Dulmatin Sempat
Perintahkan Anak
Buahnya Merampok
JAKARTA - Personel Densus 88 Mabes Polri belum bisa tidur nyenyak meskipun Dulmatin sudah tewas. Polisi meyakini sejumlah pelatihan perakitan bom sudah dilakukan oleh pria bernama asli Joko Pitono itu. Apalagi Dulmatin adalah juru rakitbom tingkat wahid diatas level Dr Azahari.
Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri menegaskan kemampuan perakitan yang dimiliki Dulmatin memang luar biasa. “Dari pengakuan Ali Imron (perakit bom Bali 1, terpidana seumur hidup, red) Dulmatin memang hebat. Dia lebih tinggi kelasnya dari Dr Azahari,” kata BHD di Rupatama Mabes Polri kemarin.
Raut muka orang nomor satu di tubuh Korps Bhayangkara itu tampak berseri-seri. Bambang juga mengajak seluruh jajaran perwira tinggi Mabes Polri, diantaranya Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani, Irwasum Komjen Nanan Soekarna, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf, dan Kadivhumas Irjen Edward Aritonang.
Dalam penggerebekan di Pamulang, Densus 88 menemukan skema perakitan bom yang ditulis tangan. Selain itu ada pcb detonator yang belum dirangkai. “Ada juga remote bom jarak jauh yang dibawa,” kata Kapolri.
Polisi juga menemukan salinan paspor nomor 42677 yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur atas nama Yahya Ibrahim. Juga nota penukaran uang dollar senilai 1100 USD dan nota penukaran mata uang Filipina peso di sebuah money changer di General Santos, Filipina.
Di rumah Fauzi, Syarif seorang mantri kesehatan di Gg Asem, Pamulang polisi menyita handycam dan laptop merk Acer. “Saat ini data-data yang ada didalamnya sedang dipelajari dan masih dikembangkan,” kata Bambang.
Di Aceh, polisi menemukan senjata AK 47, M-16, ribuan peluru kaliber 7,62 dan 5,56 dan bom asap. Bentuk senjata itu tidak lazim seperti rakitan gerilyawan Filipina Selatan.
Bambang memastikan jasad Dulmatin setelah dilakukan pengecekan DNA dengan sampel ibu Hj Masniyati dan anaknya Ali Usman. “100 persen Dulmatin dengan kemungkinan kesalahan satu dibanding 100 ribu triliun,” kata alumnus Akpol 1974 itu.
Dua orang yang juga tewas di Pamulang adalah pengawal Dulmatin yakni Ridwan asal Maros Sulawesi Selatan dan Hasan Nour asal Cengkareng, Jakarta Barat. Di tangan Ridwan ada pistol FN dan handphone bernomor sim card asal Aceh. Selain itu ada juga daftar nomor telepon yang ditulis di secarik sobekan kertas.
Tim DVI (Disaster Victim Identification) Mabes Polri juga melakukan pengecekan kesamaan alias Dulmatin, raut muka, tahi lalat dan bentuk hidung. “Tadi (kemarin, red) pagi jam 10 saya laporkan ke presiden SBY dan Wapres Boediono,” kata Bambang.
Secara tegas, BHD menyebut kelompok yang “bermain” di Aceh dan digerakkan oleh Dulmatin adalah Jamaah Islamiyah. “Kita kontak tembak di Aceh sejak tanggal 22 Februari dengan kelompok JI,” katanya.
Dulmatin dibantu oleh orang-orang yang pernah tertangkap dalam kasus terorisme sebelumnya. “Dari 400 orang yang tertangkap sudah 242 orang yang bebas. Nah, sebagian dari mereka ini bermain kembali,” kata BHD.
Kapolri memastikan penangkapan Dulmatin berdasarkan pengakuan teroris yang ditangkap di Aceh. Salah satunya adalah pengakuan Ismet Hakiki dan Zakky Rahmatullah. “Ismet ini adalah orang yang pernah terlibat pengeboman Kedutaan Besar Australia tahun 2004,” kata mantan Kabareskrim itu.
Sebelum menangkap Dulmatin, polisi juga meringkus Sofyan Atsauri di Depok, Jawa Barat. Sofyan adalah pemasok senjata latihan. “Dia pernah mendirikan tempat latihan menembak di Depok,” kata Bambang.
Total ada 21 orang yang sudah diringkus di Aceh dan lima orang dalam penggerebegan di Pamulang. “Skenario mereka itu tidak terputus dan saling berkaitan,” kata BHD.
Dulmatin juga sudah memerintahkan anggotanya untuk melakukan aksi perampokan. “Sudah ada instruksi untuk fa’i (perampokan) di beberapa wilayah lain,” kata Kapolri. Fa’i adalah aksi mengambil harta orang yang dianggap kafir atau murtad untuk mendukung aksi.
Saat ditanya soal hadiah 10 juta USD yang ditawarkan pemerintah AS dan Filipina untuk kepala Dulmatin, Bambang menjawab diplomatis. “Kita tidak bekerja berdasar itu (hadiah uang) tapi murni untuk penegakan hukum,” katanya.
Kapolri juga berterimakasih atas bantuan masyarakat Aceh yang membantu pengungkapan jaringan Dulmatin itu. “Bahkan sampai keuchik (kepala desa) ikut membantu, Polri sangat bersyukur atas bantuan warga Aceh,” katanya.
Jaringan-jaringan lain yang belum terungkap kata Kapolri akan segera diburu. “Anak-anak sampai hari ini belum istirahat. Bintang kami para perwira ini tidak akan ada nilainya tanpa kerja keras anak-anak di lapangan,” kata Kapolri.
