Perjalanan Claudia Emanuela, Orang Cirebon di The Voice of Germany

YUDA SANJAYA, Cirebon

Yud-BOX-Claudia Emanuela (2)
WONG CIREBON: Claudia Emanuela Santoso saat tampil di The Voice of Germany, belum lama ini.FOTO: ANDRE KOLAWSKI/THE VOICE OF GERMANY/RADAR CIREBON

Claudia Emanuela Santoso membawa nama Cirebon di Jerman. Ia menjadi kontestan ajang pencarian bakat The Voice of Germany. Bagaimana kisahnya?

KIRA-kira satu bulan yang lalu. Claudia tengah berada di kamar kos bersama beberapa temannya. Layaknya remaja perempuan, tontonan Drama Korea menjadi pengisi waktu siang itu. Suasana pun mendadak haru. Claudia tak bisa menahan tangis bahagia. Bukan karena Drama Korea What’s Wrong With Secretary Kim. Jebolan ajang pencarian bakat Mamamia itu baru saja menerima telepon dari The Voice of Germany.

Claudia tak menyangka. Niatnya sekadar mengisi waktu di sela persiapan kuliahnya di Jerman membawanya ke petualangan di industri hiburan negeri bavaria. “Kalau misal diterima, ini hadiah dari Tuhan. Kalau nggak, aku anggap mengisi waktu luang aja,” kata Claudia kepada Radar.

Apa yang dijalani Claudia saat ini sesungguhnya bukan kebetulan. Sejak di Indonesia, lulusan SMAK BPK Penabur Cirebon itu memang sudah sering menyaksikan The Voice of Germany. Terutama semasa mengikuti les di Goethe Bandung. “Sama sepupu aku sering nonton di YouTube kalau jalan pulang atau di hotel,” tuturnya.

Keikutsertaan Claudia di The Voice of Germany diawali dari kegagalannya mengikuti tes masuk perguruan tinggi di musim panas semester lalu. Sehingga ia baru boleh mencoba ujian ulang di semester musim dingin. Untuk siswa dari Indonesia yang hendak kuliah di Jerman, memang tidak bisa langsung masuk universitas. Mesti mengikuti Studienkolleg (sekolah penyetaraan). Ini dikarenakan ujian nasional (UN) di Indonesia dianggap belum setara dengan ujian di Jerman yang dinamakan Abitur.

Awalnya Claudia ingin berkuliah di jurusan musik atau food technology. Tapi saat ini ia mempertimbangkan dua jurusan lain yakni company business atau communication science.  Studienkolleg sendiri terdiri dari beberapa kelas yakni, T untuk rumpun teknik, G untuk literatur dan humaniora, W untuk bisnis dan ekonomi, kemudian M untuk kesehatan.

Claudia mengaku sudah ikut tes dan diterima di jurusan W di Kota Kaiserslautern dan G di Kota Berlin. Kemudian sehari berselang dari wawancara, Claudia mengabari saya. Ujian jurusan G di Kota Munchen berhasil dilaluinya. Claudia diterima di München, dia bakal kuliah Communication Science. Inginnya di Ludwig-Maximillians-University Muchen.

Selain berjuang untuk kelanjutan akademiknya, Claudia juga tengah bersaing untuk ajang The Voice of Germany. Di pencarian bakat menyanyi ini, Claudia sudah melewati serangkaian tes. Blind audition terdiri dari banyak tahapan audisi. Gambarannya seperti di ajang serupa Indonesia, di mana ada rangkaian tur di kota-kota. Di Kota Munchen saja, tempat Claudia ikut audisi, ia harus melalui persaingan dengan 1.500-2 ribu peserta.

Dalam tahap ini, dibagi dalam grup berisi 100 orang yang waktu audisinya hanya satu jam. Teknisnya, dibagi dalam empat kelompok. “Nah di situ nyanyi reff lagu pilihan hanya beberapa detik,” katanya.

Dari 25 orang, hanya lolos lima untuk menyanyi di audio booth. Di situ, peserta menyanyi lagu pilihan diiringi play back instrument. Kemudian dipilih dua orang untuk interview. Di sesi itu, peserta ditanya keseharian, kehidupan pribadi dan banyak hal lainnya.

Sementara pengumuman baru disampaikan satu bulan kemudian. Kabar yang ditunggu datang juga. Claudia mendapat telepon dan diberi tahu lolos ke final di Berlin. Di tahap ini, perwakilan semua kota diuji lagi. Di situ Claudia mesti menyanyikan tiga lagu. Claudia memilih Never Enough, The Power of Love, dan Scare to be Lonely. Tiga lagu itu dinyanyikan di hadapan lima juri perwakilan dari Universal, Talpa dan vocal coach The Voice. “Mereka shock karena badan aku kecil. Tapi suaranya besar,” tutur Claudia menceritakan suasana audisinya.

Satu bulan berselang, terjadilah momen Drama Korea itu. “Halo Claudia, kamu maju ke blind audition. Aku nangis sih sama temen-temen aku,” kata Claudia, menceritakan suasana saat mendapat kabar dari Tim The Voice.

Claudia tak menyangka bisa lolos sejauh ini. Mengingat ia mengikuti ajang The Voice di Jerman. Banyak penyanyi yang suaranya bagus dan bertalenta. Apalagi, di Jerman rata-rata siswa sudah dapat pendidikan musik yang lebih dari di Indonesia. Mereka di sekolah dasar sudah ada pelajaran musik dan bermain instrumen. Juga harus menyanyi.

Bagaimana dengan hasil Blind Audition The Voice? Claudia yang membawakan lagu Never Enough dari Loren Allred mendapat respons bagus dari juri. Juga dari coach The Voice di belakang panggung. Wartawan koran ini, juga mendapatkan rilis langsung dari Jochen Enste, Senior PR Berater yang menjelaskan seputar The Voice Germany.

Untuk diketahui The Voice of Germany adalah ajang pencarian bakat untuk para penyanyi di Jerman. Mereka yang lolos blind audition akan mendapat pembinaan langsung dari para coaches yang merupakan musisi andal. Pada sesi The Voice of Germany 2019, coaches yang diundang adalah Alice Merton dan Sido. Selain itu ada Rea Garvey dan Mark Foster.

Blind audition sendiri mulai ditayangkan di jaringan televisi ProSieben pada 12 September dan 15 September di SAT1.Bagaimana kelanjutan Claudia di The Voice of Germany? Nantikan kisah lanjutannya. (*)

Berita Terkait