Nelayan Indonesia Diduga Korban Penculikan di Perairan Semporna

twitter @IF_asia_

Dua orang nelayan Indonesia dikabarkan menjadi korban penculikan di Perairan Samporna. Mereka diculik oleh beberapa orang bertopeng, pada pukul Selasa (11/9), pukul 1 dini hari. Pihak kepolisian Sabah kini tengah menyelidiki, apakah penculikan dua nelayan ini berhubungan dengan kelompok teroris Abu Sayyaf.

Dikutip radarcirebon.com dari Three Indonesian fishermen feared kidnapped in waters off Semporna (updated)

Saat ini tengah dilakukan perburuan terhadap kelompok penculikan yang menagih tebusan. Mereka diyakini menculik tiga orang nelayan Indonesia di perairan Semporna selama jam malam, sekitar pukul 1 dini hari Selasa (11/9). Sebelumnya dilaporkan bahwa dua awak kapal dikhawatirkan telah diculik kelompok tersebut.

Menurut Kepala Polisi Sabah Datuk Omar Mammah, tiga korban dan seorang pria lain diketahui berada di kapal penangkap ikan dan baru saja berlabuh di dermaga Pulau Gaya di Semporna. Telah diketahui bahwa sekitar pukul 1 dini hari, salah satu awak mendengar suara mesin perahu pompa yang mendekat dan tiba-tiba pasokan listrik di kapal mereka terputus.

“Salah seorang nelayan yang merupakan penduduk setempat kemudian bersembunyi di sebuah kompartemen di bagian depan perahu. Dia melihat dua pria bertopeng membawa senjata dan mengenakan pakaian gelap naik ke kapal,” kata Omar.

Dia mengatakan para tersangka berbicara dalam dialek Suluk (kemungkinan besar merupakan orang Filipina). Omar mengatakan pria itu akhirnya keluar dari persembunyian dan memberi tahu polisi tentang insiden itu sekitar jam 2 pagi. Teman-teman nelayan itu hingga kini masih belum ditemukan.

“Kami telah mengambil pernyataan dari pria tersebut dan sedang melakukan penyelidikan,” kata Omar, menambahkan bahwa polisi belum diberitahu tentang panggilan permintaan tebusan sehubungan dengan insiden ini.

Dia mengatakan berdasarkan penyelidikan awal, para penculik bertopeng diyakini membawa senapan M16, tetapi belum dapat mengidentifikasi jenis perahu yang digunakan untuk melarikan diri.

“Kami juga sedang menyelidiki apakah para tersangka termasuk dalam kelompok Abu Sayyaf,” katanya.

Peristiwa ini akan menjadi insiden penculikan pertama selama hampir dua tahun.

Sabah telah memberlakukan jam malam mulai dari pukul 6 petang hingga 6 pagi, yang diberlakukan sejak empat tahun lalu. Peraturan tersebut diperpanjang hingga tanggal 13 September 2018 dan mencakup hingga tiga mil laut dari Tawau, Semporna, Kunak, Lahad Datu, Kinabatangan, Sandakan, dan Beluran. (*)