Mulai Hari Ini, Cirebon Punya Agenda Jagakali International Arts Festival VII

Budaya, Kota Cirebon

CIREBON – Sinau Art kembali menggelar festival seni budaya yang mengampanyekan lingkungan hidup. Sejak diinisiasi 2007, sudah enam kali dihelat di tempat berbeda di wilayah III Cirebon, tahun ini bertajuk “Jagakali International Arts Festival VII: Tamba”.

Tahun ini, Jagakali International Arts Festival dipusatkan di Kalipacit, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Perhelatan kreatif itu dilangsungkan selama tiga hari mulai mulai pagi ini, Jumat-Minggu (19-21/10).

Selama tiga hari, Jagakali International Arts Festival menghadirkan pertunjukan, workshop, pameran, pendidikan, permainan tradisional, bazaar, charity (gerakan amal dan peduli), kirab karnaval dan parade yang variatif. Selain itu diadakan penghijauan dan gerakan bersih sampah secara masal.

Pada hari pertama, acara dibuka dengan Gamelan Renteng Ki Muntili, Kirab Agung Paksi Naga Liman, Parade Merah Putih, Marching Band, Azan Pitu, Jembar Agung, Caruban Carnival, Larung Banyu Sumur Pitu, Parade Pendekar, dan Barongsai. Masih di hari pertama, ada film festival, expo BBWS, lomba menggambar, Jagakalaidoskop, Coffiesta #2 dan lainnya.

Hari kedua, Jagakali International Art Festival tidak kalah semarak dan khidmat. Selain berbagai perhelatan seni kreatif, ada beberapa workshop yang patut diikuti. Setidaknya ada tiga workshop, yakni terkait lingkungan hidup, kriya dan fotokopi.

Hari ketiga tidak kalah menarik. Jagakali International Arts Festival menghadirkan pertunjukan Jazzgakali, Jungle Jazz, tumpengan, Ambengan Festival, flashmob tari topeng kelana, Jagattari Festival, klopediakustik, dan lainnya.

Hari terakhir juga digelar workshop tentang Wayang Sampah dan Public Speaking. Kemudian Coffe Conduct, Roasting Competition, pemilihan Miss dan Mass Kopi dan masih banyak lagi pertunjukan kreatif hingga akhir acara penutupan.

Dalam pelaksanaannya, Jagakali International Arts Festival melibatkan banyak unsur masyarakat; baik kelompok maupun individu. Hal itu merupakan wujud bangsa Indonesia yang majemuk dengan budaya gotong royong.

“Dengan pendekatan kreatif yang intens, kami yakin bahwa kampanye lingkungan hidup bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas. Setidaknya di wilayah yang menjadi lokasi pelaksanaan festival,” kata Iful Azka, panitia Jagakali International Arts Festival dalam rilisnya kepada radarcirebon.com.

Iful berharap, Jagakali International Arts Festival berdampak positif bagi publik terkait meningkatnya efektivitas informasi literasi lingkungan hidup. Sehingga menguatkan peranan publik dalam upaya memperbaiki dan merawat lingkungan hidup. (hsn)