Perempuan Uighur Ungkap Penyiksaan di Kamp Pelatihan Paksa Xinjiang

Gulbahar Jelilova mengatakan dia berada di "kamp konsentrasi" China selama lebih dari setahun.

Seorang perempuan Uighur Gulbahar Jelilova mengungkapkan penyiksaan yang ia alami selama di kamp pendidikan.

Sebagaimana dilaporkan ABC pada Selasa (8/1/2018), Uyghur woman details life inside Chinese ‘re-education camp’ in Xinjiang Gulbahar mengaku telah menghabiskan 15 bulan di dalam salah satu kamp.

“Kami ditahan di kamar gelap bersama para tikus-tikus,” katanya kepada ABC. “Terkadang mereka mengikat beban seberat lima kilogram di kaki kami sebagai hukuman. Jika mereka ingin menghukum lebih berat, mereka akan memborgol dan memaksa kami melihat tembok di seberang selama 17 jam,” ceritanya.

Gulbahar berasal dari Kazakhstan. Ia menghabiskan dua dekade terakhirnya dengan menjalani bisnis di perbatasan Cina-Kazakhstan. Pada Mei 2017, Gulbahar ditangkap di kota Urumqi dengan tuduhan melakukan transfer ilegal sebesar 17.000 yuan di perbatasan Cina dan Turki.

“Mereka memberi tahu kami tidak memiliki hak di sana [Xinjiang]. Kami tidak memiliki hak untuk melakukan panggilan telepon. Kami seperti orang mati,” ucapnya.

Kebanyakan orang Uighur yang berada di kamp menyatakan takut berbicara tentang pengalaman mereka. Sebab khawatir jika ada anggota keluarga yang akan ditahan sebagai upaya balasan.

Gulbahar merasa terdorong untuk berbicara mewakili perempuan muda yang saat ini ditahan. Ia dibebaskan setelah keluarganya melakukan lobi. Ia mengaku tidak bisa makan dengan enak ketika memikirkan nasib orang-orang di kamp.

Gulbahar menguraikan bagaimana para wanita dipaksa minum obat-obat yang tidak diketahui dan disuntik untuk diambil sampel darahnya. Jika tahanan bertanya tentang obat apa itu? Mereka akan menghukum karena mengajukan pertanyaan. Perempuan di sana juga tidak mengalami menstruasi bulanan karena diberi obat khusus yang menghentikan menstruasi.

“Tujuan total dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslim,” kata perempuan yang mengaku berat badannya turun hingga 20 kilogram setelah berada di kamp itu.

November lalu, perempuan minoritas Uighur Mihrigul Tursun juga mengungkapkan penyiksaan dan pelecehan yang dialaminya selama berada di salah satu kamp milik pemerintahan Cina di Xinjiang.

“Saya pikir saya lebih baik mati daripada menjalani penyiksaan ini dan memohon mereka untuk membunuh saya,” kata Tursun, dikutip dari AP News.

PBB memperkirakan ada sekitar satu juta etnis minoritas Muslim Uighur ditahan di Xinjiang. Pemerintah cina mengatakan kamp-kamp tersebut merupakan pusat pelatihan bahasa dan kamp pendidikan untuk para ekstrimis. Meski dalam kenyataannya berbeda.