Misteri Marmer Dingin Masjidilharam

Catatan Perjalanan Haji
YANTO-S-UTOMO

BAGI yang pernah ke Masjidilharam tentu masih teringat empuk dan wanginya karpet-karpet yang ada di sana. Namun selama musim haji ini, tak ada selembar karpet yang ada di dalam atau luar masjid. Entah ke mana? Padahal dulu karpet-karpet itu terhampar di berbagai tempat. Hanya jalan dan lintasan tawaf saja yang terbebas karpet.

Di halaman luar masjid saja dulu di beberapa tempat ada. Apalagi di dalam, nyaris semua ada karpetnya. Sekarang hanya tampak hamparan marmer. Baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Bahkan di halaman luar, halaman atas dan sebagian di dalam masjid masih plasteran semen yang dilapisi cat lantai warna putih yang empuk kalau diinjak.

Jika diperhatikan di beberapa halaman tampak belang-belang. Sebagian marmer dan sebagian lainnya plasteran semen warna putih. Hanya lantai dasar lintasan sisi Kakbah saja yang sudah merata dipasang marmer yang sangat dingin. Sepertinya marmernya berbeda dengan yang ada di halaman lain. Padahal biasanya di bagian belakang lintasan selalu ada beberapa hamparan karpet untuk salat.

Walaupun tanpa karpet sejuk sekali di hamparan lantai dasar sisi Kakbah. Saya pun penasaran. Mungkin  jamaah yang lain mengalami hal yang sama. Juga bagi yang pernah tawaf saat haji atau umrah pasti bertanya-tanya, mengapa lantai di sekeliling Kakbah terasa dingin? Termasuk pada musim panas seperti sekarang ini. Kaki tetap terasa sejuk saat menginjak lantai.

Pertanyaan itu sudah lama muncul. Tak jarang malah menjadi perdebatan. Argumentasinya pun bermacam macam. Dari yang rasional hingga yang irasional. Teka-teki itu dijawab oleh otoritas penjaga dua masjid suci itu. Adalah pemberitaan Al Arabiya yang membuka tabir tersebut. Kesejukan di lantai  dasar sisi Kakbah itu karena marmer yang dipilih.

Ternyata Arab Saudi mengimpor marmer khusus dari Yunani. Marmer itu sangat langka. Namanya Thasos. Marmer jenis ini memang istimewa. Bisa memantulkan sinar matahari dan mengembalikan panasnya pada siang hari. Sehingga marmer tersebut tidak panas, bahkan terasa sejuk sekali.

Otoritas Haramain itu juga  membantah klaim yang menyebut sejuknya lantai Masjidilharam karena adanya pipa-pipa air yang dipasang di bawah marmer tersebut. Itu murni marmer pilihan. Lalu apa ada kaitannya hilangnya karpet tersebut dengan marmer langka tersebut? Apakah marmer-marmer baru di lantai-lantai yang lain juga berjenis Thasos?

Belum ada penjelasan dari otoritas masjid tersebut. Namun yang pasti menghilangnya karpet-karpet tersebut setidaknya membuat jamaah kurang nyaman jika tidak membawa alas salat sendiri. Memang marmernya juga sudah terasa dingin. Tapi tetap lebih nyaman kalau berkarpet.

Karena karpet selain empuk, juga wangi bunga mawar itu yang bikin jamaah betah. Bahkan jamaah bisa berlama-lama di masjid. Malah ada yang bermalam tidur di karpet-karpet itu. Karena Masjidilharam dibuka 24 jam. Spekulasi hilangnya karpet-karpet tersebut bermacam-macam. Ada yang mengaitkan dengan renovasi interior masjid yang belum selesai. Takut kotor dan mengganggu. Menunggu renovasi selesai baru dipasang lagi. Tapi kapan?

Ada juga yang mengatakan hanya sementara selama musim haji. Karena terlalu banyak jamaah sehingga sulit untuk membongkar pasang. Dan proses membersihkannya memakan waktu lama. Sehingga akan mengganggu mobilitas jamaah yang akan beribadah. Apalagi di musim haji ini masjid selalu ramai. Bahkan cenderung krodit. Tak mungkin bongkar pasang setiap hari.

Tidak dipasangnya karpet dimungkinkan juga supaya jamaah tidak berlama-lama. Apalagi tidur. Maklum musim haji jamaah memang membeludak. Sehingga harus silih berganti tempatnya. Jika ada karpet, jamaah banyak yang betah dan berlama-lama di masjid. Terutama yang jarak ke Masjidilharam jauh.

Tampak petugas usai salat mengusir jamaah. Tak boleh duduk lama-lama. Saya tidak tahu maksudnya. Apalagi yang mepet lintasan jalan. Pasti diusir duluan. Tapi sepertinya petugas mengutamakan jamaah yang akan tawaf. Memang tawaf sekarang sangat diistimewakan. Itu terlihat semua lintasan tawaf di berbagai lantai tersebut selalu padat.

Tapi apapun spekulasinya, tidak adanya  karpet-karpet itu membuat jamaah penasaran. Juga sangat merindukan. Empuknya. Bau wanginya. Tentu juga aroma bunga mawar yang sangat harum itu. Karpet karpet itu juga yang bisa memandu kiblat jamaah, terutama yang  tidak bisa melihat Kakbah secara langsung. Kapan ya karpetet-karpet itu dikembalikan? (*)