Thursday, Mar 11th

Last update:06:13:11 PM GMT

You are here: Nasional

Nasional

Desak KPK Sidik Kasus Century

E-mail Cetak PDF

JAKARTA - Gelar perkara kasus Bank Century oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sudah berlangsung sejak Jumat (5/3) belum juga menemui titik terang. Hingga kemarin (10/3), tidak ada kejelasan kelangsungan gelar perkara. Bahkan, muncul dugaan adanya perbedaan pendapat terjadi di tubuh KPK.

Hal itu memicu salah seorang inisiator adanya Pansus Hak Angket Century, Eva Kusuma Sundari dan Misbakhun meminta KPK mempercepat kinerja KPK dalam menetapkan status kasus Bank Century. Bahkan, salah satu anggota DPR RI komisi III itu mengancam akan tidak mengabulkan budget plan atau rencana anggaran KPK. “Semua partner di komisi III punya otonomi budget. Kami bisa menggunakan hak budget berdasar kinerja. Kalau komisi III menganggap penanganan kasus Century tidak ada progress, kami akan tolak peningkatan anggaran KPK,” ungkap Eva ketika dihubungi kemarin.
Sebelumnya, Eva sudah mengungkapkan pernyataan serupa dalam sidang praperadilan kasus Bank Century oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada hari yang sama.
Politikus PDIP itu menegaskan, DPR selama ini pernah menolak menyetujui budget plan periode 2006-2007 untuk Kejaksaan Agung. Alasannya, kelayakan budget plan tersebut dianggap tidak memuaskan. “Kami terpaksa tidak dapat menaikkan anggaran,” kata Eva. Langkah serupa dapat diterapkan kepada KPK.
Eva menuturkan, Komisi III DPR dipastikan akan meninjau gelar perkara kasus Bank Century. Dia mengatakan, KPK harus menaikkan status penanganan menjadi penyidikan. “Apa masih level penyelidikan, atau sudah ada pemeriksaan saksi-sasksi,” ujarnya. Sebab, KPK telah melaksanakan pengusutan kasus bank Century sejak awal September 2009.
KPK sebenarnya telah menyerahkan laporan penanganan kasus Bank Century ke DPR. Namun, kata Eva, DPR belum tahu adanya hambatan di tubuh internal KPK. Berdasar informasi yang diterimanya, memang telah terjadi voting antar pimpinan KPK. Dua pimpinan diduga tidak menyetujui melanjutkan penyelidikan ke penyidikan kasus Bank Century.
Selain itu, ada perbedaan pendapat antara juru bicara KPK Johan Budi SP dan Wakil Ketua KPK M. Jasin. Pada Sabtu (6/3) setelah gelar perkara pertama, Jasin mengungkapkan adanya indikasi tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan Fasilitas Pendanaan Jangka Panjang (FPJP) ke Bank Century. Sementara, pada Senin (8/3), Johan mengungkapkan, indikasi korupsi itu belum final, sehingga PK perlu mendalami kasus tersebut. “Itu artinya apa. Berarti di dalamnya ada dinamika, pimpinan tidak satu suara,” kata Eva.
Menurut Eva, ancaman penolakan budget plan terkait sikap KPK tersebut dapat menjadi peluang untuk mendorong percepatan penanganan kasus Bank Century. Sebab, DPR saat ini tengah membahas Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Sekitar Juli hingga Agustus 2010, DPR sudah mulai merancang RAPBN 2011. “Jadi ini bisa dipakai untuk dorong KPK,” imbuhnya.
Menanggapi ancaman Eva, dua wakil ketua KPK, Jasin dan Chandra Hamzah, menegaskan tidak ada beda pendapat dalam tubuh internal KPK. “Pimpinan KPK tetap solid dan bekerja secara kolektif. Yang jelas KPK tetap bekerja secara profesional,” ungkap Jasin kemarin. Senada dengan Jasin, Chandra mengungkapkan hal itu tidak benar. “Voting aja belum dilakukan, bagaimana bisa beda pendapat, silakan anggota DPR sebut nama, itu hak dia bersuara,” ujarnya. (ken/agm)

LPSK Minta Presiden Pecat Ktut dan Myra

E-mail Cetak PDF

JAKARTA - Dua anggota nonaktif Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), I Ktut Sudiharsa dan Myra Diarsi segera diberhentikan. Pemecatan resmi keduanya, tinggal menunggu keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kemarin (10/3), LPSK mengirimkan surat usulan pemberhentian Ktut dan Myra kepada SBY.

