mengenai paradigma kerja kota kreatif. Di sini, seni dan budaya telah berkembang secara organik. Dalam hal pembangunan ekonomi, Berlin bukan lagi hanya harapan untuk kebebasan individu tapi juga semakin harapan bagi kemakmuran individu. Berlin telah menjadi perbatasan bagi pengusaha mikro dan kecil yang sangat ingin mewujudkannya,” sebut Fische, sebagaimana dilansir oleh Florida.

Lima belas tahun setelah menerbitkan The Rise of Creative Class, pada April 2017 Florida menerbitkan sebuah buku bertajuk The New Urban Crisis.

Florida berpendapat bahwa pekerja kreatif memang telah menguasai banyak kota-kota besar di dunia, namun mereka juga mencekiknya hingga mati. Hasilnya, 50 area metropolitan terbesar di dunia hanya mencakup 7 persen seluruh populasi dunia, namun menghasilkan 40 persen pertumbuhannya. Sementara itu, di sisi lain, kecanduan narkoba dan kekerasan antar kelompok menyebar ke pinggiran kota.

“Lebih dari sekedar krisis kota. New Urban Crisis adalah krisis utama zaman kita – sebuah krisis di pinggiran kota, sebuah krisis dalam urbanisasi itu sendiri, dan sebuah krisis kapitalisme kontemporer,” tegas Florida.

Bagi sejarawan kawasan perkotaan dari York University, Sam Wetherell, buku ini adalah bentuk permintaan maaf Florida. Namun, menurut Wetherell, solusi yang ditawarkan Florida untuk krisis-krisis tersebut sangat sederhana, hanya berkisar perumahan yang lebih terjangkau, investasi lebih banyak di bidang infrastruktur, dan gaji yang lebih tinggi untuk pekerjaan layanan.

Tentunya, City of Pilgrimage sebagai kota kreatif dalam Road Map Pariwisata Kota Cirebon “Memahami perilaku warga lokal terhadap perkembangan pariwisata itu amat penting untuk kesuksesan dan keberlangsungan berbagai jenis pengembangan pariwisata.”

Kalimat menarik itu bisa dibaca di pembukaan makalah “Locals’ Attitudes toward Mass and Alternative Tourism: The Case of Sunshine Coast, Australia” (2010). Ia menunjukkan poin sederhana untuk melihat bagaimana pariwisata bekerja. Persepsi warga lokal terhadap pariwisata akan memengaruhi sikap mereka.

Dalam teori pariwisata yang diungkapkan oleh Dogan Gursoy dan K.W Kendall (2006), warga lokal akan dengan senang berpartisipasi jika mereka mendapat manfaat tanpa mengorbankan terlalu banyak hal. Jika manfaat lebih besar ketimbang dampak negatif, mereka akan mendukung pengembangan pariwisata di daerah mereka. Sebaliknya, jika kerugian yang terjadi akibat pariwisata dianggap lebih besar —mulai dari kerugian budaya, maupun kerusakan alam— ketimbang manfaat, mereka akan mulai melawan. (*)