Pesan Silaknas ICMI 2018, Pemilu Damai, Cirebon Menjadi Kawasan Ekonomi Kreatif

Trend Hari Ini
Presiden @Jokowi membukaan acara Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Milad ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Mahligai Convention Centre Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL)

Sejumlah tokoh diundang dalam Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) 2018 di Lampung. Presiden Joko Widodo yang belum genap dua pekan kunjungi Lampung, kembali datang ke Bumi Ruwa Jurai. Jokowi memuji keberadaan organisasi Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).

Menurutnya ICMI bukanlah sembarang ormas Islam. Hal itu diasampaikan Jokowi saat menghadiri Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Milad ke-28 ICMI di Mahligai Agung Convention Hall, Universitas Bandar Lampung, Kota Bandar Lampung, Kamis (6/12/2018). Jokowi pun memanjatkan harapan untuk ICMI.

“Saya tahu ICMI adalah ormas yang bukan sembarang ormas. ICMI adalah kumpulannya kalangan cendekiawan muslim yang memegang teguh nilai-nilai keislaman dan sekaligus sebagai cendekiawan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya ICMI adalah tempat berkumpulnya orang-orang hebat,” jelasnya.

Oleh sebab itu, dia mengajak ICMI bersama-sama memikirkan dan memecahkan masalah-masalah bangsa yang berat. Dikatakan Jokowi, masalah berat itu kalau dipecahkan oleh orang-orang yang hebat maka hasilnya juga hebat dan dahsyat.

Sisi lain, kedatangan Jokowi terasa istimewa. Pasalnya, hajatan ICMI dihadiri juga oleh Prabowo Subianto, ia akan menjadi pembicara pada Pleno IV tentang Demokrasi Politik dan Ekonomi yang Adil, Beradab dan Bermartabat.

Silaknas ke-28 ICMI juga menjadi saksi bisu dua calon wakil presiden. Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, berada satu panggung.

Menariknya,  Sandiaga Salahuddin Uno diminta Ketua Umum Ikatan Cendiakiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie menjadi Ketua Korwil ICMI DKI Jakarta. Permintaan yang begitu mendadak itu terjadi ketika Sandi menghadiri acara Silaknas ICMI 2018 di Bandar Lampung, Lampung pada Jumat (7/12/2018) siang.

“Sandiaga Salahuddin Uno, apakah Anda bersedia dilantik juga hari ini menjadi korwil ICMI DKI?” tanya Jimly. Sandi tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum lebar. Namun ketika Jimly bertanya kedua kalinya, Sandi menjawab bersedia dengan catatan.

“Terima Kasih Pak Ketua Umum atas kehormatan ini. Tapi ijinkan saya Ketua non aktif terlebih, nanti ada ketua harian yang melaksanakan fungsi dan menjalankan organisas, saat ini saya masih ada tugas,” ucap Sandi.

“Baiklah Anda bersedia dengan catatan, karena hari ini hari istimewa, Bismillah, saya melantik Sandiaga Uno sebagai Ketua Korwil DKI Jakarta,” titah Jimly yang disambut tepukan membahana dari para peserta Silaknas.

Deretan tokoh-tokoh yang hadir yakni  Ahmad Riza Patria, Joko Widodo, BJ Habibie, Dato’ Seri Anwar Ibrahim, dan Zulkifli Hasan.

Dewan Penasehat ICMI Orwil Lampung, Sugeng P Harianto, menambahkan, ICMI merupakan kumpulan dari para cendekiawan muslim dan dari berbagai ilmu.

“Kami memberikan sumbangan ilmu, itu yang terpenting. Tetapi yang paling penting adalah NKRI itu harga mati,” kata Sugeng, Rabu.

Meski saat ini merupakan tahun politik, Sugeng menegaskan, ICMI tidak berkonsentrasi mengenai agenda politik.