“Keputusan untuk mengirimkan surat usulan pemberhentian Ktut dan Myra dilakukan berdasarkan hasil rapat paripurna LPSK pada 4 Maret lalu. Seperti diketahui, sampai keluar surat keputusan tersebut, itu adalah ujung dari suatu proses yang berkepanjangan,” papar Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai yang didampingi dua anggota LPSK, Teguh Soedarsono dan Lies Sulistiani.
Seperti diberitakan sebelumnya, nama Ktut maupun Myra disebut dalam rekaman pembicaraan tersangka kasus upaya menghalang-halangi penyidikan KPK, Anggodo Widjojo yang diputar di Mahkamah Konstitusi 3 November 2009 lalu. Lewat rekaman tersebut, keduanya terbukti terlibat dalam upaya perlindungan saksi kakak Anggodo, Anggoro Widjojo.
Berdasarkan banyaknya respon dan komentar yang datang, LPSK segera menindaklanjuti kasus Ktut dan Mira. Mereka menggelar rapat paripurna pada 5 November 2009. Dalam rapat tersebut, LPSK meminta klarifikasi Ktut dan Myra terkait rekaman tersebut. Selanjutnya, LPSK membentuk tim delapan atau Tim Pencari Fakta (TPF) untuk meninjau klarifikasi Ktut dan Myra. “Apapun temuan TPF, LPSK akan tindak lanjuti,” kata Abdul.
Lalu, tanggal 23 November 2009, LPSK kembali menggelar rapat paripurna setelah TPF mempublikasikan hasil temuannya. Dalam rapat yang dihadiri tujuh anggota LPSK, dibentuk tim etik LPSK. Dari situ, diputuskan pembebastugasan Ktut dan Myra selama dalam keduanya dalam proses pemeriksaan. Pada 30 November 2009, dikeluarkan surat keputusan pembentukan tim etik LSPK.
Akhirnya, pada sidang paripurna pada 3 Maret 2010, diputuskan bahwa Ktut maupun Myra terbukti secara sah melakukan pelanggaran kode etik, yakni aspek kepentingan dan kepantasan pemberian personal servis. Mereka terbukti melanggar pasal 24 Huruf E UU No 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Sementara itu, baik pihak Ktut maupun Myra menganggap tindakan LPSK adalah sewenang-wenang. Untuk itu, keduanya sudah mengajukan gugatan terhadap LSPK ke Pengadilan Tata Usaha Negara, terkait keputusan tim etik yang dibentuk LPSK serta surat pembebastugasan sementara Ktut dan Myra. Keduanya mengkritisi tindakan LPSK terkait pengajuan pemecatan tersebut tidak mengindahkan proses hukum Tata Usaha Negara yang sedang berjalan. Sidang pertama Ktut sudah digelar, sementara sidang perdana Myra menyusul.
Menanggapi dua gugatan dari mantan bawahannya, Abdul mengungkapkan lembaganya siap menjawab gugatan tersebut. Dia mengatakan gugatan tersebut tidak berdasar. Pasalnya, SK 034 tentang keputusan pembentukan tim etik sudah dicabut, karena tim etik sudah merampungkan tugasnya. Sementara, SK 035 terkait pembebastugasan sementara Ktut dan Myra juga sudah tidak berlaku. “Jadi intinya objek sengketanya tidak ada, kita siap saja,” imbuhnya.
Soal keputusan presiden terkait pemecatan mantan dua bawahannya tersebut, Abdul menuturkan jangka waktu paling lama adalah 30 hari terhitung sejak tanggal usul pemberhentian. “Tapi bisa juga lebih cepat,” katanya. (ken/iro)

PBNU: Tidak Cukup Pendekatan Keamanan

E-mail Cetak PDF

JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) angkat bicara terhadap penanganan terorisme yang terjadi di Indonesia. Meski Polri sekali lagi telah berhasil menggulung salah satu gembong teroris, PBNU menilai penanganan terorisme tidak bisa dilakukan dengan pendekatan keamanan semata.

“Dalam aspek pencegahan, tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan keamanan. Pasalnya, pendekatan keamanan akan menimbulkan kekerasan baru dan korban terus berjatuhan,” kata Ahmad Bagdja, ketua PBNU kepada wartawan di kantor PBNU, Jakarta, kemarin (10/3).
Menurut Bagdja, matinya gembong teroris ternyata memunculkan sejumlah aliansi teroris lain. Ini membuktikan penanganannya tidak cukup dengan pendekatan keamanan. Sebab, pendekatan yang terjadi dan yang dikedepankan adalah aksi kekerasan demi memerangi teroris itu. “Ini menimbulkan banyak korban, juga melahirkan trauma dan rasa takut masyarakat,” jelasnya.
Bagdja mengemukakan hal itu menanggapi keberhasilan Polri menyergap kelompok teroris di lokasi latihan mereka di Aceh Besar dan di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Dimana pada penyerangan di Banten, salah satu buron teroris, Dulmatin, tewas tertembak timah panas Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.
Meski demikian, PBNU menghargai keberhasilan Polri menangani pelaku teroris bersenjata di tanah air. Menurutnya, perlu terus diupayakan penghilangan akar terorisme di tingkat nasional maupun global. “Rasa keadilan, tegaknya hukum, peningkatan kesejahteraan adalah pendekatan yang dalam jangka panjang dapat mengatasi terorisme di dalam negeri,” kata Bagdja.
Dalam konteks global, Bagdja menilai harus segera diakhiri dominasi negara besar, politik diskriminatif, dan ekonomi eksploitatif yang tidak menghargai kemerdekaan dan hak-hak bangsa lain. “Kasus Timur Tengah, gejolak di Iraq, Afganistan dan lain-lain adalah bukti kasat mata yang memicu tumbuhnya kekerasan dan teror,” katanya.
Terkait pemberantasan teroris yang dikaitkan dengan kunjungan Presiden AS, Barack Obama, Bagdja berpendapat lain. “Konteksnya jangan dibawa ke posisi itu,” ujarnya. Menurut dia, kedatangan Obama seharusnya dimanfaatkan untuk berdialog dengan sekitar 50 orang mufti dari seluruh dunia yang hadir dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar, 22-27 Maret mendatang. “Mufti-mufti itu mewakili berbagai mazhab, faham, dan aliran Islam dari berbagai negara di dunia,” tandasnya. (bay)

Kematian Dulmatin Datang dari Australia

E-mail Cetak PDF

CANBERRA - Kepastian kematian salah satu gerbong terorisme yang diburu, Dulmatin, justru datang dari luar Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkannya saat memberikan sambutan dalam jamuan makan siang dengan anggota Parlemen Australia, kemarin (10/3) di Canberra.

