Pacuan Kuda Resmi Dilarang Ikut Karnaval Memayu Trusmi

Kabupaten Cirebon
pacuan-kuda-pada-tradisi-memayu-trusmiTIDAK DIIZINKAN: Pacuan kuda yang biasanya ikut meramaikan karnaval Memayu Trusmi, untuk tahun 2018 ini resmi dilarang mengikuti karnaval. FOTO: ILMI YANFAUNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON – Panitia dan sesepuh akhirnya melarang pacuan kuda untuk mengikuti karnaval Memayu Trusmi yang digelar hari ini  (14/10). Kepastian itu terungkap saat rapat persiapan Memayu Trusmi dengan seluruh stakeholder di Disbudpar Kabupaten Cirebon, Jumat (12/10).

Sesepuh Trusmi, Kiai Toni Sah mengatakan, pacuan kuda dilarang mengikuti karnaval Memayu Trusmi karena kerap menimbulkan insiden. “Siapa yang bertanggung jawab kalau nanti ada insiden? Tidak ada kan? Makanya dari situ kita melarang,” ujarnya sembari menyampaikan, kalau dulu naik kuda pasti laporan ke sesepuh, namun sekarang tidak ada sama sekali.

Toni menegaskan, pacuan kuda bukan merupakan bagian dari karnaval Memayu Trusmi. Karena memang dari awalnya tidak ada. Adanya kuda hanya untuk mengawal seperti pengawal kerajaan.

Kapolsek Plered AKP Budi Hartono mengaku sepakat dengan sesepuh Trusmi untuk melarang pacuan kuda dalam karnaval Memayu Trusmi. “Istilahnya dilarang pacuan kuda di jalan raya, karena jalan raya bukan untuk pacuan kuda,” ungkapnya.

Meskipun pacuan kuda dilarang, namun polisi tetap mendukung adanya karnaval Memayu Trusmi. Polisi akan mengamankan jika memang ada yang memaksa mengikuti karnaval dengan membawa kuda. “Misalkan ada ya, kita amankan kudanya jangan sampai ikut arak-arakan,” tuturnya.

Sementara, Ketua Komunitas Pencinta Kuda Cirebon, Andianto menyayangkan keputusan yang melarang pacuan kuda mengikuti karnaval Memayu Trusmi. Sebenarnya apa yang dikatakan sesepuh kalau dari dulu tidak ada, tidaklah benar. Karena sejak dirinya kecil, pada momen karnaval, pesertanya ada yang menggunakan kuda.

Andi mengatakan, dengan adanya pelarangan pacuan kuda, maka akan mengurangi animo masyarakat yang mempunyai hobi berkuda. Padahal kelebihannya, dengan adanya pacuan kuda dalam Memayu Trusmi, bisa sebagai sarana seleksi joki-joki kampung untuk berkompetisi di level nasional.

Meskipun demikian, komunitasnya tetap meminta kebijakan agar pacuan kuda bisa diikutsertakan dalam tradisi Memayu Trusmi. “Kita usahakan agar kuda yang sudah datang ke sini bisa jalan. Saya tidak putus asa walaupun keputusan ini sudah tidak bisa. Saya tetap akan meminta kebijakan, ini tidak final,” ungkapnya.

Dia pun menegaskan, akan sangat bertanggung jawab jika memang terjadi insiden. “Sebenarnya pencinta kuda ini rela berkorban. Dengan adanya kecelakaan itu, mereka bertanggung jawab sepenuhnya untuk pribadi. Contohnya tahun kemarin, kecelakaan sampai kudanya meninggal, mereka mengganti kudanya. Sehingga tidak ada yang dirugikan,” tuturnya. (den)