Wednesday, Mar 10th

Last update:06:04:58 PM GMT

You are here: Metropolis Kabupaten Cirebon Virus Flu Burung Serang 4 Desa

Virus Flu Burung Serang 4 Desa

E-mail Cetak PDF

Penyebaran Masih
dari Hewan ke Hewan

PALIMANAN - UPT Puskeswan Kaliwedi, Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon, menemukan kasus penyebaran virus jenis H5N1 atau yang lebih dikenal virus flu burung di empat desa yang tersebar di tiga kecamatan. Yakni Desa Ciawi, Kecamatan Palimanan, Desa Danawinangun dan Desa Pekantingan, Kecamatan Klangenan dan Desa Kedungsana, Kecamatan Plumbon.

Kepala UPT Puskeswan Kaliwedi Suharto mengatakan, penyebaran virus itu hanya baru dari hewan ke hewan. Dari ketiga kecamatan tersebut belum ada korban yang positif terkena virus tersebut.
“Kami akan selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes),” katanya kepada Radar, kemarin.
Sejauh ini, ujar Suharto, kecamatan yang sudah melapor terkait banyaknya ayam yang mati yaitu Kecamatan Jamblang, Gempol, Ciwaringin, Susukan, Arjawinangun dan Kaliwedi.
“Kami harap warga segera melapor ke desa ketika menemukan ayam yang mati mendadak, agar kami bisa melakukan upaya preventif,” ujarnya.
HASIL LAB BELUM KELUAR
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) dr Hj Rinny R Sechan MARS melalui Kasie Pemberantasan Penyakit, Raharjo SKM kepada Radar membenarkan
jika Duramhan Suherman  (DS) warga Kelurahan Tukmudal, Kecamatan Sumber di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati (RSUDGJ) karena diduga terindikasi penyakit flu burung (H1N5).
Menurutnya, yang bersangkutan dirujuk ke rumah sakit tersebut karena sebelum mengalami demam DS kontak dengan ayam yang mati mendadak. Karena khawatir terindikasi flu burung, akhirnya dirujuk ke RSUDGJ untuk dirawat karena RSUDGJ memiliki fasilitas merawat pasien flu burung.
Namun demikian, Raharjo menegaskan cek darah yang diperiksa di laboratorium sampai saat ini belum bisa diketahui apakah positif atau negatif flu burung.
“Untuk saat ini kami belum bisa memberikan penjelasan diagnosa, karena  harus menunggu sepekan dari pemeriksaan laboratorium,” tandasnya.
Terpisah, anggota Komisi II DPRD, Yuningsih SAg mendesak kepada dinas terkiat dalam hal ini Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan (Distanbunakhut) dan Dinkes untuk tanggap dan menangani persoalan ini dengan cepat. Terlebih persoalan flu burung cukup membahayakan nyawa manusia.
“Kalau perlu Dinkes membebaskan biaya perawatan, terlepas nantinya positif atau negatif terkena flu burung,” ungkapnya.
Politisi asal PKB itu mengaku mendengar ada warga Kabupaten Cirebon yng dirawat karena sebelumnya kontak langsung dengan ayam  mendadak mati dan menyebabkan demam.
“Mudah-mudahan di wilayah Timur Cirebon tidak sampai terjadi hal tersebut,” pungkasnya. (say/abd)