Perayaan Keberagaman Gender dan Seksualitas dalam Sastra Perempuan Kita

688
Ole: Nissa Rengganis

SAYA percaya, sastra tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah rekaman dari kepincangan-kepincangan sosial. Ia adalah nukilan tragedi yang tersisa dari carut marutnya perang. Ia adalah keterasingan, keterpinggiran sekaligus semangat perlawanan pada diri dan zamannya. Sastra tidak pernah tercipta dari kekosongan budaya. Ia bercampur aduk dengan apa-apa yang hidup di dalamnya.

Situasi macam ini yang disebut Nadine Godimer sebagai state of being, yakni tak ada keadaan ‘ada” yang murni, tak ada teks yang tidak bersinggungan dengan yang lain. Ia tidak bisa lepas dari konteks. Barangkali, ini pula yang memberi ruh pada sastra hari ini, periode sastra yang saya sebut sebagai era ‘ketelanjangan sastra’.

Sejauh ini, sastra tentu saja telah mengalami sejarah metamorfosis yang panjang. Tidak ajek. Tidak berada dalam sebuah never ending process of becoming. Ia akan terus berkejaran dengan kondisi sosial yang mengikutinya.

Dari periodisasi yang panjang itu, ada yang tak bisa luput dari pengamatan kita, yakni kegairahan sastra (konteks ini: para pengarang perempuan) di era 2000-an. Ada semacam babak baru, terutama dalam kegairahan sastra di era pasca-reformasi. Sebuah zaman yang melahirkan fase perubahan sosial, politik, dan kultural yang menjadi tanda munculnya isu demokratisasi serta keterbukaan ruang sosial, politik, serta kebudayaan. Tak ayal situasi ini turut berpengaruh pada perkembangan sastra di Indonesia.

Jika sebelumnya, sastra berada pada situasi yang represif dan segala gagasan yang bersebrangan akan dianggap subversif. Kini, kita disuguhkan pada fenomena sastra yang lebih vulgar, terus terang, tidak basa-basi, lebih berani, bahkan blak-blakan mendobrak hal yang sebelumnya dianggap ‘tabu’ di masyarakat.

Hal menarik lainnya, pada periode ini beramai-ramai muncul pengarang perempuan yang secara terbuka menggagas persoalan seksualitas. Kita dikejutkan kehadiran penulis-penulis perempuan seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, dll yang jare mengusung gagasan feminisme dalam karya-karya mereka.

Para penulis perempuan yang dilabeli sebagai generasi ‘sastrawangi’, ‘sastra feminis’ hingga ‘generasi sastra biru’ mengadopsi pemikiran kaum feminis mulai dari Irigarai, Cixous, hingga Julia Kristeva. “Write Yourself, Your Body Must be Heard” seakan memberi semangat bagi perempuan untuk melepaskan diri dari kebisuan dan menulis menjadi salah satu cara untuk mengakhiri penindasan—yang mereka tuduhkan sebagai akibat budaya patriarki.

Pada wilayah ini kemudian perempuan mengambil peran di tengah ingar bingar ruang sastra kita. Setelah jauh sebelumnya teks-teks sastra yang diproduksi selama ini sangat maskulin. Setelah lama sekali pemosisian tubuh perempuan ditulis para pengarang laki-laki. Dari kemampatan itu melahirkan gairah para pengarang perempuan untuk menulis ‘tubuhnya’ sendiri.

REVOLUSI SEKSUALITAS MULAI DARI SOAL VIRGINITAS HINGGA LESBIANISME

Dari beberapa silang sengkarut periodisasai sastra di atas, saya menilai kemunculan sastra angkatan 2000-an tidak terlepas dari situasi represif dan pemasungan kreativitas pada rezim Orde Baru—di mana segala yang bersebrangan saat itu dicap pembangkang, subversif. Sastra angkatan 2000-an adalah ide dan tematik yang cenderung lebih vulgar, terus terang, tidak basa-basi, lebih berani, tidak konvensional, bahkan mendobrak hal yang sebelumnya dianggap tabu di masyarakat.

Selain itu, dalam sastra angkatan 2000-an pun muncul genre baru yang disadari pengarang perempuan, dengan label sastra feminis. Jika sebelumnya, ada hantu sastra yang menghadirkan tokoh-tokoh perempuan berada pada ‘pakem’, terjebak di kondisi yang patriarki, yang kini dibunuh pengarang perempuan itu sendiri. Pada babak baru ini, perempuan mulai mengambil alih dengan melakukan sebuah perlawanan atau pemberontakan secara terbuka dengan memunculkan persoalan seksualitas, kekerasan, tubuh, bahkan isu lesbianisme.

