Museum Keluarga Esti Handayani Dibangun 1920, Generasi Tertua Pejabat Cikal Bakal Bank BRI

Esti Handayani membaca buku di ruang tamu kediamannya, akhir pekan kemarin. Kediaman turun temurun itu merupakan peninggalan penting bagi sejarah keluarga juga Kota Cirebon. FOTO:ILMI YANFAUNAS/RADAR CIREBON
Esti Handayani membaca buku di ruang tamu kediamannya, akhir pekan kemarin. Kediaman turun temurun itu merupakan peninggalan penting bagi sejarah keluarga juga Kota Cirebon.FOTO:ILMI YANFAUNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Tahun depan, rumah ini genap usianya 100 tahun. Bisa juga berusia hampir 200 tahun. Tergantung mana versi yang digunakan sebagai tanggal pembangunannya. Tapi, yang jauh lebih penting, rumah ini adalah saksi bisu sejarah Kota Cirebon. Rumah ini menyimpan arsip yang masih bisa ”berbicara” banyak.

Lokasinya tak sulit dijangkau. Tepatya di persimpangan Jl Pagongan dan Jl KS Tubun. Bangunannya bergaya khas arsitektur khas kolonial. Rumah yang dibangun tahun 1920 ini, sudah ibarat museum bagi Esti Handayani dan keluarganya. Siapapun yang ingin belajar sekelumit sejarah Kota Cirebon, bisa datang dan melihat-lihat.

Ini kali kedua saya berkunjung. Tepat berada di atas jendela di sebelah kanan ada sebuah logo yang cukup menarik perhatian. Bergambar dua helai padi bersilangan. Di tengahnya terdapat tulisan TS. Tepat di bawahnya terdapat tulisan 1820.

Di antara angka 1 dan 8, juga 8 dan 2 terlihat tulisan titik meski tampak samar. Dari situ, diperkirakan umur bangunan sudah hampir mencapai hampir satu abad. Menurut penuturan Esti, dirinya tidak tahu persis apakah itu artinya bangunan itu selesai dibangun pada tanggal 1 bulan 8 tahun 1920 atau justru selesai dibangun pada tahun 1820. Kalau dibangun 1820, tentu usianya tahun depan 200 tahun.

Soal logo TS tersebut, cukup membuat penasaran. Apakah ada kaitannya dengan Tiga Serangkai (TS) pendiri Indische Partij (Partai Hindia) yang merupakan partai politik pertama di Hindia Belanda. Partai ini  berdiri tanggal 25 Desember 1912, digagas tiga serangkai, yaitu EFE Douwes Dekker, dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara yang merupakan organisasi orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia.

Merujuk pada tahunnya, memang hanya berselang sekian 18 tahun saja dengan 1920 yang diduga waktu pendirian rumah. Namun, melihat logo Indische Partij dan yang berada di rumah Esti, tidak ada kemiripan sama sekali. Baik penulisan TS maupun ornamen yang mengelilinya.

Kemudian, partai ini yang berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda justru ditolak pada tanggal 11 Maret 1913. Penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil Pemerintah Belanda di negara jajahan.

Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh kolonial saat itu, dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang Pemerintah Kolonial Belanda.

Soal logo TS ini, memang perlu diteliti lebih lanjut. Tetapi yang pasti, kata Esti, bangunan itu sudah turun temurun ditempati. Generasi tertua yang sudah dipastikan pernah menghuni bangunan itu adalah kakeknya, Haji Oentung Sastra. Kakeknya yang merupakan salah seorang pejabat di Algemene Volkskrediet Bank (sekarang menjadi Bank BRI). Waktu itu, tentu cukup berpengaruh. “Saya tidak tahu kapan rumah ini dibangun. Yang pasti, ibu saya, Olly Sastra yang lahir pada tahun 1925 dilahirkan di rumah ini,” tutur Esti, yang ditemui di ruang tamu kediamannya.

ALGEMENE VOLKSKREDIETBANK

Dari sejumlah penelusuran arsip oleh koran ini, Algemene Volkskrediet Bank (AVB) dibentuk tahun 1934 atas usul Mr Th A Fruin. AVB dibentuk sebagai wadah mempersatukan bank-bank lokal guna menghindari kesulitan finansial yang mengakibatkan kebangkrutan.

Secara resmi AVB didirikan sebagai badan hukum Eropa dengan ordonansi tanggal 19 Februari 1934 dan dituangkan dalam Staabsblad 82 tentang Bepalingen Betreffende de Algemene Volkscredietbank. Catatan-catatan yang ada sepanjang 1934-1940 memperlihatkan peran AVB sangat luas mencakup pemberian pinjaman untuk pembebasan penduduk desa dari ikatan hutang riba, sebagai contoh adalah pinjaman gangsur (gangsur berarti hubungan hutang piutang yang berangsur-angsur meningkat dan akhirnya menumpuk). Catatan-catatan semacam ini dituangkan dalam Majalah Volkscredietwezen.

Bertahun-tahun kemudian AVB masih terus berjalan dan berkembang hingga pada masa kedatangan militer Jepang untuk mengambil alih kekuasaan di Hindia Belanda pada tahun 1942. AVB pun ditutup dan berubah menjadi Syomin Ginko. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Syomin Ginko pun berubah menjadi Bank Rakyat Indonesa (BRI).

Kembali ke rumah Olly Sastra. Pengaruh gaya arsitektur kolonial cukup terasa pada bangunan bercat krem ini. Jendela tinggi dengan ukuran cukup lebar serta lantai yang beralaskan material berbahan tegel kuning memberi kesan tersendiri.

Sementara dindingnya, kata Esti masih mempertahankan material tanpa campuran semen. Material dinding yang digunakan masih berupa batu bata yang disusun dengan campuran kapur dan tanah. “Kalau perabotan yang digunakan ini, ada beberapa yang baru. Tetapi lebih banyak adalah perabotan lawas yang masih terawat,” tuturnya.

Beberapa perabotan seperti mesin ketik, telefon kuno hingga pigura yang memajang foto foto lawas pun masih terawat. Sementara itu, memoar sang bunda yang merupakan salah satu tokoh pemuda Kota Cirebon era perjuangan juga masih tersimpan dengan apik. Termasuk bendera merah putih, yang konon merupakan bendera pertama yang dikibarkan pasca indonesia merdeka, masih terawat dengan baik.

Setelah Haji Oentung Sastra meninggal pada tahun 1970, rumah tersebut pernah disewakan. Namun tidak lama, rumah itu diambil alih oleh sang bunda, Olly Sastra. Rumah itupun kemudian dijadikan tempat pelatihan dan kursus tata boga dan tata rias.

Kini rumah seluas 500 meter persegi itu, masih ditempati oleh Esti berserta suami dan seorang anaknya. Rumah penuh kenangan itu juga difungsikan sebagai tempat LKP dan LPK untuk bidang tata boga dan tata rias.

Esti mengaku dirinya hanya melanjutkan apa yang pernah ia pelajari dari orang tuanya secara turun temurun. Ia sendiri mengaku tetap akan mempertahankan, baik bentuk dan perabotanya agak kelak bisa dinikmati oleh anak anakdan cucunya. “Ini tetap akan seperti ini. Kalau dengan sejarah, kita tidak bisa mengelak,” pungkasnya. (war)

Berita Terkait