Mengungkap Kontroversi Naskah Wangsakerta

Kota Cirebon

CIREBON – Keberadaan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta hingga kini dikesankan mengambang oleh para ahli sejarah. Ada tiga sikap pandang yang muncul hingga saat ini, pertama, keberadaan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta benar-benar palsu dan bukan karangan Pangeran Wangsakerta pada akhir abad 17 hingga tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah pada abad 17 M ke belakang; kedua, keberadaan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu benar teksnya disusun Pangeran Wangsakerta pada abad 17 hingga bisa dipakai sebagai sumber sejarah dan memperkaya gambaran sejarah Indonesia sejak awal hingga abad 17; ketiga, keberadaan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta terus tergantung masalahnya, tidak ditemukan jalan penyelesaiannya.
“Saya ingin keberadaan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu tidak lagi terus menggantung masalahnya dan bisa ditemukan penyelesaiannya,” papar Peneliti Naskah Wangsakerta, Dosen Filologi Unpad Bandung, Dr. Undang A. Ahmad Darsa di Festival Gotrasawala Cerbonan, 14-15 Desember 2013.
Menurutnya, Naskah-naskah Wangsakerta, jelas penulisnya seorang yang berpikiran ‘maju’ untuk zamannya. Patut diingat bahwa dalam naskah-naskah Wangsakerta belum tersentuh oleh para ahli sejarah modern. Berkat petunjuk dari kolofon naskah Pustaka Caruban Nagari karya Arya Cirebon tahun 1720 dan naskah Pustaka Pakungwati Carbon karya Wangsamanggala dan Tirtamanggala tahun 1779, menyebut rujukan naskah Pustaka Nagara Kretabhumi, akhirnya tabir keberadaan naskah-naskah Wangsakerta memakan waktu penulisan sekitar 21 tahun (1677-1698) dapat diketemukan kembali secara berangsur-angsur dalam waktu selama 12 tahun (1974-1985) oleh Drs. Atja.
Naskah Pangeran Wangsakerta terbuat dari bahan kertas daluang dengan sampul kertas karton dibungkus kain blacu putih dan warna kecoklat-coklatan. Tinta warna hitam. Ukuran aksaranya 5 mm. Bahasa dan aksara yang digunakan model bahasa Jawan Kuno dan aksara Jawa yang bercirikan kebudayaan Pesisir-Cirebon.
Diungkapkan, penyusunan naskah Wangsakerta ini terlebih dahulu diadakan musyawarah untuk menguji kebenaran bahan karangan yang berasal dari berbagai riwayat yang dibawa sejumlah peserta dari berbagai negeri. Isi riwayat beraneka macam, seperti riwayat beberapa kebijaksanaan tertulis beberapa kerajaan di nusantara, uraian etika politik, prasasti, peraturan kerajaan, ajaran agama, silsilah, dan kisah keluarga raja. Adapun peserta musyawarah disebutkan terdiri atas sang pinakadi, sang mahakawi, sang jurukatha, mentri, patih, duta kerajaan, duta wilayah, ahli nujum, penghulu, guru besar agaman sang gotrasawala, sang adyaksa yang tujuh dan Pangeran Wangsakerta sebagai pemimpin musyawarah. Musyawarah itu dilaksanakan di Paseban Kesultanan Kasepuhan Cirebon. (wb)