oleh

Nano Riantiarno Sebut Festival Gunung Jati Mimpi yang Belum Terwujud

-Kota Cirebon-50 views

CIREBON-Norbertus Riantiarno atau Nano Riantiarno. Pria kelahiran Cirebon (Parujakan) ini merupakan aktor, penulis, sutradara, wartawan, dan tokoh teater Indonesia sekaligus pendiri Teater Koma. ia hadir di perayaan HUT ke-650 Kota Cirebon; menerima penghargaan dari Walikota Nashrudin Azis.

Dari sederet tokoh yang mendapat penghargaan itu memang ada sosok Nano Riantiarno. Tak banyak yang tahu sosok penting panggung teater Indonesia itu hadir di DPRD Kota Cirebon. Beberapa pengunjung gedung DPRD saling berbisik setelah nama pria tinggi besar itu ‘diumumkan’ oleh pembawa acara.

Selesai rapat paripurna, Radar Cirebon memperkenalkan diri dan meminta waktu wawancara. Dia pun menyambut ramah, meluangkan waktu untuk berbincang banyak hal tentang kota kelahirannya. Nano berterima kasih atas apresiasi yang diberikan walikota kepada para seniman. Dia meninggalkan Cirebon sejak 1967, namun masih mendapatkan apresiasi dari Pemkot Cirebon. “Tak hanya saya, tapi juga seniman lainnya. Sangat bagus cara Pemkot Cirebon mengapresiasi seniman,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Soal Cirebon, dia mengatakan daerah ini memiliki kekayaan kebudayaan yang luar biasa besar. Hal itu terbukti, kata Nano, sejak dulu beragam suku bangsa di dunia ada di Cirebon. “Tinggal bagaimana caranya membangun kebudayaan yang ada, yang rusak, untuk muncul kembali,” kata Nano.

Selama berkiprah di Jakarta, Nano mengatakan segala hal yang berhubungan dengan Cirebon menjadi sesuatu yang ditampilkan dalam pertunjukan kelompok Teater Koma. Itu dia lakukan karena ingin mengenalkan budaya Cirebon ke dunia luar. Terkait pengembangan budaya, dia juga mengaku pernah berbincang dengan Sultan Sepuh Arief Natadiningrat. Berbicara tentang budaya Cirebon yang bisa diangkat.

Misalnya melalui festival. Walau sampai saat ini belum terelisasi. “Kendalanya harus ada orang kuat, orang kaya untuk membantu membangun festival. Paling tidak, bisa berjuang untuk membuat festival. Cirebon sebenarnya bisa bikin Festival Gunung Jati. Bisa digarap, mulai dari Gunung Jati hingga Kasepuhan, melintasi Kota Cirebon. Saya sempat mencoba melakukan. Hanya, mewujudkan itu butuh biaya besar dan tidak ada orang kaya Cirebon yang bisa membantu itu,” ucapnya.

Nano hanya menyarankan Cirebon setahun sekali cukup memiliki satu festival. “Dan itu tiap tahun digelar dengan mengundang dari internasional. Satu festival saja setiap tahun, tapi yang besar. Seperti di Jember dan Bali. Kalau bisa dilakukan, itu bisa sampai ke dunia internasional,” kata Nano. (abd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed