Negara dan Komunitas Sastra

Oleh: Fathan Mubarak

Wacana & Catatan
FATHAN-MUBARAK-BRO

HUBUNGAN antara negara dan komunitas sastra lebih banyak dilakukan daripada dibicarakan. Saya kurang tahu sebabnya. Tapi sepanjang yang saya simak, perbincangan tersebut tampak seperti sebuah forum tanpa tema yang kemudian memunculkan pertengkaran-pertengkaran yang tanpa duduk perkara. Semua serba gelap. Pada tema ini, saya merasa ada hal-hal yang patut ditelisik. Kita bisa memulainya dari pelajaran geografi tingkat SMA.

Terletak di 6° LU – 11° LS dan 95° – 141 BT, takdir geografis nusantara berada pada iklim tropis dengan dua musimnya. Nusantara juga terdiri dari tiga dangkalan, membuatnya memiliki banyak dataran tinggi dan gunung berapi. Asupan air dan paparan ultra violet yang melimpah, merapi yang selama ribuan tahun menyuplai unsur hara pada tanah, minus topan haiyan sebagaimana yang dimiliki oleh kawasan-kawasan lain di Asia Tenggara, menjadikan nusantara sebagai sepotong surga yang jatuh ke dunia.

Lewat pengindraan jauh, kita melihat keelokan nusantara lainnya: diapit dua benua dan dua samudera, nusantara persis berada di tengah persimpangan lalu lintas dunia. Kemajuan Sriwijaya dan kemegahan Majapahit adalah penanda. Tapi, nusantara sudah tersohor di berbagai penjuru dunia jauh sebelum itu. Dalam catatan-catatan kuno, kita mendapati orang-orang Mesir era Fir’aun Ramses II telah mempraktikkan teknik pembalseman dengan kapur barus yang ternyata berasal dari pelabuhan Barus, Tapanuli. Begitu juga cengkeh yang beredar di kawasan Afrika dan China.

Itu terjadi pada abad sembilan sebelum masehi. Saat sejarah hanya milik bangsa Mesir dan peradaban Yunani masih butuh beberapa abad lagi sampai tampak di peta dunia. Tidak mengejutkan jika kemudian nusantara didatangi berbagai bangsa dengan hasrat penaklukannya. Sementara kerajaan-kerajaan nusantara yang saling bernafsu menganeksasi, kekuatan-kekuatan bangsa Portugis, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Arab, India, Mesir, Cina, datang dengan hasrat yang sama.

Kita melihat juga agama-agama masuk ke bumi nusantara dalam rangka berebut tempat dan umat. Dalam lima abad terakhir, kita bahkan menyaksikan berbagai sistem dunia dari mulai imperialisme, nasionalisme, komunisme, fasisme, kapitalisme, liberalisme, neokol, neolib, juga ideologi-idelogi berbasis agama, tumpah ruah di bumi nusantara. Memakai kata-kata antropolog Clifford Geertz, nusantara adalah titik benturan paling njlimet, nahas, dan nyaris mustahil.

Memang agaknya ada yang janggal. Dalam batasan tertentu, kenapa musik di Jawa, misalnya, mandek di gamelan dan sinden saja? Kenapa dunia pewayangan hanya mondar-mandir di sekitar Mahabarata dan Ramayana yang dari India? Kenapa juga semenjak wangsa Sailendra dan Sanjaya di abad sembilan hingga paling tidak pra Balai Pustaka, sastra hanya muncul di lingkaran-lingkaran kekuasaan? Mengikuti Geertz, kita akan sampai di kesimpulan bahwa bangsa-bangsa nusantara telah mengalami apa yang disebutnya sebagai involusi. Kita terlalu koyak di hadapan kekuasaan. Terlalu invalid untuk menghindari gagal tumbuh secara psikologis dan sosiologis.

Maka, di hari ini kita mendapati kekuasaan menjadi barang mewah yang sering kali dikejar dengan berdarah-darah. Kesadaran sosial politik terseret masuk ke pusaran naluri ingin menguasai. Anak-anak SD mendadak ingin menjadi presiden, jenderal, menteri, gubernur atau bupati—sesuatu yang tidak ada dalam dunia main mereka. Usia mereka wajarnya berfantasi menjadi dokter hewan atau astronot meski kelak disadari itu tetaplah fantasi: biaya kuliah kedokteran bisa setara dengan gaji seumur hidup satu keluarga, sementara negara terlalu sibuk mengurusi “meja-kursi” untuk dapat mengelola ilmu dan manusia sebagaimana misalnya NASA.

Berbondong-bondong kaum terpelajar memasuki parpol. Berbagai muslihat dirancang. Anggaran digelontorkan. Trik-intrik dikerjakan. Kita tahu, menjadi petinggi partai butuh manuver canggih dan banyak biaya. Tapi itu pun baru pemanasan. Pertarungan sesungguhnya terjadi nanti saat pilkada, pileg, atau pemilu.

Halaman: 1 2 3