Terhadap keluarga tiga Brimob yang tewas di Aceh, Kapolri memberi santunan dan beasiswa hingga perguruan tinggi untuk anak-anaknya. Istri Boas Waisiri juga diusulkan menjadi PNS Mabes Polri, sedangkan adik Brigadir Darmansyah dan Hendra akan diusulkan diterima sebagai anggota Polri. “Kami kehilangan anak-anak terbaik, tapi alhamdulillah kami bisa mengungkap jaringan ini,” kata Kapolri.
Secara terpisah, sumber Jawa Pos (Grup Radar Cirebon) menyebutkan sasaran utama yang diburu Densus 88 saat ini adalah tokoh kharismatik JI yang merestui dan melindungi Dulmatin beroperasi di Indonesia. “Dia memberi mandat untuk Dulmatin,” kata sumber itu saat ditemui di masjid Mabes Polri kemarin petang.
Perwira menengah itu menyebut si tokoh ini adalah orang yang secara khusus mengundang dan menyiapkan pengawal bagi Dulmatin. Menurut dia, dari hasil interogasi beberapa orang tersangka yang merupakan pelapis utama Dulmatin, diketahui Dulmatin sudah menjalin kontak dengan beberapa aktivis asal Indonesia sejak awal 2008. “Tapi, itu dilakukan di Filipina Selatan,” katanya.
Sumber itu menambahkan, pada Januari 2009 Dulmatin berkunjung ke Jawa Tengah. “Dia bertemu dengan tokoh senior JI dan mendapatkan janji perlindungan jika kembali pulang beraktivitas di Indonesia. Setelah itu, paspor dan segala kebutuhan Dulmatin di Indonesia mulai disiapkan.
Pada Maret 2009, Dulmatin kembali masuk ke Indonesia melalui Batam. Menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan kantor imigrasi Jakarta timur. Dulmatin sempat transit di Lampung
Lalu, Mei 2009, Dulmatin masuk ke Jakarta. Dia diarahkan oleh anggota kelompoknya untuk mengambil lokasi persembunyian di Pamulang, tangerang Selatan. Alasannya, pemukiman padat kontrakan yang sering digunakan warga pendatang tanpa dicurigai warga.
“Saat itu konsentrasi kami memang agak lengah karena ada perubahan sistem secara internal di satuan,” kata sumber. Lalu, bom meledak Juli 2009 di Marriott. “dari pengakuan Ismet, Dulmatin sama sekali tidak terlibat. Tapi, kami belum percaya, masih kami pastikan lagi,” katanya.
Pada Oktober 2009, setelah Noordin tewas di Solo 17 September 2009, tanzhim (struktur) qoidatul jihad menunjuk Dulmatin sebagai pimpinan askari (militer). Dia mulai merekrut dan memanggil ulang para anggota kelompok baik yang sudah pernah dipenjara maupun yang belum tertangkap.
Awal Januari 2010, pengiriman tadrib askari (latihan militer) dimulai. “Namanya memang tadrib (pelatihan) belum ada target karena mereka menyiapkan penerus,” katanya. Lokasi dipilih Jantho, Aceh Besar.
Menurut sumber itu, Dulmatin juga sudah menyiapkan perakit-perakit bom baru. “Salinan yang kami temukan di tas Dulmatin adalah sobekan di buku tulis. Catatan ini sengaja diedarkan secara terbatas tanpa dikopi, tanpa dibuat file, tapi hanya kertas,” katanya.
Gunanya, jika dalam kondisi terpaksa, catatan itu bisa segera dimusnahkan. “Cukup dikunyah lalu ditelan. Sudah tidak ada bukti,” kata perwira yang pernah kursus anti teror di Manila, Filipina itu.
Selain mengajari merakit bom dan memerintahkan untuk merampok, Dulmatin juga berbagi keahlian metode perang gerilya dan penggunaan senjata tajam maupun senjata api. “Mereka mengadopsi teknik gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina Selatan,” katanya.
DARI AMBON
Di bagian lain, sebuah sumber di Jawa Pos menyebutkan jenazah dengan gambar di tengah yang belum teridentifikasi tersebut diduga kuat adalah Jundi alias Yusuf. “Nama aslinya belum diketahui, tapi di Ambon, dia dikenal dengan nama Jundi,” katanya.
Jundi adalah mantan preman di Jakarta, dan dia termasuk kelompok militan Islam yang datang ke Ambon pada 2000. Disana Jundi bergabung dengan Kompak (komite aksi penanggulangan krisis), dan dilatih langsung oleh Ali Fauzi, koordinator Kompak. “Ya, memang pernah saya latih. Tapi saya sudah lama tidak kontak dengannya,” ucap Ali Fauzi.
Setelah dari Ambon, Jundi datang ke Mindanao, Filipina. Saat masuk ke Filipina, Jundi menggunakan nama Yusuf. Jundi alias Yusuf ini datang ke Filipina masuk ke kamp kecil orang-orang Indonesia di kawasan rawa-rawa SK Pendaton. Nama-nama tenar yang ada di kamp tersebut adalah Dulmatin, Ali Fauzi, dan Umar Patek.
Bila pada 2006 Ali Fauzi pulang ke Indonesia, tidak demikian dengan Jundi. Dia mengikuti Dulmatin ke Basilan, dan bergabung dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Kabarnya, kemana-mana Dulmatin pergi, di situ Jundi berada. “Dia memang tangan kanan Dulmatin,” ucap sebuah sumber di kepolisian. (rdl/ano)