Pelajaran dari Semangat Bertawaf di Baitullah

YANTO-S-UTOMO

BAJUNYA basah kuyup. Jalan sudah tidak bisa tegak lagi. Sepanjang putaran itu tertatih-tatih. Langkahnya sangat pelan. Ikut menyemut di tengah padatnya manusia. Arahnya pun tergantung tongkat yang seolah punya mata. Mulutnya komat-kamit tak pernah henti, berdoa.

Ada lagi yang lain. Bapak itu begitu semangat mendorong istrinya di kursi roda. Nampak pula dua laki-laki kulit hitam mendorong seorang perempuan yang sudah renta. Satu pria yang lain mengipasi di tengah panas yang begitu terik, sambil membimbing berzikir perempuan tua tadi.

Yang sangat menyentuh hati lagi. Ada seorang pria paruh baya. Berjalan menggunakan pantatnya. Terus ngesot di lintasan itu. Karena lelaki itu kakinya memang cacat. Tidak bisa berjalan. Tampak begitu semangat. Padahal siang kemarin menjelang Duhur begitu padat dan panas.

Mereka turut larut bersama lautan manusia bertawaf mengelilingi Kakbah yang agung itu. Mereka ada di lantai dasar sisi Kakbah, lantai satu hingga paling atas yang tanpa penutup dan kipas angin. Mereka ada yang tawaf umrah, tawaf sunah dan tawaf wada.

Memang ketika di Masjidilharam ada 3 ibadah yang paling disarankan. Yang paling utama tentu tawaf. Kedua iktikaf dan yang ketiga rujuk dan sujud alias salat. Iktikaf dan salat bisa dilakukan di masjid lain. Khusus tawaf hanya bisa dilakukan di Masjidilharam.

Karena diyakini setiap hari Allah menurunkan 120 rahmat di Baitullah. Dari jumlah itu, 40 rahmat di antaranya diberikan bagi yang mengerjakan tawaf.

Ketika prosesi haji masih berlangsung, yang paling banyak adalah jamaah yang mengerjakan tawaf ifadah. Tapi pasca haji, seperti kemarin, paling banyak mengerjakan tawaf sunah dan juga tawaf wada.

Mana yang tawaf sunah dan mana yang umrah, bisa dibedakan dari pakaian yang mereka kenakan. Yang mengerjakan umrah pakaian mereka adalah ihram. Sedangkan, yang melakukan tawaf sunah, mengenakan pakaian biasa seperti yang dipakai orang kebanyakan. Juga tawaf wada mengenakan pakaian biasa.

Tawah-tawaf yang boleh dilakukan jamaah haji selain sunah adalah tawaf qudum. Dilakukan oleh jamaah haji ifrad yang tidak mengerjakan umrah sebelum haji.

Kemudian, tawaf ifadah. Rukun haji yang dilaksanakan usai jumrah aqabah dan tahalul. Juga tawaf wada. Yakni wajib sebagai penutup rangkaian ibadah haji. Juga tawaf umrah. Dilakukan oleh haji tamattu dalam rangkaian umrah sebelum haji.

Dengan begitu, ada lima tawaf yang boleh dilakukan di Baitullah. Namun, semua tawaf selain sunah ada saat dan waktu yang telah ditentukan. Semuanya tidak bisa dilakukan berulang kali. Berbeda dengan tawaf sunah. Boleh dilakukan kapan saja dan bisa dikerjakan berulang kali.

Tawaf sunah ini dapat dikerjakan pada siang ataupun malam, pagi maupun sore. Tidak ada waktu haram untuk melakukan tawaf sunah. Hanya, bila salat fardu dilaksanakan, tawaf sunah dihentikan sesaat, lalu dilanjutkan kembali.

Tawaf sunah juga merupakan penghormatan kepada Baitullah. Sangat dianjurkan bagi setiap jamaah haji begitu masuk Masjidilharam untuk mengerjakan tawaf.

Hanya di Masjidilharam yang tahiyatnya dengan tawaf. Bukan dengan salat dua rakaat tahiyyatul masjid.

Yang sudah sepuh, yang berkebutuhan khusus, dan yang cacat, mereka begitu semangat mengerjakan tawaf sunah. Bagaimana dengan Anda yang gagah gagah dan sehat walafiat?
Berapa kali Anda tawaf sunah bila sedang di Masjidilharam? Lebih banyak mana dibandingkan dengan “tawaf” di lantai dasar Zam-zam Tower? Hanya Anda sendiri yang bisa menjawab. (*)

Berita Terkait