Sesaat sebelum mengakhiri sambutannya, SBY menyampaikan keberhasilan Polri dalam melumpuhkan pergerakan terorisme. “(Kepolisian) Indonesia telah berhasil melumpuhkan Dulmatin, salah satu terorisme yang dicari di Asia Tenggara,” kata SBY di depan anggota parlemen, termasuk Perdana Menteri Australia Kevin Rudd.
SBY mengatakan, keberhasilan itu menyusul sukses sebelumnya, yakni dalam menghentikan aksi Dr Azhari yang tewas di Batu, Malang, dan Noordin M Top, yang ditewaskan di Mojosongo, Solo.
Pernyataan SBY tersebut mendapatkan sambutan tepuk tangan dari para undangan yang hadir dalam jamuan makan siang. “Oleh karena itu, demi keselamatan manusia di dunia, mari kita bekerjasama secara global,” kata SBY.
Usai sambutan, SBY mendapatkan standing applause dari undangan. Isu terorisme memang menjadi salah satu topik yang dibahas dalam kunjungan kenegaraan SBY di Australia.
Saat menyampaikan pidato di depan Parlemen Australia, SBY juga menyinggung kerjasama memberantas aksi terorisme dengan Australia. Kepolisian dua negara akan saling membantu dalam perang terhadap teroris. “Meliputi pertukaran informasi intelijen dan peningkatan kapasitas,” kata SBY.
SBY sepakat dengan PM Rudd bahwa terorisme adalah musuh bersama. Setelah peristiwa bom di Hotel J.W. Marriott, PM Rudd mengatakan, serangan teroris terhadap di Indonesia adalah serangan juga terhadap tetangganya.
Saat sesi joint media conference, PM Rudd mengapresiasi langkah Indonesia dalam memerangi terorisme. Juga dengan keberhasilannya mengakhiri petualangan dua gembong teroris Dr Azhari dan Noordin M Top. “Kami tahu bahwa itu bukan hal yang mudah,” ujar Rudd.
Dia mengungkapkan, kedua negara melalui departemen yang terkait, seperti departemen pertahanan, akan lebih memberikan perhatian untuk isu terorisme. “Kedepan, kerjasama (melawan terorisme) ini akan lebih ditingkatkan,” urai Rudd.
Secara terpisah, Menkopolhukam Djoko Suyanto mengatakan, keberhasilan Polri dalam melumpuhkan teroris, merupakan hasil pengintaian intensif yang dilakukan Polri. “Jadi tidak tiba-tiba, cuma kepolisian saja yang tidak terlalu mengeksepos,” katanya saat ditanya tentang berita dilumpuhkannya Dulmatin.
Dia mengatakan, untuk melumpuhkan teroris, aparat menggunakan perhitungan yang matang. “Kalau terlalu awal ikannya akan lari, begitu juga kalau terlambat. Memang soal timing ini cari yang tepat,” terang mantan Panglima TNI.
Meski demikian, Djoko membantah jika persoalan timing tersebut dikaitkan dengan rencana kedatangan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. Demikian juga kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Australia. “Tidak ada kaitannya itu, dengan atau tanpa kedatangan Obama atau kunjungan ke Australia,” tegas Djoko. (fal)

Latih Kader Perakit Bom

E-mail Cetak PDF

Dulmatin Sempat
Perintahkan Anak
Buahnya Merampok

JAKARTA - Personel Densus 88 Mabes Polri belum bisa tidur nyenyak meskipun Dulmatin sudah tewas. Polisi meyakini sejumlah pelatihan perakitan bom sudah dilakukan oleh pria bernama asli Joko Pitono itu. Apalagi Dulmatin adalah juru rakitbom  tingkat wahid diatas level Dr Azahari.

Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri menegaskan kemampuan perakitan yang dimiliki Dulmatin memang luar biasa. “Dari pengakuan Ali Imron (perakit bom Bali 1, terpidana seumur hidup, red) Dulmatin memang hebat. Dia lebih tinggi kelasnya dari Dr Azahari,” kata BHD di Rupatama Mabes Polri kemarin.
Raut muka orang nomor satu di tubuh Korps Bhayangkara itu tampak berseri-seri. Bambang juga mengajak seluruh jajaran perwira tinggi Mabes Polri, diantaranya Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani, Irwasum Komjen Nanan Soekarna, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf, dan Kadivhumas Irjen Edward Aritonang.
Dalam penggerebekan di Pamulang, Densus 88 menemukan skema perakitan bom yang ditulis tangan. Selain itu ada pcb detonator yang belum dirangkai. “Ada juga remote bom jarak jauh yang dibawa,” kata Kapolri.
Polisi juga menemukan salinan paspor nomor 42677 yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur atas nama Yahya Ibrahim. Juga nota penukaran uang dollar senilai 1100 USD dan nota penukaran mata uang Filipina peso di sebuah money changer di General Santos, Filipina.
Di rumah Fauzi, Syarif seorang mantri kesehatan di Gg Asem, Pamulang polisi menyita handycam dan laptop merk Acer. “Saat ini data-data yang ada didalamnya sedang dipelajari dan masih dikembangkan,” kata Bambang. 
Di Aceh, polisi menemukan senjata AK 47, M-16, ribuan peluru kaliber 7,62 dan 5,56  dan bom asap. Bentuk senjata itu tidak lazim seperti rakitan gerilyawan Filipina Selatan.
Bambang memastikan jasad Dulmatin setelah dilakukan pengecekan DNA dengan sampel ibu Hj Masniyati dan anaknya Ali Usman. “100 persen Dulmatin dengan kemungkinan kesalahan satu dibanding 100 ribu triliun,” kata alumnus Akpol 1974 itu.
Dua orang yang juga tewas di Pamulang adalah pengawal Dulmatin yakni Ridwan asal Maros Sulawesi Selatan dan Hasan Nour asal Cengkareng, Jakarta Barat. Di tangan Ridwan ada pistol FN dan handphone bernomor sim card asal Aceh. Selain itu ada juga daftar nomor telepon yang ditulis di secarik sobekan kertas.  
Tim DVI (Disaster Victim Identification) Mabes Polri juga melakukan pengecekan kesamaan alias Dulmatin, raut muka, tahi lalat dan bentuk hidung. “Tadi (kemarin, red) pagi jam 10 saya laporkan ke presiden SBY dan Wapres Boediono,” kata Bambang.
Secara tegas, BHD menyebut kelompok yang “bermain” di Aceh dan digerakkan oleh Dulmatin adalah Jamaah Islamiyah. “Kita kontak tembak di Aceh sejak tanggal 22 Februari dengan kelompok JI,” katanya.
Dulmatin dibantu oleh orang-orang yang pernah tertangkap dalam kasus terorisme sebelumnya. “Dari 400 orang yang tertangkap sudah 242 orang yang bebas. Nah, sebagian dari mereka ini bermain kembali,” kata BHD.
Kapolri memastikan penangkapan Dulmatin berdasarkan pengakuan teroris yang ditangkap di Aceh. Salah satunya adalah pengakuan Ismet Hakiki dan Zakky Rahmatullah. “Ismet ini adalah orang yang pernah terlibat pengeboman Kedutaan Besar Australia tahun 2004,” kata mantan Kabareskrim itu.
Sebelum menangkap Dulmatin, polisi juga meringkus Sofyan Atsauri di Depok, Jawa Barat. Sofyan adalah pemasok senjata latihan. “Dia pernah mendirikan tempat latihan menembak di Depok,” kata Bambang.
Total ada 21 orang yang sudah diringkus di Aceh dan lima orang dalam penggerebegan di Pamulang. “Skenario mereka itu tidak terputus dan saling berkaitan,” kata BHD.
Dulmatin juga sudah memerintahkan anggotanya untuk melakukan aksi perampokan. “Sudah ada instruksi untuk fa’i (perampokan) di beberapa wilayah lain,” kata Kapolri. Fa’i adalah aksi mengambil harta orang yang dianggap kafir atau murtad untuk mendukung aksi.
Saat ditanya soal hadiah 10 juta USD yang ditawarkan pemerintah AS dan Filipina untuk kepala Dulmatin, Bambang menjawab diplomatis. “Kita tidak bekerja berdasar itu (hadiah uang) tapi murni untuk penegakan hukum,” katanya.
Kapolri juga berterimakasih atas bantuan masyarakat Aceh yang membantu pengungkapan jaringan Dulmatin itu. “Bahkan sampai keuchik (kepala desa) ikut membantu, Polri sangat bersyukur atas bantuan warga Aceh,” katanya.
Jaringan-jaringan lain yang belum terungkap kata Kapolri akan segera diburu. “Anak-anak sampai hari ini belum istirahat. Bintang kami para perwira ini tidak akan ada nilainya tanpa kerja keras anak-anak di lapangan,” kata Kapolri.
