Pertumbuhan Industri Kawasan Cirebon Timur Serap Banyak Tenaga Kerja

803
DUKUNGAN ENERGI: Nelayan melintas di perairan Cirebon dengan latar belakangan PLTU Unit I Cirebon Power di Kecamatan Astanajapura. Kehadiran pembangkit listrik menjadi salah satu pendukung masuknya investasi di wilayah timur Cirebon. FOTO: ILMI YANFAUNAS/RADAR CIREBON

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Uap (PLTU) Unit I Cirebon Power menjadi pionir pertumbuhan industri di wilayah timur Cirebon (WTC). PLTU unit I dibangun di atas lahan seluas 99 hektare dalam skema Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik Negara dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Proses pendirian PLTU Unit I Cirebon Power dimulai April 2007, pembangunan pertama 2008 dan mulai beroperasi pada Juli 2012. Nilai investasi USD 850 juta.

Cirebon Power melakukan ekspansi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tahap kedua dengan kapasitas lebih besar, yakni 1x1000MW dengan nilai investasi USD 2 miliar. Kelak bisa menambah jumlah pengguna listrik hingga 4,5 juta jiwa.

“Saat ini, seluruh proses perizinan selesai, dan pertengahan tahun 2017 ini akan mulai pembangunan tahap persiapan,” ucap Priseden Director Cirebon Power, Heru Dewanto.

Hadirnya investasi di wilayah timur berdampak pada serapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli masyarakat. Di sisi lain, pesatnya pertumbuhan jumlah industri di kawasan timur Cirebon, juga berimbas pada penyerapan tenaga kerja lokal di wilayah itu.

Kepala Seksi Informasi Pasar Kerja dan Bursa Kerja Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Cirebon, Bishop Ibrahim menyimpulkan, pergerakan industri memberi peluang kerja dan dampak turunan lain. Seperti bergeraknya sektor pendukung yang bisa dimanfaatkan masyarakat lokal.

Hanya saja, untuk pemerintah daerah menjadi pekerjaan rumah. Bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang berkompeten. Sehingga dampak dari kehadiran investasi tersebut bisa lebih dirasakan.

“Di wilayah timur kan kultur pekerjaanya lebih banyak di pertanian, kelautan dan juga tenaga kerja ke luar negeri. Kehadiran investasi di wilayah timur, menjadi gambaran bagaimana kita harusnya mempersiapkan SDM,” tuturnya.

Berdasarkan data, tingkat partisipasi kerja di Kecamatan Karengwareng, kini berada di angka 42,95 persen dan Karangsembung 45,51 persen. Catatan hampir serupa juga terlihat di kecamatan lain.

Kondisi ini jauh lebih baik, meski belum mampu menyaingi kecamatan di wilayah barat. Sebagai gambaran di Kecamatan Plered angka partisipasi kerjanya 69,92 persen dan Kecamatan Weru 69,36 persen.

“Kalau wilayah timur itu, sebenarnya pasar kerja cukup luas. Di sana ada Indofood yang menyerap tenaga kerja ribuan. Kemudian nanti ada PLTU II yang diperkirakan membutuhkan dua ribu tenaga kerja,” katanya.

Peluang ini, kata dia, mesti ditangkap masyarakat di sekitar industri. Apalagi pemerintah sudah mendirikan Balai Latihan Kerja, sebagai langkah nyata mempersiapkan SDM.

“Pola pikir ogah-ogahan, malas ikut latihan, harus diubah. Jangan sampai asal kerja,” tandasnya. (jamal suteja)