Mengadopsi pemikiran Irigarai “When Our Lips Speak Together” di mana terjadi penolakan terhadap pemosisian tubuh perempuan dalam kerangka tubuh serta seksualitas laki-laki yang satu, tunggal, dan terpusat pada penisnya. Irigarai sama halnya dengan Cixous menekankan bahwa perempuan harus melepaskan diri dari kebisuan, dan menulis menjadi salah satu cara untuk memberikan suara bagi seksualitas perempuan dalam obyek seksualitas laki-laki.

Kalimat pendek Cixous yang dikenal “Write Yourself. Your Body Must be Heard” telah memberikan pengaruh terhadap beberapa teks sastra yang diproduksi pengarang perempuan.

Sama halnya dengan Irigarai, Cixous pun menilai bahwa selama ini, terutama pada era strukturalis, bahasa yang digunakan adalah bahasa maskulin. Entah itu Irigarai, Julia Kristeva ataupun Cixous-mereka seakan menunjukkan fenomena sastra Indonesia hari ini. Semacam ada kegelisahan perempuan Indonesia yang tertindas dan terpinggirkan budaya patriarki mendorong mereka untuk ikut serta mengambil peran.

Novel-novel yang hadir dalam angkatan 2000-an dalam sastra Indonesia mempunyai eksplorasi tentang seks yang setara dengan laki-laki. Semisal, eksplorasi Oka Rusmini dalam novel Tarian Bumi menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki imajinasi liar soal seksualitas.

Tokoh Sadri dalam novel Tarian Bumi mempunyai imajinasi yang liar tentang seks dan menggambarkan lelaki sebagai bagian dari sebuah permainan seksualitas. Dalam novel Tarian Bumi, tokoh-tokoh perempuan mulai mengkontruksi penempatan diri dalam seksualitas.

Nayla, tokoh rekaan Djenar Maesa Ayu pun sangat vulgar membicarakan persolaan seks. Ia tengah asyik bermain-main dengan kelaminnya. Nayla, si bisexual seolah menunjukkan adanya perlawanan perempuan dalam seksualitas, yang menempatkan seks sebagai kebutuhan yang sederajat antara perempuan dan laki-laki.

Isu tentang keperawanan pun banyak diangkat dalam novel-novel sastra angkatan 2000-an. Dalam novel Wajah Sebuah Vagina, Nayla, Jendela-Jendela, dan Swastika digambarkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan tentang mitos keperawanan. Soal virginitas atau keperawanan dianggap sangat identik dengan budaya patriarki. Persoalan vagina semakin marak dimunculkan secara terbuka sebagai bentuk kritik terhadap phallosentrisme atau prinsip dalam masyarakat patriarki yang meyakini bahwa phallus atau penis sebagai atribut maskulinitas yang merupakan simbol kekuatan dan menjadi ukuran dalam norma kultural. Tentu ini masih menjadi kontroversi dan perdebatan yang masih menuai kritik.

Jika kita sepakat sastra adalah anak sebuah zaman, maka berbagai persoalan perempuan yang dirunut dari cultural-historis menjadi dasar gagasan tematik yang diusung pengarang perempuan. Maka di sini kita tidak sedang bicara soal moralitas, kepungan baik dan buruk. Jika teks yang diproduksi pengarang perempuan memiliki tren pada seksualitas, ini semacam respons atau upaya memerdekakan diri dari eksploitasi laki-laki terhadap perempuan melalui seks, penindasan laki-laki terhadap perempuan melalui kekerasan, dan penguasaan laki-laki atas perempuan melalui tubuh perempuan. Seksualitas perempuan, yang sebelumnya dianggap tabu dan menjadi ancaman pelecehan, kini dirayakan lewat berbagai cara seperti media film, seni pertunjukan, dan karya sastra.

Lebih jauh dari itu, sastra menjadi ruang yang cukup kondusif untuk mengampanyekan keberagaman gender dan seksualitas. Fenomena seks dan isu lesbianisme menjadi sebuah ruang ekspresi feminis yang menonjol dalam periode Reformasi. Hal ini ditunjukkan dengan lahirnya beberapa novel yang spesifik mengangkat isu lesbian, yaitu: Novel Garis Tepi Seorang Lesbian karya Herlianatiens (2003), Tarian Bumi karya Oka Rusmini (2000), dan novel Gerhana Kembar karya Clara Ng (2007). Dalam ketiga novel yang disebutkan, pengarang (perempuan) dengan berani memunculkan kehidupan kaum lesbian yang ditampilkan dalam novel-novel tersebut.