Terhadap keluarga tiga Brimob yang tewas di Aceh, Kapolri memberi santunan dan beasiswa hingga perguruan tinggi untuk anak-anaknya. Istri Boas Waisiri juga diusulkan menjadi PNS Mabes Polri, sedangkan adik Brigadir Darmansyah dan Hendra akan diusulkan diterima sebagai anggota Polri. “Kami kehilangan anak-anak terbaik, tapi alhamdulillah kami bisa mengungkap jaringan ini,” kata Kapolri.
Secara terpisah, sumber Jawa Pos (Grup Radar Cirebon) menyebutkan sasaran utama yang diburu Densus 88 saat ini adalah tokoh kharismatik JI yang merestui dan melindungi Dulmatin beroperasi di Indonesia. “Dia memberi mandat untuk Dulmatin,” kata sumber itu saat ditemui di  masjid Mabes Polri kemarin petang.
Perwira menengah itu menyebut si tokoh ini adalah orang yang secara khusus mengundang dan menyiapkan pengawal bagi Dulmatin. Menurut dia, dari hasil interogasi beberapa orang tersangka yang merupakan pelapis utama Dulmatin, diketahui Dulmatin sudah menjalin kontak dengan beberapa aktivis asal Indonesia sejak awal 2008. “Tapi, itu dilakukan di Filipina Selatan,” katanya.
Sumber itu  menambahkan, pada Januari 2009 Dulmatin berkunjung ke Jawa Tengah. “Dia bertemu dengan tokoh senior JI dan mendapatkan janji perlindungan jika kembali pulang beraktivitas di Indonesia. Setelah itu, paspor dan segala kebutuhan Dulmatin di Indonesia mulai disiapkan. 
Pada Maret 2009, Dulmatin kembali masuk ke Indonesia melalui Batam. Menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan kantor imigrasi Jakarta timur.  Dulmatin sempat transit di Lampung
Lalu, Mei 2009, Dulmatin masuk ke Jakarta. Dia diarahkan oleh anggota kelompoknya untuk mengambil lokasi persembunyian di Pamulang, tangerang Selatan. Alasannya, pemukiman padat kontrakan yang sering digunakan warga pendatang tanpa dicurigai warga.
“Saat itu konsentrasi kami memang agak lengah karena ada perubahan sistem secara internal di satuan,” kata sumber. Lalu, bom meledak Juli 2009 di Marriott. “dari pengakuan Ismet, Dulmatin sama sekali tidak terlibat. Tapi, kami belum percaya, masih kami pastikan lagi,” katanya.
Pada Oktober 2009, setelah Noordin tewas di Solo 17 September 2009, tanzhim (struktur) qoidatul jihad menunjuk Dulmatin sebagai pimpinan askari (militer). Dia mulai merekrut dan memanggil ulang para anggota kelompok baik yang sudah pernah dipenjara maupun yang belum tertangkap.
Awal Januari 2010, pengiriman tadrib askari (latihan militer) dimulai. “Namanya memang tadrib (pelatihan) belum ada target karena mereka menyiapkan penerus,” katanya. Lokasi dipilih Jantho, Aceh Besar.
Menurut sumber itu, Dulmatin juga sudah menyiapkan perakit-perakit bom baru. “Salinan yang kami temukan di tas Dulmatin adalah sobekan di buku tulis. Catatan ini sengaja diedarkan secara terbatas tanpa dikopi, tanpa dibuat file, tapi hanya kertas,” katanya.
Gunanya, jika dalam kondisi terpaksa, catatan itu bisa segera dimusnahkan. “Cukup dikunyah lalu ditelan. Sudah tidak ada bukti,” kata perwira yang pernah kursus anti teror di Manila, Filipina itu.
Selain mengajari merakit bom dan memerintahkan untuk merampok, Dulmatin juga berbagi keahlian metode perang gerilya dan penggunaan senjata tajam maupun senjata api. “Mereka mengadopsi teknik gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina Selatan,” katanya.
DARI AMBON
Di bagian lain, sebuah sumber di Jawa Pos menyebutkan jenazah dengan gambar di tengah yang belum teridentifikasi tersebut diduga kuat adalah Jundi alias Yusuf. “Nama aslinya belum diketahui, tapi di Ambon, dia dikenal dengan nama Jundi,” katanya.
Jundi adalah mantan preman di Jakarta, dan dia termasuk kelompok militan Islam yang datang ke Ambon pada 2000. Disana Jundi bergabung dengan Kompak (komite aksi penanggulangan krisis), dan dilatih langsung oleh Ali Fauzi, koordinator Kompak. “Ya, memang pernah saya latih. Tapi saya sudah lama tidak kontak dengannya,” ucap Ali Fauzi.
Setelah dari Ambon, Jundi datang ke Mindanao, Filipina. Saat masuk ke Filipina, Jundi menggunakan nama Yusuf. Jundi alias Yusuf ini datang ke Filipina masuk ke kamp kecil orang-orang Indonesia di kawasan rawa-rawa SK Pendaton. Nama-nama tenar yang ada di kamp tersebut adalah Dulmatin, Ali Fauzi, dan Umar Patek.
Bila pada 2006 Ali Fauzi pulang ke Indonesia, tidak demikian dengan Jundi. Dia mengikuti Dulmatin ke Basilan, dan bergabung dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Kabarnya, kemana-mana Dulmatin pergi, di situ Jundi berada. “Dia memang tangan kanan Dulmatin,” ucap sebuah sumber di kepolisian. (rdl/ano)

