Peminat Buku Bekas Masih Banyak, Harga Mulai Rp2 Ribu

myg - boks eksistensi buku bekas kimia (8)Sejumlah mahasiswa nampak berkerumun di salah satu toko buku bekas yang berada di sayap kanan GTC.FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON

CIREBON-Sampai saat ini, buku bekas masih punya tempat di hati masyarakat. Setidaknya, pemandangan itu terlihat di toko buku bekas Gehenna di eks Pasar Gunungsari. Radar Cirebon mengunjungi toko yang berukuran dua meter setengah itu di akhir pekan.

Sejumlah mahasiswa nampak berkerumun di salah satu toko buku bekas yang berada di sayap kanan GTC siang itu. Di sana tertulis ‘Toko Buku Gehenna’ berikut juga dengan nomor teleponnnya. “Ada buku Manajemen Hukum Bisnis?” tanya salah satu barisan pengunjung itu.

Mereka rela berdesak-desakan demi mencdapatkan buku yang dimaksud. Meski tak banyak melakukan promosi, eksistensi toko buku bekas Gehenna masih saja ada hingga kini. Mahasiswa yang datang rupanya banyak mengenal toko buku tersebut dari kakak tingkatnya terdahulu. Seperti salah satu mahasiswa Unswagati jurusan Manajemen ini. Malu-malu memang ketika ditanyakan nama, namun ia dengan lantang bilang buku-buku bekas masih jadi referensi buku di mata kuliahnya. “Tahunya dari kakak tingkat, toko buka bekas mana yang lengkap, salah satunya disini,” tuturnya.

Saat itu, ada sekitar 7 pengunjung yang datang rombongan. Kemudian datang kembali dua orang lainnya. Yang terlihat mereka seperti mengadu nasib karena mencari buku dengan judul yang sama. “Lagi ramai hari ini mbak,” ucap Widodo, pemilik toko buku Gehenna yang sudah didirikannya sejak tahun 1997 itu. Untungnya, buku yang dimaksud terbagi rata. Padahal, buku yang ingin didapatkan itu juga terbilang lama. Widodo bercerita. Ketika pertama kali membangun dan mendirikan usaha buku bekas ini, GTC belum semegah ini. Namanya pun masih Pasar Gunungsari. Tahun demi tahun yang terlewati itu dirasanya jadi momen manis membangun usaha buku-buku bekas ini. “Saya jualan dari tahun 97. Waktu itu namanya masih Pasar Gunungsari,” kenang Widodo.

Diakui Widodo, pengunjung yang datang didominasi pelajar juga mahasiswa. Dari yang duduk di sekolah dasar sampai perguruan tinggi sama. Untuk itu ia lebih banyak stok buku-buku berbasis pendidikan. “Tapi umum juga banyak, cuma memang yang kesini rata-rata anak sekolahan sama mahasiswa,” tambahnya.

Salah satu daya tarik dari buku bekas ialah harganya yang aman untuk kantong mahasiswa dan pelajar. Jelas saja ini yang paling dicari mahasiswa maupun pelajar. Berbagai buku untuk pendidikan SD sampai perguruan tinggi pun lengkap. Namun bisa dibeli dengan harga semiring-miringnya. Mulai dari Rp2 ribu sampai Rp100 ribu. Harga yang termahal itu diakui Widodo buku bekas yang seharus dibeli seharga Rp600 ribu. “Sampai saat ini ya masih banyak yang mau beli. Karena memang bagaimanapun ya butuh. Harganya juga jauh dari harga asli,” ujarnya.

Namun, Widodo juga tetap mengikuti pasar. Karena ia pun juga menyediakan buku-buku baru. Menurutnya, cara ini dirasa bisa untuk mengikuti keinginan pasar. “Ada buku baru juga. Ya kita sediakan apa yang dibutuhkan atau diminta aja sebenernya,” ungkapnya.

Meski tak sebanyak dulu, peminat buku-buku bekas hingga kini masih ada. Hal itu juga disampaikan Imah Maspuah. Pedagang buku-buku bekas lesehan di depan Batik Semar Cirebon Mall. Sudah hampir 14 tahun ia berjualan disana. Tiap harinya, ia masih sering kedatang pengunjung yang ingin membeli buku-buku bekasnya. Terutama mahasiswa. Yang paling dicari ialah novel sejarah maupun buku-buku tua. Buku paling tua yang dimilikinya dari tahun 1960 dan 1970-an. Salah satunya yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi. Buku di tahun 1970-an itu, diakui Imah, masih banyak dicari mahasiswa kini. “Masih banyak mahasiswa yang perlu buku-buku lama kaya novel sejarah. Kaya yang judulnya Di Bawah Bendera Revolusi itu tahun 70-an bukunya,” paparnya.

Lain halnya dengan Widodo yang lebih banyak stok buku pendidikan, Imah lebih banyak menjual buku-buku bekas seperti majalah lama juga novel dan buku-buku tua. Menurutnya, pasaran buku-buku bekas yang dijual lain dari yang lain. Tidak heran jika sampai saat ini peminatnya masih banyak. Namun, ia juga tidak menutup dari kenyataan bahwa kondisi saat ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak majalah-majalah yang gulung tikar pun berpengaruh pada penjualan buku bekasnya. “Bukunya itu sudah nggak kaya dulu. Nggak banyak stoknya soalnya kan pengaruh zaman juga. Orang baca-baca pakai HP bisa dimana aja. Jadi banyak perusahaan majalah yang pada bangkrut,” bebernya.

Yang dijualnya pun beragam. Selain mahasiswa, pelanggan setianya justru berasal dari anak-anak TK. Karena ia juga menjual majalah-majalah bekas khusus untuk anak-anak. Harganya? Murah! Untuk tiga buah majalah dihargainya Rp10 ribu. Sedangkan untuk buku-buku cuma dibanderolnya Rp5 ribu saja perbuku. “Majalah Bobo ada, Femina ada, majalah politik ada, komplit lah pokoknya,” tandasnya.

Sampai saat ini, Imah percaya, buku ada adalah jendela dunia. Meski hanya buku bekas, bukan berarti isi di dalamnya ikut pudar. Masih layak dibaca. (myg)