Misteri Geger Laskar Santri Kedondong

KH Zamzami Amin menunjukkan sebuah pohon Jati dan Sawo yang ada di tengah pematang sawah Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin yang menjadi saksi sejarah kegigihan Ki Bagus Rangin dalam memimpin pasukan melawan penjajah Belanda dan koalisinya di Perang Kedondong. Warga setempat menyebut lokasi tersebut sebagai Kebon Tiang (Foto: Okri Riyana Radar Cirebon)

Salah satu sejarah lokal yang belum banyak dikaji secara lengkap dan komprehensif adalah sejarah mengenai Perang Bagus Rangin atau biasa disebut Perang Kedondong.

radarcirebon.com bersyukur bertemu dengan KH. Zamzami Amin, Pengasuh Pondok Pesantren Mu’alimin-Mu’alimat Babakan Ciwaringin Cirebon. Dilihat dari kurun silsilah terkait dengan Perang Kedondong, KH Zamzami Amin bin KH Amin Chalim bin KH Muhammad bin KH Ismail bin KH Sailan bin KH Nurhasan bin Ki Layaman bin Syekh Muhyidin atau lebih dikenal dengan Buyut Muji.

Saat bertemu dengan KH Zamzami Amin, beliau menjelaskan dengan rinci tentang perlawanan Bagus Rangin, Bagus Serit, Bagus Jabin, dan Nairem dalam peristiwa Kedondong 1802-1919 di Cirebon. Protes sosial rakyat Cirebon dari tinjauan Perang Kedondong melawan tentara kolonial Belanda, tidaklah sekecil yang diperkirakan orang. Penjajahan Belanda di Cirebon 1802-1919 adalah peristiwa sejarah yang sungguh terjadi. Dalam waktu yang sama di Yogyakarta terjadi perlawanan Pangeran Diponegoro dari tahun 1825-1830.

Penjajahan kolonial Belanda di Cirebon adalah rangkaian peristiwa  yang tidak terpisahkan dari peristiwa Perang Diponegoro, dan pembentukan sistem pesantren yang menjamur di wilayah Babakan Ciwaringin Cirebon. Perlawanan rakyat Cirebon tidak terjadi setiap tahun. Terhitung sejak 1802 hingga 1812 perlawanan dipimpin  Bagus Rangin, periode kedua di tahun 1816 hingga 1818 dipimpin Jabin dan Nairem.

Peta persembunyian dan markas perlawanannya di daerah Jatitujuh, Waringin, Baruang Kulon, Bantarjati, Pamayahan, Depok, Ciminding, Sumber, Gegunung, Watubelah, Nagarawangi, Pagebangan, Sukasari, dan Sindanghaji. Sementara, wilayah pergerakannya, di Majalengka, sungai Cimanuk, Indramayu, Karawang, Subang, Plered, Palimanan, Susukan wilayah desa Kedondong.

Perang Kedondong, menurut KH Zamzami Amin, dalam bukunya berjudul “Sejarah Pesantren Babakan Ciwaringin dan Perang Nasional Kedondong 1802-1919”  berbeda dengan Perang Pangeran Diponegoro atau Perang Jawa 1825-1830. Perang Diponegoro dipicu oleh persoalan pribadi, karena Belanda memasang patok di makam raja-raja Mataram. Sedangkan, Perang Kedondong meletus karena rakyat tidak puas dengan sistem tanam paksa sewa pesawahan dan kebun dengan pajak yang tinggi (hal, 175).

Putra Mahkota Sultan Kanoman IV keluar dari keraton, lalu bergabung dengan rakyat Cirebon. Karena tidak mau tunduk kepada Belanda yang menarik paksa pajak kepada rakyat Cirebon. Dalam perlawanan itu, Pangeran Raja Kanoman tertangkap dan ditawan di Batavia, kemudian dipindahkan di benteng Victoria, Ambon.

Halaman: 1 2