1.000 Unit Dilempar ke Pasar

E-mail Cetak PDF

Permintaan Kulkas Sanyo Selama Sebulan
CIREBON - Sanyo masih terus berupaya melakukan penetrasi pasar. Di 2010, produk kulkas dan mesin cuci Sanyo cukup direspons positif oleh pasar.
Branch Manager PT Sanyo Sales Indonesia (SSI), Hardi Hasan menyebutkan, untuk kulkas tipe SRD 181 dalam sebulan bisa beredar di pasaran sebanyak lebih dari 1.000 unit. "Itu kalau permintaan pasar sedang sangat tinggi, sepi-sepinya mampu didistribusikan sekitar 600 unit," katanya kepada Radar, Rabu (10/3).

Selanjutnya...

1.000 Unit Dilempar ke Pasar

E-mail Cetak PDF

Permintaan Kulkas Sanyo Selama Sebulan
CIREBON - Sanyo masih terus berupaya melakukan penetrasi pasar. Di 2010, produk kulkas dan mesin cuci Sanyo cukup direspons positif oleh pasar.
Branch Manager PT Sanyo Sales Indonesia (SSI), Hardi Hasan menyebutkan, untuk kulkas tipe SRD 181 dalam sebulan bisa beredar di pasaran sebanyak lebih dari 1.000 unit. "Itu kalau permintaan pasar sedang sangat tinggi, sepi-sepinya mampu didistribusikan sekitar 600 unit," katanya kepada Radar, Rabu (10/3).

Selanjutnya...

Holcim Luncurkan Liga Sepak Bola Ahli Bangunan

E-mail Cetak PDF

CIREBON - PT Holcim Indonesia Tbk (Holcim) meluncurkan program Gala Bola, yaitu liga sepak bola bagi para ahli bangunan. Gala Bola dimulai sejak 27 Maret 2010 di 32 kota di pulau Jawa. Di tiap kota, 32 tim akan bertanding memperebutkan gelar juara. Dan pada 1 Mei 2010, para juara akan kembali berlaga untuk menentukan siapa yang akan menjadi jawara Gala Bola. "Tim yang menjadi juara akan berkesempatan menyaksikan salah satu pertandingan Piala Dunia di Afrika Selatan. Tiap tim terdiri dari 15 pemain, dan bisa mengisi formulir yang tersedia di toko-toko bangunan terdekat," kata Direktur Marketing & Innovation Holcim Indonesia, Patrick Walser, dalam siaran persnya kemarin (10/3).

Selanjutnya...

Pameran, Properti Plus Promo UM

E-mail Cetak PDF

CIREBON - Supporting & total management consultant Properti Plus, mengadakan pameran perumahan mewah di Grage Mall sejak Kamis (4/3). Pameran yang akan berakhir pada Kamis (18/3) tersebut menawarkan program uang muka super murah untuk pembelian produk di 5 lokasi perumahan di wilayah Cirebon.

Selanjutnya...

hal 1 dari 107