Mengulas Hikmah Ramadhan

HARI ini bisa jadi merupakan hari terakhir Ramadhan, tanpa terasa Ramadhan yang penuh berkah begitu cepat berlalu, saat paling indah dalam kehidupan orang-orang beriman akan berlalu, suasana yang penuh dengan kebaikan akan berakhir, apakah juga akan berakhir nilai-nilainya dari diri-diri kita?  apakah kita sudah mendapati hasil terbaik dari madrasah Ramadhan?

Ramadhan bagi orang-orang beriman bukan hanya sekedar bulan untuk beribadah puasa tetapi ada banyak pelajaran yang dapat diambil yang dijadikan sebagai panduan dalam menjalani kehidupan untuk satu tahun kedepan, saat mulai pudar nilai-nilainya maka akan Allah datangkan kembali Ramadhan.

Nilai ketaqwaan dari Ramadhan yang sering disebutkan dalam berbagai moment dan kesempatan, haruslah mulai dilacak dan dirasakan, dan apakah itu ada pada diri-diri kita ?

Allah ta’ala mengisyaratkan hal tersebut didalam firan-Nya yang maknanya :”Dan agar kalian menyempurnakan bilangan puasanya, dan bertakbir kepada Allah, agar kalian menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-Baqarah:185)

Ayat tersebut memerintahkan kepada kita tiga perkara yaitu :

  1. Menyempurnakan palaksanaan shaum Ramadhan sampai berakhirnya bulan yaitu saat hilal bulan Syawal terlihat.
  2. Bertakbir kepada Allah atas petunjuk yang Allah berikan kepada kita yaitu dengan dimudahkannya pelaksanaan ibadah dibulan oleh Allah ta’ala.
  3. Agar kita menjadi orang-orang yang selalu bersyukur kepada Allah ta’ala.

Mari kita memahami nilai- nilai tersebut dan menerapkannya dala kehidupan, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk selalu :

  1. Menghadirkan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan, yaitu agar setiap gerak langkah kita bahka diamnya kita merupakan ibadah kepada Allah ta’ala, bagaimana itu terealisasi ? yaitu dengan mengetahui dan menerapkan hukum-hukum yang terkait dengan setiap perbuatan kita, apa yang diperintahkan maka kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk melaksanakannya dan apayang memberikan kutamaan diakhirat maka kitapun berusaha menghadirkannya walaupun hanya menyingkarkan sebatang paku dari jalan manusia agar mereka tidak terkena keburukan, demikan pula dengan apa yang dilarang atau diharamkan maka kita harus bertekad kuat untuk meninggalkannya atau menghentikannya, semua itu kita lakukan karena beriman kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya diakhirat dan takut terhadap adzab-Nya.
  2. Membiasakan untuk berdzikir kepada Allah ta’ala, karena diantara bukti kecintaan seorang hamba kepada penciptanya adalah selalu mengingat dan menyebut nama-nama-Nya dalam keadaan apapun.
  3. Selalu mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah ta’ala, karena kehidupan yang dirasakan oleh seorang hamba apapun bentuknya adalah ni’mat dari Allah ta’ala, bahkan walaupun suatu keburukan yang menimpa seorang hamba tetap itu adalah ni’mat yang Allah limpahkan kepada hamba tersebut, sebab apabila seorang hamba yang mendapatkan keburukan dalam kehidupannya apakah penyakit atau sempitnya rizki atau keburukan lainnya maka hal itupun merupakan ni’mat karena bila seorang hamba ridha dengan apa yang dia dapatoi dari hal itu maka sesungguhnya Allah ta’ala sedang memberinya ni’mat yaitu : dilimpahkan pahala, dihapuskan dosa-dosanya, disiapkan tempat terbaik diakhirat, dan ditinggikannya derajat dll.

Apalagi Allah menyampaikan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak akan meridhai hamba-hamba-Nya kecuali bila hamba tersebut bersyukur kepada Allah ta’ala, seperti yang disebutkan didalam firman-Nya yang maknanya :”Jika kalian bersyukur maka Allah ridha kepada kalian.” (QS. Az-Zumar:7)

Itulah nilai-nilai yang Allah ta’ala inginkan dari kita, maka kapankah kita memulai untuk menanan dan menerapkanya pada diri dan kehidupan kita ?

Oleh karenanya  Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada seorang sahabatnya yang mulia yaitu Mu’adz bin Jabal agar tidak meninggalkan untuk mengucapkan doa permohonan pertolongan kepada Allah agar selalu diberi pertolongan untuk bisa melakukan ketiganya, yang disebutkan dalam doa berikut yang artinya :”Ya Allah berilah aku pertolongan untuk bisa selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.”

Dan itulah hakekat ketaqwaan bagi seorang hamba, barangsiapa dimudahkan oleh Allah ta’ala untuk melakukannya berarti dia adalah hamba yang diinginkan oleh Allah ta’ala untuk mendapatkan niali taqwa, semoga Allah senantiasa mengiringi langkah kita kepada kebaikan dan menjauhkan kita dari segala keburukan serta menerima segala amal shaleh kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita serta memberikan ketaqwaan pada diri-diri kita, amiiin.(*)

Berita Terkait