Novel Garis Tepi Seorang Lesbian terbilang cukup ‘berani’ dan ‘vulgar’ untuk menggugat kultur masyarakatnya. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam novel ini memperjuangkan identitasnya sebagai lesbian. Alur yang dibangun dalam novel GTSL pun memunculkan beberapa persoalan yang dialami tokoh lesbian yaitu Paria dan Rie.

Novel Tarian Bumi juga memunculkan persoalan perempuan yang mengalami ketidakadilan akibat perbedaan kasta yang masih menjadi tradisi masyarakat Bali. Tokoh perempuan Luh Kenten telah berhasil menampilkan rasa cinta dan hasrat seksual yang kuat terhadap sesama perempuan. Bahkan ia mempunyai keinginan kuat untuk memiliki Sekar sebagai kekasihnya.

Gagasan lesbianisme yang dimunculkan dalam novel Gerhana Kembar masih terlihat malu-malu dan belum secara ‘vulgar’ menunjukkan identitasnya sebagai lesbian. Hal itu karena setting yang terdapat dalam novel Gerhana Kembar berada pada tahun 1960-an. Di mana kultur masyarakat saat itu masih sangat tabu untuk menerima keberadaan kaum lesbian. Fola sebagai tokoh lesbian dalam novel tersebut ditunjukkan sebagai tokoh yang pasif karena sebagai lesbian pada akhirnya menyerah dengan kondisi masyarakat tempat ia tinggal.

Isu lesbianisme bagi Clara Ng adalah tema yang sensitif dan malas disentuh para penulis Indonesia, mengingat masih sedikit yang cukup berani menuliskan tema tersebut. Novel Gerhana Kembar telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik dengan tokoh utamanya sebagai pasangan lesbian.

Saya melihat ketiga novel tersebut memiliki kecenderungan dalam mengusung gagasan lesbianisme dengan menunjukkan kehidupan kaum lesbian. Eksistensi kaum lesbian yang ditunjukkan dalam beberapa novel tersebut memberi pandangan kepada masyarakat atas keberadaan kaum lesbian sebagai identitas dan eksistensi baru. Artinya, eksistensi kaum lesbian yang direpresentasikan dalam novel-novel tersebut telah menunjukkan adanya keterbukaan kaum lesbian dengan pilihan coming out, dan lahirnya beberapa komunitas lesbian.

Representasi yang ditampilkan dalam tiga novel tersebut menunjukkan bahwa kaum lesbian mulai menyadari bahwa pilihan sikap in the closet bukanlah sebuah pilihan yang terbaik. Sikap diam dan ketertutupan kaum lesbian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kondisi tersebut mendorong kaum lesbian, baik secara individu maupun kelompok, untuk membuka diri dan mengampanyekan identitasnya pada masyarakat. Pilihan coming out bagi kaum lesbian merupakan tahapan atas perjuangan identitas mereka untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Di Indonesia, perjuangan kaum lesbian untuk memperoleh pengakuan mengalami sejarah yang panjang. Kelompok lesbian di era sebelum Reformasi sudah melakukan berbagai cara untuk mengonsolidasikan beberapa kelompok lesbian. Beberapa organisasi yang lahir saat itu seperti Lambda Indonesia, Perselin, dan Chandra Kirana, cukup aktif mengorganisasikan kaum lesbian. Beberapa organisasi tersebut berhasil menjadi wadah tukar informasi kelompok lesbian di Indonesia. Mereka mulai menyadari bahwa kepentingan mereka harus diperjuangkan dan menjadi bagian dari gerakan perempuan.

Iklim demokrasi di Indonesia memberikan sebuah referensi keberagaman dalam masyarakatnya, salah satunya kehadiran karya sastra yang lebih vulgar. Karya sastra sebagai produk budaya tak hanya memberikan suguhan untuk menghibur, melainkan sebagai media dalam pembentukan pola pikir terhadap wacana yang terdapat di dalamnya serta berfungsi dalam mencitrakan suatu realitas dalam masyarakat. Ini menjadi penting, bagaimana kedewasaan kita untuk merespon isu-isu yang diwacanakan dalam kultur masyarakat yang demokrastis. Maka diperlukan proses dialog dan saling menghargai. Salah satunya dengan tidak tergesa-gesa menghakimi keberadaan kaum lesbian di Indonesia. (*)

Biografi penulis

Selain puisi, Nissa Rengganis juga menulis esai sastra dan politik. Bersama teman-temannya mendirikan dan mengelola Rumah Kertas—rumah sastra yang dihuni anak-anak muda di Cirebon. Saat ini menjadi dosen politik di Universitas Muhammadiyah Cirebon.