Pemda Ikut Loyo Atasi Telur, Tak Punya Anggaran untuk Operasi Pasar

Jawa Barat
harga-telur-ayamNAIK HARGA: Harga telur di Pasar Prapatan belum kunjung turun begitu juga harga daging ayam ras mengalami kenaikan. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

CIREBON – Harga telur ayam lagi naik daun. Berkisar di angka Rp 29 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Belum ada solusi dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga tak bisa berbuat banyak. Tak bisa meredam gejolak ini. Tak bisa mengadakan operasi pasar (OP) karena tidak ada pos anggaran khusus.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop UKM Kota Cirebon Ateng Rojudin mengatakan, kenaikan harga telur ini di luar dugaan. Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, kata Ateng, usai lebaran dengan sendirinya hampir semua harga kebutuhan, termasuk telur, kembali stabil. Tapi kali ini harga telur justru terus merangkak naik.

Bersama TPID (tim pengendali inflasi daerah) sejauh ini baru bisa melakukan pengecekan harga saja. Hasilnya sudah dilaporkan ke provinsi dan pusat sebagai laporan. Untuk tindakan seperti operasi pasar (OP) belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Pos anggaran untuk OP telur tidak ada dan tidak dianggarkan. Karena ini di luar dugaan. Kalau OP beras kita bisa usahakan bekerja sama dengan Bulog,” katanya kepada Radar Jumat (13/7).

Ateng mengungkapkan, setelah melaporkan ke provinsi, pihak provinsi pun mengalami hal serupa dengan Pemkot Cirebon. Bahkan pihak provinsi pun menunggu kebijakan dari pusat. Tingginya harga telur ini, lanjutnya, bukan hanya terjadi di Kota Cirebon. Hampir semua daerah mengalaminya.

Pihaknya pun sudah mengecek distributor telur di Jl KS Tubun, kota Cirebon. Dari produsen harganya sudah naik. Sehingga harga di pasar-pasar di kisaran Rp28 ribu per kilogram dianggap hal yang wajar.

Ateng memperoleh informasi dari provinsi bahwa harga telur naik berkaitan dengan harga pakan ternak yang juga naik. Kemudian pasokan berkurang, sementara permintaan tetap tinggi.

Penyebab lainnya, karena banyak ayam petelur di peternak yang terkena penyakit dan mati. Disebabkan anomali cuaca yang tidak menentu. “Tapi ini baru info, belum ada statemen resminya,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pedagang di Pasar Drajat, Sumirah, mengatakan lonjakan harga telur mulai terjadi setelah lebaran. Saat hari raya, harga telur masih Rp24 ribu per kilogram.

“Kemudian secara berangsur-angsur harga telur naik menjadi Rp26 ribu, kemudian kini Rp28 ribu per kilo,” katanya.

Hal serupa tergambar di Pasar Pagi. Harga telur ayam mencapai Rp27 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram. Pada lebaran lalu, harganya paling mahal Rp23 ribu hingga Rp24 ribu. “Tapi harganya naik, omzet sih malah turun,” aku Diding, salah satu pedagang sembako di Pasar Pagi, kemarin.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Deni Agustin menjelaskan, kenaikan harga telur ayam ditengarai karena berbagai macam faktor. Salah satunya adalah karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga pakan ternak.

“Banyak faktor yang menyebabkan harga daging ayam dan telur merangkak naik. Faktor yang utama adalah naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan ini sangat berdampak karena biaya pengiriman ayam dan telur menggunakan kendaraan transportasi,” ujar Deni kepada Radar, Kamis (12/7).

Meski demikian, Deni memastikan Disdagin Kabupaten Cirebon belum akan melakukan operasi pasar. Alasannya, Disdagin akan terlebih dahulu memantau perkembangan harga hingga beberapa hari ke depan.

“Harga daging ayam mencapai Rp38 ribu per kilo, sedangkan harga telur ayam mencapai Rp28 ribu per kilo. Tapi kami menilai ini belum saatnya melakukan operasi pasar. Operasi pasar akan dilakukan kalau harganya nanti terus melonjak,” jelasnya. (gus/sam)