Pedasnya Olahan Daging Puyuh Kuningan Bikin Ketagihan

puyuh1Kuliner berbahan daging burung puyuh disajikan di Roemah Puyuh Bandorasa Wetan. Ada menu pedesan dan ungkep dengan harga ekonomis. FOTO:M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

BERWISATA ke Kabupaten Kuningan, tak lengkap jika tak menyempatkan mencicipi hidangan khas dan unik di sana. Salah satu yang patut dikunjungi adalah Roemah Puyuh di Desa Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus. Rumah makan itu menyajikan dua olahan kuliner andalan yaitu ungkep dan pedesan daging burung puyuh.

Berlokasi di Jalan Raya Bandorasa Wetan No 13 tak jauh dari lampu merah Bandorasa arah objek wisata Linggarjati. Di angkringan sederhana bernama Roemah Puyuh milik Amih Ine ini menghadirkan kuliner olahan khusus daging burung puyuh. Dengan racikan bumbu sederhana warisan mertua, Ine menyajikan hidangan puyuh goreng dengan cocolan sambal tumis pedas yang istimewa berikut lalapan segar atau pedesan puyuh yang dijamin rasa pedasnya membuat mata berbinar-binar.

Tekstur daging puyuh yang lembut dan rasanya yang sangat gurih, menjadikan kuliner ini cukup banyak diminati konsumen. Tak sedikit pelanggannya yang sengaja datang menikmati daging puyuh goreng ala Amih Ine tersebut sebagai menu makan siang ataupun malam. Bahkan ada pula yang sengaja membungkusnya baik yang sudah matang atau ungkepnya untuk digoreng dan dinikmati bersama keluarga di rumah. “Bisa digoreng di sini atau juga ungkepnya. Karena untuk menikmati daging puyuh goreng enaknya selagi masih panas saat baru diangkat dari penggorengan,” kata Ine.

Mengenai harga, Ine memastikan bisa dijangkau oleh semua kalangan yaitu paket puyuh goreng hanya Rp14.000 lengkap dengan nasi, tempe, lalapan dan sambal, sedangkan untuk pedesan puyuh harganya sedikit lebih mahal yaitu Rp15.000. Jika tidak dengan nasi, Ine mengatakan, harganya hanya Rp10.000.

“Kalau sudah mencoba sekali, pasti ketagihan,” ujar Ine. Dalam sehari, Ine mengaku bisa menjual daging puyuh goreng kreasinya tersebut antara 20 hingga 30 ekor.
Untuk memperluas jangkauan pemasarannya, Ine melakukan berbagai cara promosi seperti memanfaatkan media sosial facebook dan instagram.

“Berkat media sosial burung puyuh saya sudah terbang ke luar Pulau Jawa seperti Bali dan Sumatera. Alhamdulillah para konsumen tidak ada yang komplen, sekalipun perjalanannya ada yang sampai 3 hari, tapi tidak basi dan konsumen mengaku puas burung puyuhnya enak,” pungkasnya. (fik)