“Kami tidak peduli siapa pun presidennya. Yang penting pembangunan terus berjalan. Kami harus memberikan masukan kepada calon-calon presiden dan presiden yang akan terpilih nantinya. Ini yang harus kami kerjakan,” tegas Sugeng.

Sugeng juga menambahkan, terpilihnya Lampung sebagai tempat Silaknas karena banyak cendekiawan di Bumi Ruwa Jurai yang bisa memberikan sumbangsih saran dan ilmunya bagi pembangunan Indonesia.

“ICMI ini kan banyak cendekiawan, jadi harus memberikan masukan banyak-banyak. Baik itu dari ekonomi, pertanian, kehutanan dan yang paling penting adalah kesempatannya di Lampung. Kenapa di Lampung, karena Lampung juga mampu untuk ikut membangun NKRI, itu yang paling penting,” tandas Sugeng.

Sementara, Ketua MPR-RI Zulkifli Hasan mengatakan, kehadiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Islam (ICMI) dalam tahun politik ini, dapat menjadi pelopor pemilu damai menjelang pesta demokrasi tahun depan. “ICMI jadi pelopor ajak rakyat pemilu damai, pemilu yang menggembirakan, bersahabat. Kompetisi yang penuh persahabatan,” kata Zulkifli Hasan pada Silaknas ICMI di Universita Bandar Lampung, Jumat (7/12).

Menurut dia, pemilu itu salah satu cara agar Indonesia mampu berdaulat dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Pemilu itu sederhana, senang, bahagia, bagus lanjutkan. Jangan kita berkelahi,” kata Zulkifli.

Ia mengatakan peran ICMI sangat ditunggu umat Islam, agar menjadi cahaya dan menemukan pencerahan. Umat Islam punya kesadaran penuh, agar dapat menjadi kekuatan yang besar dalam politik.

Menurut dia, umat Islam bukan dilihat dari ukuran dan jumlah, tapi yang terpenting bisa mengonversi dalam kekuatan politik ekonomi. “Indonesia tak akan maju tanpa umat Islam,” ujarnya.

Mengenai demokrasi nasional yang praktiknyan baru 20 tahun terakhir, dia mengatakan, banyak kemajuan. Ia optimistis dapat berkembang lebih baik lagi, meski masih hanya terbatas di kota-kota besar saja demokrasi berjalan lebih baik.

Menurut dia, perlu peran kita memberikan pendidikan politik kepada masyarakat bukan saja kepada partai politik. Bila parpol sudah milik konglomerat maka akan sulit berkembang dan juga bila menguasai parpol juga berbahaya sekali dalam meruntuhkan demokrasi.

Untuk diketahui, rencana program ICMI dalam Laporan Silaknas ICMI 2018, Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Muhammad najib mengusulkan bahwa Cirebon menjadi Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK).

Dalam catatan radarcirebon.com, bahwa potensi Cirebon sebagai religious heritage tourism mempengaruhi aktivitas pariwisata termasuk sentra religi, budaya dan ekonomi kreatif di Cirebon Industri pariwisata menunjukkan aktifitas modern yang dapat direncanakan, dikontrol dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk di pasar atau market.

Baca: Religion, culture and creative economy: Prospect and development of halal tourism in Cirebon

John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif. Howkins menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997, Amerika Serikat menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai 414 miliar dolar yang menjadikan HKI sebagai barang ekspor nomor satu di Amerika Serikat.

John Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai the creation of value as a result of idea. Dalam sebuah wawancara bersama Donna Ghelfi dari World Intellectual Property Organization (WIPO), Howkins menjelaskan ekonomi kreatif sebagai “kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan.”

United Nations Conference on Trade and Development mendefinisikan ekonomi kreatif “An evolving concept based on creative assets potentially generating economic growth and development.

Department of Culture, Media, and Sport (DCMS) mendefisinikan ekonomi kreatif sebagai Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content.

Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai “Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang terintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.”

(*)