Pangeran Losari ‘Angkawijaya’ Tali Sejarah Cirebon Brebes

SAAT itu, Kamis sore,(20/2), Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon Jawa barat. “Ikatan silaturahmi yang sudah terjalin sejak masa silam jangan sampai terputus. Apalagi jalinan yang telah tertanam melewati batas wilayah. Tidak hanya, kebudayaan, juga pengembangan agama, ekonomi, sosial, politik dan pertahanan keamanan,” sambut Idza.

Bagi Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE, melanjutkan hubungan kerja sama lintas wilayah yang saling menguntungkan bagi Cirebon dan Brebes. “Di situlah pergulatan kegiatan dan asimilasi kebudayaan bercampur seperti bahasa, seni Singa Barong dan lain-lain. Jadi masih ada pertalian sejarah antara Cirebon dan Brebes,” kata Sultan Sepuh.
Sultan menceritakan sejarah Kasepuhan Cirebon yang diawali oleh Sunan Gunung Jati sampai lahirnya Jayakarta. Cucu dari Sunan Gunung Jati, Pangeran Angkawijaya menyepi ke Losari, Kabupaten Brebes Jateng untuk mengembangkan bakat seninya dan menyebarkan agama Islam.

Data yang dihimpun media ini, serat keraton Kasepuhan Cirebon Jawa Barat, Panembahan Losari, atau dikenal Pangeran Angkawijaya, makamnya berada di pemakaman Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, adalah merupakan cucu Sunan Gunung Jati. Panembahan Losari adalah anak dari perkawinan pasangan Ratu Wanawati (Cirebon) dengan anak keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Carbon. Panembahan Losari, diyakini selain sebagai ahli agama dan seni. Konon motif batik corak Mega Mendung, corak Gringsing adalah hasil dari buah kreasinya. Hasil kreasi lainnya menciptakan Kereta Kencana yang kini tersimpan di Kasultanan Kasepuhan Cirebon. Selain itu dia diyakini juga merupakan pencipta Kesenian fenomenal asal Losari yakni Tari Topeng yang biasa dipentaskan oleh (Alm) Nyai Sawitri Maestro Tari Topeng Losari Cirebon.

Satu bulan lalu, saat pembukaan acara Gotrasawala, Ketua Sekretariat Makam Panembahan Losari, Umarno mengungkapkan Pangeran Angkawijaya merupakan keturunan kasunan Cirebon, yang menyingkir ke Desa Losari dengan tujuan mengembangkan bakatnya dibidang kreasi kesenian.
Seperti diceritakan dalam Babad Tanah Losari, Kisah Babad Tanah Cirebon (Kitab Purwaka Caruban) menyebutkan, Pangeran Angkawijaya menepi dari kehidupan Keraton karena tidak ingin terkungkung dengan sistem kehidupan Kerajaan yang serba gemerlap. Selain itu juga penyingkiran dari istana kasultanan karena adanya konflik Internal soal perjodohan antara dirinya dengan kakaknya yakni Panembahan Ratu. Saat itu Panembahan Ratu yang termasuk kakak Angkawijaya hendak menikahi Putri dari Raja Pajang yakni Nyai Mas Gamblok. Secara harafiah putri Gamblok lebih naksir sama Panembahan Losari (Angkawijaya), namun karena urutan usia, Panembahan Ratu yang lebih tua menyatakan berhak mengawini Nyai Mas gamblok.

Dari pada hal yang tidak dinginkan terjadi, Pangeran Panembahan Losari (Angkawijaya) lalu pergi ke arah Timur dari tanah Cirebon hingga menetap di daerah pedukuhan pinggir sungai Cisanggarung yang akhirnya dinamakan Losari. Pangeran Angkawijaya tercatat meninggal pada tahun 1580 dan dimakamkan di desa Losari Lor, ke arah selatan jalan Pantura dan berbelok ke utara desa Kecipir , Kecamatan Losari Kabupaten Brebes. (wb)