Menanti Modernisasi Saudi lewat Visi 2030

Catatan Perjalanan Haji
YANTO-S-UTOMO

VISION 2030. Tulisan ini sangat sering dijumpai di mana-mana. Di baliho, spanduk, buku-buku panduan sampai name card jamaah. Selama di Arab Saudi, selalu menemukan tulisan itu di sisi kanan kiri jalan.

Jamaah banyak yang bertanya apa maksud tulisan tersebut. Vision 2030 adalah proyeksi dan visi Arab Saudi tahun 2030. Banyak sekali poinnya. Tapi intinya Arab Saudi ingin mengurangi ketergantungan kepada minyak. Bahasa kiasnya, Negeri Bani Saud ini ingin melupakan indahnya bersama minyak.

Ya, seolah kerajaan penjaga Haramain ini ingin hidup tanpa minyak. Bahkan ada seloroh jika negeri itu ingin hidup normal seperti Qatar dan Uni Emirat Arab. Dua negara ini bisa maju, tanpa mengandalkan minyak. Visi itu sudah beberapa tahun yang lalu dibuat.

Ini adalah langkah pembenahan secara total ekonomi Arab Saudi. Pemicunya sejak anjloknya harga minyak hingga di bawah 50 dolar AS per barel, pada tahun 2015.

Sektor minyak yang pernah berjaya dari tahun 1938 hingga 2014 sedikit demi sedikit tak begitu dilirik kembali.

Padahal, dulu Arab Saudi dikenal sebagai negara kaya minyak. Maka julukannya pun Negeri Petro Dolar. Cadangan minyaknya masih banyak. Mencapai 268 miliar barel. Seperlima cadangan minyak dunia ada di Saudi. Labelnya pun sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

Era pun berubah. Akibat turunnya harga minyak tersebut membuat defisit anggaran hingga mencapai 100 miliar dolar AS. Ekonomi negara itupun terguncang. Saudi pun tersadar. Maka keluarlah jurus pamungkas, Vision 2030. Apa misi utamanya? Yakni gagasan dan kerja keras untuk menaikkan derajat Arab Saudi lebih modern.

Ada target-target yang telah dicanangkan untuk menjadi modern. Setara dengan Qatar, Uni Emirat Arab, bahkan Eropa. Yang utama melepaskan ketergantungan minyak pada tahun 2020. Meningkatkan ekspor non-minyak hingga 50 persen. Menekan angka pengangguran dari 11,6% menjadi 7%. Menaikkan kontribusi swasta dari 40% menjadi 65% dari PDB. Juga mengharapkan peningkatan partisipasi perempuan dari 20% menjadi 35%.

Banyak yang pesimistis dari visi itu. Bahkan visi tersebut dianggap muluk-muluk. Realitasnya apakah masyarakat bisa menerima jika tiba-tiba Arab Saudi menjadi modern? Juga ulamanya. Jangan lupa salah satu kekuatan besar di sana, selain kerajaan adalah ulama. Kerajaan bisa membuat aturan apa saja, tapi kalau ulama tidak setuju, bisa memicu konflik horisontal.

Misalnya dalam visi 2030 sektor pariwisata. Ingin menjadikan padang pasir dan sekitaran Laut Merah seluas 35.000 km persegi untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di tempat itu akan dibangun fasilitas-fasilitas penunjang sektor pariwisata. Ada hotel-hotel dan tempat-tempat hiburan.

Saya tidak bisa membayangkan pro-kontra rencana industrialisasi industri pariwisata tersebut, bila benar-benar dilaunching. Apakah masyarakat dan ulama setempat setuju dengan rencana itu?

Rumit dan sepertinya sulit terwujud. Sebab pengalaman Jeddah yang menjadi kota bebas saja, terus dikeluhkan dan dikritisi berbagai pihak. Paling keras ulama. Jeddah dinilai sebagai kota “rusak”. Momok untuk kelanjutan akhlak generasi muda setempat.

Apalagi jika Laut Merah dan padang pasir itu menjadi kota pariwisata. Bisa jadi kondisinya lebih parah dari Jeddah. Maka wajar jika visi itu dinilai ambisius dan prestisius. Misal sejak visi itu diluncurkan belum kelihatan geliatnya.

Satu-satunya sektor non-minyak yang sudah kelihatan hasilnya justru haji dan umrah. Yang lainnya masih terkendala kultur dan regulasi. Pada tahun 2030 diproyeksikan kunjungan haji mencapai 15 juta jamaah. Sedangkan umrah diharapkan bisa mendatangkan 30 juta jamaah. Berarti lebih dari 3 kali lipat jamaah tahun 2018 ini yang sekitar 4 juta jamaah haji.

Tapi proyeksi itu juga sulit terwujud jika tidak ada perbaikan di sarana dan prasarana haji dan umrah. Yang paling vital adalah Masjidilharam Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Kalau tidak ada perluasan dan tidak segera diselesaikan renovasi, tak mungkin bisa menampung jamaah sebanyak itu.

Misalnya hari Jumat kemarin. Masjidilharam membeludak. Jam 9 pagi sudah tutup gate. Halaman penuh. Sebagian salat di dalam mal-mal dan hotel-hotel sekitar masjid. Itu baru 4 juta jamaah. Dari jumlah itu sebagian sudah kembali dan ke Madinah. Bagaimana kalau 15 juta? Tak terbayang.

Namun demikian hanya sektor ini yang realistis mendukung program nonminyak. Karena negara ini sadar memiliki dua kota suci. Makkah dan Madinah. Apalagi jika pemerintah setempat serius bisa meningkatkan dua kota itu menjadi 100 kota besar dunia, visi dari haji dan umrah bisa tercapai. Kita tunggu saja. Seperti apa Arab Saudi tahun 2030 nanti. (*/habis)