Oleh: IIng Casdirin (Pimpinan Redaksi RCTV)

 

JIKA kepedulian lingkungan belum jadi ukuran kinerja seorang pimpinan, maka jangan terlalu berharap akan menemukan keindahan pada sebuah taman. Yang akan nampak adalah taman-taman kotor tak terawat, seperti nasib taman tak bertuan.

Taman Krucuk Kota Cirebon adalah korban dari kemubaziran.  Dibangun dengan dana miliaran. Setelah rampung, nasibnya justeru tak dipedulikan. Uang rakyat itu pun menjadi sia-sia. Dan, penguasa seolah-olah lupa, dana yang dikucurkan untuk taman itu milik siapa.  Satu tahun sudah Taman Krucuk dibiarkan. Dinding kotor penuh coretan, halaman tak nampak karena ditumbuhi rerumputan. Ruang publik itu ternyata bukanlah menjadi tempat yang asyik. Fasilitas umum itu kini malah menjadi tempat mesum.

Taman Krucuk adalah korban dari koordinasi yang buruk. Dibangun oleh Pemprov Jabar, tapi Pemkot Cirebon menjadikannya terus terbiar. Ini juga yang kemudian jadi alasan Pemerintah Kota Cirebon setiap ditanya nasib Taman Krucuk: Kalau sekarang kami yang urus, nanti siapa yang bayar?

Merasa bukan sebagai pemilik taman, bagi Pemkot Cirebon, mengurusnya bukanlah suatu kewajiban. Sementara Pemprov Jabar sebagai pemilik taman juga tak kunjung memberi perhatian. Mungkin sama-sama mengandalkan, walaupun pada akhirnya sama-sama tak bisa  diandalkan.

Andai Taman Krucuk ada di Kota Surabaya, nasibnya pasti tak seburuk yang kini dialaminya. Di sana ada Ibu Risma, sang wali kota, yang demi menjaga taman harus sering berurai air mata. Nafasnya bisa mendadak sesak ketika melihat rumput taman kota yang sudah dipeliharanya rusak terinjak-injak. Di sini, tentu sangat berbeda, taman tak terurus di depan mata, toh dianggap seperti tidak ada apa-apa.

Taman Krucuk akan tetap dibiarkan sambil menunggu Pemprov Jabar datang ke Cirebon untuk menyerahkan kepemilikan. Masalahnya kemudian, karena Pemprov Jabar belum kunjung tiba menyerahkan aset, menyebabkan rencana perbaikan taman itu terus saja meleset. Sampai kapan?

Pemerintah Kota Cirebon sudah merencanakan kembali perbaikan. Tentu tidak gratis. Tidak seperti  garansi barang baru yang rusak meski belum dipakai. Saatnya perbaikan taman dilelang. Pemborong sudah berlomba berhitung, berhitung anggaran perbaikan taman, juga tak lupa berhitung untung.

Kepala DPUPESDM Kota Cirebon Ir H Yoyon Indrayana MT menyatakan, tim yang ditunjuk untuk menangani kelengkapan administrasi dan syarat lelang telah dibentuk. Hanya saja, karena kesibukan masing-masing pegawai dalam tim tersebut, membuat kelengkapan administrasi lelang menjadi terhambat.  Yoyon pernah berjanji akhir September, tetapi sekarang prosesnya belum juga jalan meskipun sudah mau akhir November. Desember, bulan yang dijanjikan selesai untuk perbaikan taman, hampir pasti tidak akan kesampaian.

Taman Krucuk sebetulnya bisa segera diperbaiki, tanpa harus menunggu penyerahan aset dari provinsi.  Penggarapan taman boleh saja dilakukan Pemprov Jawa Barat, tetapi harus ingat lahannya ada di kota ini. Dan, sekarang ataupun nanti penyerahan aset tetap saja akan terjadi. Pada sisi lain, masyarakat Kota Cirebon menunggu Taman Krucuk segera difungsikan.

Memelihara taman berarti memelihara kepedulian terhadap lingkungan. Oase in the desert, penyegar di tengah panasnya perkotaan. Penyeimbang ekosistem bagi lingkungan kota yang telah banyak perubahan.  Fungsi dari pepohonan dan tanaman hijau di taman kota diperlukan untuk menyaring polusi yang dihasilkan oleh knalpot kendaraan.

Mengingat pentingnya fungsi dari sebuah taman, sangatlah perlu bagi kita semua untuk ikut melestarikan.  Tidak merusak tanaman, tidak  membuang sampah sembarangan dan merawat taman . Itu salah satu bentuk kepedulian kita dengan alam. Dan pimpinan seharusnya jadi teladan. (*)

Berita Terkait