Nelayan di Losari Ngaku Sulit Lepas dari Tengkulak

Kabupaten Cirebon
dri---TPi-Ambulu-sudah-direvitalisasi-(7)Bangunan TPI Desa Ambulu sudah siap dan ditargetkan bakal mulai melaksanakan lelang pada Oktober 2018. Namun, rencana tersebut terganjal masih banyaknya nelayan yang terikat dengan tengkulak.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di Kabupaten Cirebon tahun ini, mulai direvitalisasi dan diwacanakan akan dioperasionalkan kembali pasca lama tertidur. Tak terkecuali yang ada di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.

TPI yang selama belasan tahun nganggur tersebut, kini sudah mulai dibenahi. Rencananya, pada Oktober 2018 mendatang, TPI tersebut akan kembali beroperasi secara serentak bersama TPI lainnya yang sudah direvitalisasi. “Yang di Ambulu ini adalah TPI yang sudah diperbaiki dari sekian TPI yang ada di Kabupaten Cirebon. Semuanya sudah siap running. Rencananya, Oktober 2018 mulai beroperasi kembali,” ujar Samsurudin, ketua Nelayan Ambulu saat ditemui Radar Cirebon.

Namun diakuinya, bukan perkara mudah untuk mengaktifkan kembali TPI saat ini. Terlebih kondisinya, mayoritas nelayan sudah tergantung dan terikat dengan keberadaan tengkulak. Hal ini menurut Samsur, akan menjadi tantangan bagi KUD atau pengelola TPI untuk bisa bersaing dengan tengkulak dan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Tentu tidak mudah. Selama ini, nelayan tergantung dengan tengkulak. Mereka butuh uang kapan pun tengkulak siap, meskipun risikonya harga ikan dimonopoli tengkulak. Tentu ini problem serius yang harus segera dicari solusinya,” imbuh Samsur.

Menurutnya, harus ada program berkelanjutan yang diinisiasi oleh pengelola TPI dan harus disupport oleh dinas terkait untuk membuat nelayan-nelayan tersebut secara perlahan lepas dari tengkulak dan melelang ikannya di TPI.

“Idealnya itu kan begini, nelayan dapat ikan diserahkan ke TPI untuk dilelang. Para tengkulak ini harusnya menjadi peserta lelang dan membeli ikan nelayan dengan harga yang kompetitif. Setelah itu, nelayan dapat keuntungan dari harga ikan yang tidak dimonopoli tengkulak. Kalau ini berjalan semuanya akan mendapat untung, baik nelayan atau tengkulaknya,” jelasnya.

Untuk permulaan, pihaknya akan memulai dengan melaksanakan lelang dengan nelayaan binaan TPI yang tidak terikat dengan tengkulak. Mungkin tidak banyak. Untuk periode awal, jumlah nelayan yang akan dilibatkan sekitar 10 sampai 20 nelayan terlebih dahulu sampai dengan operasional pelelangan berjalan normal.

“Nanti kita ada nelayan binaan. Nelayan yang tidak terikat dengan tengkulak, kita akan mulai dengan mereka. Harapannya, setelah melihat lelang berjalan, nanti akan menarik nelayan lainnya untuk bergabung. Karena jujur, untuk menyisihkan dan melepaskan nelayan dari belenggu tengkulak ini tidak mudah. Butuh keseriusan dan support dari pemerintah. Terutama untuk hal permodalan,” katanya.

Sementara itu, salah satu nelayan Sunaryo kepada Radar Cirebon menuturkan, para nelayan sebenarnya menginginkan pelaksanaan lelang di TPI, karena dengan hal tersebut harga jual ikan bisa maksimal dan tidak ditentukan bakul atau tengkulak.

“Tapi kan modal kita dari bakul. Untuk pergi melaut kan dikasih pinjaman. Ya, kalau TPI-nya mau ngasih ganti pinjaman sih kita juga mau ikut lelang. Harganya bisa kita yang tentukan. Tapi kan susah, apalagi kita sudah punya ikatan dengan bakul,” ungkapnya. (dri)