Perang Pertama Cirebon, Hancurnya Pelataran Pande Kemasan Hingga Kebon Panggung

Caruban Nagari
Foto: Gua Sunyaragi, Cirebon,antara 1920 dan 1933 (tropenmusuem)

De Cheribonsche Ounlsten van 1818, Naar Oorpronkelijke Stukken adalah catatan-catatan asli P. H Van der Kemp, yang turut menumpas pemberontakan Cirebon. Tahun 1979, buku tersebut diterjemahkan oleh B. Panjaitan dengan judul “Pemberontakan Cirebon Tahun 1818” dan diterbitkan di Jakarta oleh Yayasan Idayu.

Baca: Catatan Van der Kemp di Cirebon

Kemudian,  Major William Thorn, dalam bukunya “The Conquest of Java”, turut mencatat mengenai peristiwa perang Cirebon ini, “Sementara itu perhatian pemerintahan Inggris beralih kepada pemberontakan yang patut diperhitungkan yang dilakukan oleh Bagoos Rangin. Dia telah mengumpulkan kekuatan di daerah perbukitan di Indramaju. Pemberontak yang berkekuatan besar ini banyak diantaranya adalah desertir dan pelarian dari serdadu Perancis yang melarikan diri setelah pertempuran Cornelis. Kepala pemberontakan ini selama 6 tahun telah berhasil melepaskan diri dari usaha penangkapan oleh pemerintahan Belanda, dia telah dianggap oleh pengikutnya sebagai nabi atau pendeta agung.

Kefanatikan ini menyebabkan tidak goyahnya dukungan rakyat kepadanya walaupun pada waktu itu pemerintah mengiming-imingkan hadiah bagi penangkapan nya. Pada saat ini dia telah menguasai beberapa desa dan maju terus mengancam kota dan benteng Indramaju. Untuk menghadapinya, satu detasemen dari Bengal Sepoy dibawah Capt. Pool segera dikirim dari Batavia untuk memperkuat garisun yang ada. Kemudian detasemen lain yang terdiri dari orang-orang Eropah dan pribumi dibawah pimpinan Capt. Ralph dari His Mayesty’s 59 Regiment menyusul, dengan perintah untuk menghancurkan arus yang sudah tidak tidak terkendali itu.

Capt. Ralph dan detasemennya akhirnya menjumpai, dengan tidak disangka-sangka, dengan para pemberontak itu d’alam jumlah yang besar. Lebih dari 2000 musqueteers (serdadu infantri) berbaris ditepi kali melepaskan tembakannya kepada pasukan Inggris, dan kemudian mereka datang mendekat sehingga pertempuran satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Dalam pertempuran ini banyak yang luka-luka dan mati hingga akhirnya pasukan pemberontak itu melarikan diri. Kerugian di fihak Inggris tidak berarti dimana seorang calon prajurit dari Resimen ke-59 terbunuh, dan Capt. Jones dari Bengal Service dan beberapa calon prajurit lainnya luka-luka. Bagoos Rangin sendiri dapat meloloskan diri. Belum selesai dengan masalah ini, kami harus meninggalkan pulau Java dan mengalihkan perhatiannya ke pulau Sumatra …”

Perjuangan Ki Bagus Rangin melawan pemerintah Kolonial Belanda, tidak bisa dilepaskan dengan perang-perang sebelumnya. Dari beberapa peristiwa perang yang terjadi di Cirebon, ada benang merah yang dapat menghubungkan antara satu perang dengan perang yang lainnya.

Perang yang pertama kali meletus adalah serangan pemerintah Kolonial Belanda yang meluluh lantakan Gua Sunyaragi, sebagaimana diceritakan Jajat Sudrajat.

Gambar mungkin berisi: 1 orang

“Jadi, berawal dari terciumnya aktivitas Pelataran Pande Kemasan yang tujuannya membuat cindra mata bagi mereka yang berkunjung ke Taman Kaputren. Hanya disitu atas kebijakan Sultan Sepuh V membuat tombak, keris, dan anak panah untuk kelengkapan penjaga dan prajurit Kasultanan. Kegiatan ini tercium oleh Belanda dan dianggap akan melakukan perlawanan terhadap kolonial. Akhirnya, tahun 1790 Pelataran Pande Kemasan dihancurkan dan diratakan,” ungkap pegiat arsip Cirebon, Jajat kepada radarcirebon.com, Jumat (7/9).

Berkenaan dengan itu, menurut Jajat, Pangeran Suryanegera bertanggung jawab untuk mengembalikan harga diri dan martabat Kasultanan Cirebon dan menyusun strategi yang dikenal dengan sebutan strategi ketuk tilu. Kemudian, terjadilah perang besar pertama Cirebon di sebuah tempat yang saat ini dinamakan Kebon Panggung.

“Strategi ketuk tilu adalah kesenian Tayuban, para pejabat pemerintah kolonial, antek-anteknya berikut pasukan kolonial diajak joget, dikasih minum, dan setelah mabuk mereka dibantai. Inilah perang pertama Cirebon melawan kolonial Belanda,” imbuh Jajat.

Untuk diketahui, Kebon Panggung berada dibelakang Pasar Balong Kota Cirebon

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

Perang pertama di Kebon Panggung, Cirebon juga diungkap tulisan dari R.A. Opan Safari Hasyim berjudul Perjuangan Ki Bagus Rangin Menentang Kolonial Belanda, 1805-1818, perjuangan Ki Bagus Rangin melawan pemerintah Kolonial Belanda, tidak bisa dilepaskan dengan perang-perang sebelumnya. Dari beberapa peristiwa perang yang terjadi di Cirebon, ada benang merah yang dapat menghubungkan antara satu perang dengan perang yang lainnya. Perang yang pertama kali meletus adalah serangan pemerintah Kolonial Belanda yang meluluh lantakan Gua Sunyaragi, sebagaimana diceritakan oleh Wiryana, dalam upaya mempertahankan tempat ini (Sunyaragi) tidak sedikit prajurit Cirebon yang gugur, bahkan Sultan Matangaji pun ikut menjadi korban keganasan senjata pasukan Belanda, beliau gugur pada tahun 1787M.

Naskah Babad Mertasinga, Perlawanan Sultan Matangaji tidak hanya berakhir di Sunyaragi, namun sang Sultan bersama dengan Pangeran Suryanegara berhasil menyelamatkan diri. Sultan Matangaji pergi ke desa Matangaji untuk menyiapkan perlawanan. Perlawanan Sultan Matangaji dilakukan dengan cara gerilya. Pangeran Suryanegara membalas serangan mendadak Pemerintah Kolonial Belanda di Kampung Kebon Panggung Pasar Balong kota Cirebon pada periode 1786 – 1791. Dengan rombongan kesenian Ketuk Tilu / Tayuban yang dipimpin oleh anak buah Pangeran Suryanegara yang bernama Ki Rabid. Ki Rabid dan anak buahnya menyerang pejabat pemerintah colonial dan pasukannya ketika mereka sedang mabuk menikmati alkohol dan kecantikan penari tayub.

Berikut petikan silsilah dari Ki Bagus Rangin berdasarkan catatan dari R. Kholil Abdulah, R. Achmad Dahlan dan R. Chafid.

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.